Wulan Sriwenda: Tubuh yang Menari adalah Presentasi Jiwanya

0
1625

Penulis: Barra

Newsdifabel.com — Tubuh para penari adalah presentasi estetis dari gerak jiwa yang mengembara jauh di kedalaman tubuhnya sendiri. Semakin dalam ia kembara semakin mengenal jengkal demi jengkal tubuh.

Tarian bisa disebut sebagai gerak simbolik, sebab, penari harus bisa menjelaskan tentang dirinya tanpa teks. Di Indonesia, menurut berbagai sumber, memiliki khazanah tari sebanyak 300 jenis. Dalam kerangka antropologis, kekayaan gerak pada sebuah tari bisa menandakan kemajuan perkembangan pemikiran seni di masyarakat.

Sebuah tarian biasanya digelar untuk bermacam alasan, pentas dalam acara formal, kontestasi, pagelaran budaya, upacara adat, hiburan, hingga terapeutik (untuk terapi).

Di Bandung, ada seorang perempuan yang sangat mencintai tari. Ia menjadikan jaipong sebagai tarian yang terpilih untuk digeluti. Wulan, namanya. Wulan Sriwenda. Tinggal di daerah Jalan Ibrahim Adjie. Wulan seorang cerebral palsy yang betul-betul teguh mencintai jaipong. Sebelum wabah membatasi gerak manusia, Wulan aktif menari di ruang-ruang publik, menjadi bintang panggung, diundang untuk pentas di banyak perhelatan, atau di acara budaya.

Wulan Sriwenda

Di bawah asuhan penuh cinta-kasih dari ibunya, Wulan menjengkali tapak demi tapak jalan hidup. Tentu dengan kasih yang kolosal dari seorang ibu. Ibu yang selalu menyajikan cinta-kasih otentik itu bernama Embang. Pada saya, Ibu Embang berkisah bahwa masa pandemi ini berpengaruh bagi Wulan. Dia sama sekali tak ada aktivitas di ruang publik.

“Wulan kini hanya menari di dalam rumah. Sesekali ibu rekam, lalu ibu kirim ke YouTube, Instagram atau ke grup WA. Tapi di masa pandemi ini alhamdulillah-nya bapak pelatih masih setia datang ke rumah untuk latihan bersama Wulan. Selain itu, Wulan juga ikut membantu Ibu memasak tiap hari Jumat. Kami bagi-bagi makanan untuk yang pulang jumatan.”

Perempuan lulusan SMA YPAC Kota Bandung, Jl. Mustang No. 46, Sukawarna ini pernah dijadikan ikon pada sampul Buku Laporan Asesmen dari sebuah lembaga. Konsistensi Wulan dalam tari jaipong membuatnya diundang ke acara-acara bergengsi seperti “Hitam Putih” Trans TV. Juga ketika Wulan diundang Ceu Popong yang dihadiri oleh Gubernur, Walikota, dan petinggi lainnya.

Buku bersampul gambar Wulan

Sebagai penari, Wulan memiliki mimpi sederhana, menjadi guru tari, dan berkolaborasi dengan Sandrina Azzahra, juara I ajang Indonesia Mencari Bakat sesi III.

Jaipong dan Wulan

Dari atas kursi roda, Wulan melenggang, menggerakkan tubuhnya dinakhodai harmoni degung. Ber-sinjang sambil menghela sampur, Wulan mempresentasikan jiwanya dengan tarian. Terkadang, Wulan turun dari kursinya, lantas menari.

Ada semacam orkestrasi jawaban ketika menelusuri tentang etimologi (asal-usul kata) jaipong dan siapa pencetus tariannya. Secara etimologi, kata jaipong bermula dari sebuah onomatope (kata tiruan bunyi) bebunyian kendang pengiring tarian yang digunakan oleh masyarakat Karawang kala itu. Di balik penciptaan jaipong ada nama Gugum Gumbira. Diciptakan sejak tahun 1960 dari hasil kombinasi gerak tari ketuk tilu, ronggeng, dan pencak silat.

