Ular Sanca di Atap Masjid

0
322

Oleh: Yayat Ruhiyat

[Bandung, 16 Oktober 2020] Di hari Minggu (11/10) lalu sekitar sore hari jam 16.00, warga RW 31 Kelurahan Melong, Kota Cimahi dihebohkan adanya ular raksasa di masjid As-Sakinah. Ular yang ditemukan memiliki panjang sekitar 3,5 meter dengan bobot 30 kg. Cerita awalnya, keberadaan ular ditemukan oleh kurir paket setelah menunaikkan shalat asar. Ia mendengar suara gemertak di atap teras masjid yang kemudian langit-langit eternitnya jatuh. Lalu tampaklah seekor ular dengan jenis piton sedang bergerak. Dengan terkejut dan rasa takut kurir pun lari dan memberitahukan kepada warga sekitar yang sedang berkumpul di warung. Redi dan kawannya yang sedang asik kongko segera menuju masjid untuk memburu ular.

Masjid yang berada tepat di sebelah Sekretariat DPP ITMI, sebagian jemaahnya adalah difabel netra, secara rutin digunakan majelis taklim difabel netra untuk pengajian sabtu (Jitu), dan marbot masjidnya, Mulyana, pun merupakan difabel netra.

Sanca sepanjang 3,5 meter

 

Dengan mengatur posisi dan strategi, Redi bersama kawan-kawan segera menyergap ular tersebut. Redi beraksi untuk menaklukannya dengan sabar dan fokus, kurang-lebih sekitar 30 menit ular bisa dilumpuhkan dalam keadaan hidup. Ular tersebut dicurigai keadaannya di atas plafon, akibat terusir dari habitat asalnya yaitu kebun dan semak belukar yang sekarang sudah banyak pembangunan gedung-gedung dan fasilitas warga.

Warga pun langsung berbondong-bondong datang untuk melihat ular tersebut. Setelah kejadian tersebut, pengurus masjid As-Sakinnah dan warga sekitar mencurigai masih adanya ular- ular yang lain yang berkeliaran mencari tempat untuk melanjutkan hidup dan berkembang biak.

Sanca di plafon masjid

Reptil tersebut merupakan jenis ular piton, bahasa latinnya repicolatus, atau yang biasa warga sebut ular sanca kembang. Reptil ini diperkirakan bisa memiliki panjang hingga belasan meter dan bobot yang sangat berat. Indonesia memiliki lebih dari 6 spesies piton.

Dengan kejadian, kita harapkan warga selalu waspada, namun jauh di atas pemahaman itu, warga harus mengerti bahwa penyebab binatang bisa masuk ke pemukiman disebabkan kerusakan habitatnya karena pembangunan yang tak memiliki nurani ekologi.