Yuk, Kenalan dengan Ibu Neneng Sumardiah Perempuan Editor Buku Braille

0
59

Oleh: Siti Latipah

[Bandung, 28 Oktober 2019] Buku adalah jendela dunia. Begitu kata pepatah. Apakah pepatah tersebut berlaku untuk teman-teman difabel netra? Sekilas tampak tidak mungkin, karena bukankah kita membaca dengan menggunakan mata atau indra penglihatan? Ya, betul. Membaca tentu saja harus dengan indra penglihatan. Tapi, tunggu dulu. Hadirnya huruf braille menjadi solusi bagi difabel netra. Bentuknya yang berupa titik-titik timbul adalah titik terang di tengah kegelapan. Berkat huruf braille, difabel netra dapat menikmati sajian bacaan, mulai dari novel sampai ensiklopedi, dan beragam buku lainnya.

Di antara ribuan buku braille yang telah berhasil dicetak, terdapat keringat seorang ibu muda yang begitu bersemangat. Namanya Neneng Sumardiah. Ibu muda berdarah sunda ini sudah sejak tahun 2008 mengabdi sebagai aparatur sipil negara di lingkungan Balai Penerbit Braille Indonesia, sebelum berubah nama menjadi Balai Literasi Braille Indonesia. Neneng, begitu dirinya akrab disapa telah menjadi seorang editor buku braille lebih dari 9 tahun.

“Saya menjadi editor buku braille kurang lebih sejak tahun 2010.” tuturnya saat ditemui tim Newsdifabel.com di Jalan Pajajaran, Bandung.

Dirinya mengaku senang dengan pekerjaannya itu. “Dengan menjadi editor, mau enggak mau saya harus baca buku. Mulai buku yang disukai sampai buku yang sama sekali tidak saya sukai.”

“Coba kalau saya bukan editor buku braille, bisa jadi saya enggak akan baca buku, da males.” lanjutnya dengan logat sunda yang sangat kental.

Ibu satu anak itu pun bercerita tentang proses editing buku braille.

“Saya baca hasil ketikan yang baru dicetak. Jika terdapat salah ketik, langsung saya bilang sama pegawai yang bertugas mengetik. Jadi, langsung diperbaiki. Buku yang saya baca atau edit buku yang akan dijadikan master. Artinya, setelah buku itu selesai diedit dan tidak terdapat kesalahan ketik, baru akan diperbanyak. Buku yang dicetak atau dialihhurufkan menjadi braille itu jenisnya banyak. Ada buku fiksi, science, buku-buku pelajaran sekolah, buku motivasi dan lain-lain.” katanya panjang lebar.

Neneng tidak hanya bertugas sebagai editor buku braille saja, sebagai salah seorang dari jajaran tim dewan redaksi, dirinya sering kali harus mengedit bahkan membuat naskah tulisan untuk majalah Gema Braille.

Perempuan yang hobi bernyanyi itu menuturkan suka dukanya menjadi seorang editor buku braille.

“Sukanya, ya, saya bisa baca buku yang saya suka. Terus, saya senang karena dengan buku braille yang dicetak atau dialihhurufkan, banyak teman-teman tunanetra yang lain bisa baca buku juga. Kalau tidak sukanya, saya harus mau membaca buku yang benar-benar tidak saya sukai. Ih, bosen banget kalau udah harus baca buku yang saya enggak suka, tapi ya gimana lagi, da harus dibaca,” ujarnya seraya tersenyum.

“Hm, saya kan baca dengan meraba, nah kalau baca kelamaan itu suka kebas. Dulu, pas awal-awal jadi editor, baca braille baru satu jam, udah kebas. Tapi sekarang, dua jam kuat. Istirahat sebentar, terus lanjut dua jam lebih juga oke.” imbuhnya.

Selain Neneng, ada beberapa editor buku braille yang lain di lingkungan Balai Literasi Braille Indonesia. Semoga buku braille akan terus eksis di tengah-tengah kemajuan teknologi pembaca layar untuk perangkat smart phone dan gawai lainnya.