Widyawisata Tunanetra ke Pantai Ujung Genteng

0
325
Foto: www.kemsos.go.id

Oleh: Pandu Galih Prakoso |

[Bandung, 7 September 2018] Di wilayah selatan Jawa Barat terdapat banyak sekali pantai yang begitu indah, salah satunya yaitu Pantai Ujung Genteng. Jaraknya berkisar 180 kilometer dari Kabupaten Sukabumi, tepatnya di Desa Ciracap. Dalam perjalanan yang berkelok-kelok, 215 siswa-siswi tunanetra PSBN Wyata Guna, Bandung, menempuh perjalanan 10 jam menuju pantai bersama para pendamping dalam agenda widyawisata yang dilaksanakan 3 hari sejak 8- 10 Mei 2018.

Alasan mengapa dipilih ke pantai Ujung Genteng karena animo siswa ingin mengunjungi pantai selain Pangandaran yang pernah dikunjungi pada tahun 2015 lalu. ‘Selain widyawisata ke pantai, mencoba pergi ke gunung dan kebun teh juga menyenangkan agar siswa tunanetra bisa lebih dekat ke alam,’ ujar Erna Wati, perempuan kelahiran September 1965 selaku kepala penanggung jawab widyawisata tersebut di sela-sela kesibukannya sebagai Kepala Rehabilitasi Sosial di PSBN Wyata Guna Bandung.

Di sana juga terdapat penangkaran penyu tetapi tidak dapat dilalui oleh bis besar, hanya bisa dilalui oleh mobil kecil maka, rencana untuk ke sana dibatalkan dan hanya bisa menikmati pesona indahnya Pantai Ujung Genteng. Saat sore hari ketika sang mentari mendekati batas cakrawala, banyak pengunjung, baik siswa maupun pendamping yang merupakan staf pegawai PSBN Wyata Guna Bandung, berswafoto menikmati sunset di pantai itu hingga sang mentari pun lenyap di ufuk barat. Tergelincirnya matahari di barat seolah memerintahkan agar kami dan pengunjung lainnya untuk meninggalkan bibir pantai. Dan kami pun kembali ke cottage masing-masing untuk mempersiapkan diri menikmati pentas kreasi dan seni dari siswa-siswi PSBN Wyata Guna tepat jam 20.00 WIB hingga 23.30 WIB.

Pelajaran yang dapat diambil dari widyawisata ini agar siswa tunanetra bisa merasakan alam bebas karena, sebagian penyandang disabilitas tunanetra hanya berdiam diri saja di rumah dan tidak ada dukungan dari pihak keluarga untuk bersosialisasi dengan masyarakat sekitar bahkan, masih ada sebagaian kecil yang menganggapnya sebagai aib, bahkan oleh keluarga.

Dengan widyawisata bagi tunanetra tersebut sebenarnya kita bisa mensyukuri berkah dari Tuhan. Atau setidaknya, pasti muncul pertanyaan: Bagaimana tunanetra bisa menikmati keindahan pantai? Bukankah keindahan adalah kesimpulan yang sebagian besar diserap dari indera pengelihatan? Justru di situlah kekuasaan Tuhan bekerja.

Majalah Scientific American pernah memuat liputan Daniel Goldreich di Journal of Neuroscience. Dalam penelitian itu ditemukan bahwa kemampuan tak terhingga dari otak, salah satunya adalah bisa menyesuaikan dengan apa yang terjadi. Sebagaimana Scientific American menulis bahwa, hasil penelitian ilmiah mengungkap, ketika salah satu indera tidak bisa lagi berfungsi menyampaikan informasi ke otak maka, otak dengan kemampuannya, akan menyesuaikan diri menopang dan mendukung indera yang lain dengan menajamkan fungsi sarafnya seperti indera peraba, penciuman dan pendengaran. Kita tahu bahwa di dalam otak manusia yang rata-rata berukuran 1.350 cm³ memiliki 100 miliar sel otak (neuro) dan sekitar 1 triliun sel pendukungnya (glia) yang membantu kerja neuron.