Gerak jaipong tergolong rumit, butuh penjiwaan yang kuat untuk menghasilkan tarian. Para penari berbeda-beda dalam mencapai puncak pengalaman batin ketika mengharmonisasi gerakan.

Bagi Wulan, menari tak sekedar hobi. Lebih dari itu, sudah menjadi kebutuhan dalam hidup seolah menari adalah belahan jiwanya. “Ketika latihan, lutut Wulan sakit, telapak kaki lecet, dan berdarah, tapi tidak dirasa. Wulan harus tampil sebaik mungkin.” Wulan berkisah tentang dirinya.

Berlatih menari

Menurut ibunya, dahulu Wulan tak suka jika dilihat oleh orang, seperti takut. Karenanya sang ibu mengarahkan agar Wulan menari saja, agar terbiasa dengan kehadiran orang-orang.

Selain gerak, Wulan sangat menjiwai musiknya. “Karena musik itu indah, dapat menggerakkan tubuh dengan menyerahkan diri pada hentakan demi hentakan musik. Wulan akan terus menari selama masih hidup dan masih sanggup berkarya.” Ia berkisah.

Kisah yang tak sesuai dengan harapan pernah dialami Wulan ketika diundang untuk menari. Pada saya, Wulan bercerita: “Pernah dulu mau diundang menari jaipongan, tapi mamah sedang tak ada uang. Sedangkan menari butuh sewa baju, rias, dan sewa mobil, totalnya tiga ratus ribu rupiah. Lalu mamah meminjam uang dulu ke orang, nanti diganti. Ketika selesai menari, rupanya kami hanya diberi ongkos dua puluh ribu rupiah.”

“Sedih juga, sih, tapi mamah bilang: ‘nggak apa-apa, jangan sedih, rezekinya belum sesuai harapan.”

Wulan tetap bersyukur, masih dikelilingi orang-orang yang baik padanya, terutama keluarga sebagai penopang semangat juangnya.

Baca:

Tentang orang-orang penting dalam hidupnya, ia berucap: “Wulan ingin menyampaikan terima kasih untuk keluarga. Wulan bahagia memiliki keluarga yang sangat mendukung apapun yang Wulan lakukan. Terima kasih untuk Papah yang susah payah dengan keringatnya menyediakan keperluan Wulan. Terima kasih buat Mamah yang selalu jadi pendamping kemanapun kaki melangkah. Mamah selalu siap membantu. Terima kasih buat adik-adik yang telah sangat mengerti Wulan. Wulan sayang kalian semua.”

Menarilah terus, Wulan. Warnai dunia dan hidupmu dengan apa yang ditakdirkan untuk jiwamu. Dengan tarianmu hidup tak lagi statis, abaikan apapun suara sumbang tentang tarian, sebab dengan jalan yang baik, seni adalah keindahan. Dan Tuhan mencintai keindahan.

Wulan dalam pertunjukan

Bagi kaum tasawuf, tarian digunakan sebagai salah satu jalan mencapai Tuhan, dengan iringan musik, sambil bibir tak henti mengucap pujian untuk Tuhan.

Di Kota Konya, Turki, ada satu tarekat bernama Maulawiyah. Mereka melakukan tarian sufi. Menari sangat lama dengan memutar-mutarkan tubuh berlawanan arah jarum jam, melafalkan syair-syair suci. Tangan kanan menengadah ke atas meminta berkah, tangan kiri ke arah tanah dengan telapak tangan terbuka sebagai simbol berbagi berkah.

Orang-orang Amerika dan Eropa menyebut tarian itu dengan sebutan whirling dervishes, darwis yang berputar.

Ya, tarian adalah makanan ruhani dan jiwa, ia akan menyembuhkan luka-luka.