Tunarungu dan Musik: Pengalaman Rachel Kolb

0
666
Rachel Kolb sedang presentasi dalam konferensi "Building Self Determination Skills: A Balance Between Enablement and Challenge: Opening Doors Unlocking Potential" di Charlottesville, 2015.

Oleh: Barr

[Bandung, 7 November 2018] Ini cerita tentang seorang bernama Rachel Kolb. Perempuan berambut pirang-panjang ini berasal dari Albuquerque, New Mexico. Rachel adalah lulusan Stanford dan mendapat beasiswa dari Rhodes Scholar Oxford University, saat ini sedang mengejar gelar Ph.D Sastra Inggris di Emory University, Atlanta. Bidang utama minat akademisnya untuk studi doktornya tentang penelitian literatur Amerika abad 19- 20, studi difabel, studi tunarungu, bioetika, budaya visual dan komunikasi, sastra dan sains, dan humaniora medis. Perempuan tunarungu sejak lahir ini bercita-cita menjadi penulis, sarjana, dan advokat yang khusus menangani difabel. Pekerjaannya sering mengeksplorasi topik bahasa, komunikasi, dan konstruksi sosial ketunarunguan dan difabel secara umum. Di waktu luangnya, Rachel suka membaca berbagai buku, menulis, olahraga berkuda, mendaki, traveling, mencoba makanan baru (terutama variasi pedas), dan menghabiskan waktu bersama keluarga dan teman-teman.

Dalam tulisannya di New York Times, Rachel mengatakan, “Ketika saya mendapat implan koklea tujuh tahun lalu, setelah tunarungu total dalam hidup, saya mendengar teman dan kenalan mulai mengajukan beberapa pertanyaan yang sama: Apakah saya pernah mendengar musik? Apakah saya menyukainya? Seperti apa kedengarannya?

Rachel berusia 13 tahun ketika mendapatkan implan koklea yang membuatnya bisa mendengar secara parsial. Selain suara-suara yang diperbesar yang dia terima melalui alat-bantu-dengar, yang terdengar lebih seperti murmur (suara tiupan, berdesing, atau suara serak yang muncul ketika darah bergerak melalui jantung atau pembuluh darah di sekitar jantung ketika didengar melalui stetoskop) yang terdistorsi. “Saya belum pernah mendengar musik. Tapi itu tidak berarti saya tidak musikal. Saya memainkan piano dan gitar, dan saya ingat menikmati nuansa tangan saya memilih tuts piano dalam irama, serta terasa getaran di dada saya yang disebabkan bunyi dari tubuh gitar.”

Selama beberapa tahun, Rachel terobsesi dengan ritme-ritme musik yang merambat bergetar. Bahkan ketika berjalan di blok perumahan, dia mengimajinasikan sedang mengetuk alat musik, dan menghitung langkah kakibak metronom. Satu-dua, satu-dua, satu-dua.

Menonton irama-visual dari getaran air hasil dari tepukan tangan di permukaan air, dan ekspresi bahasa isyarat yang kaya, membuat Rachel terpesona. Tetapi di dunia pendengaran, pengalaman itu sering tidak dihitung sebagai musik. Lalu Rachel menyimpulkan bahwa ketidakmampuannya untuk mendengar musik, setidaknya dalam pandangan orang-orang yang dia kenal, tampaknya tidak terpikirkan.

Begitu Rachel mendapatkan implan koklea, pemancar suara kasar yang membuat tengkoraknya berderak, dan sarafnya berdecit. Rachel mendapati bahwa musik mulai menggetarkan inti sarafnya dengan cara yang tidak dapat dia jelaskan. Irama perkusi yang dalam mengaduk ke saraf otak, melodi biola menusuk dan bergetar di dadanya, dimana itu bertahan lama setelah lagu itu berakhir.

Tak hanya musik, Rachel kini mencoba berdansa. “Bukan karena saya belum pernah berdansa sebelumnya, hanya saja saya merasa malu.” jawabnya.

Dia melanjutkan, “Sekali lagi, implan koklea memberi saya dorongan untuk mencoba. Ketika seorang teman membujuk saya pergi berdansa, untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun, saya menemukan, meskipun tidak dapat disangkal bahwa saya menikmati mendengarkan musik, lagu-lagu favorit saya adalah lagu-lagu yang diperdengarkan dengan ritme yang dalam, yang mengirimkan getaran nada melalui tubuh saya.

Tidak hanya musik yang tertanam di dalam tubuh kita dengan cara didengarkan, musik juga menjadi lebih luar biasa dirasakan dengan getaran yang ditimbulkan oleh rambatan bunyi melalui alat dan udara.

Pernah suatu kali Rachel ditanya oleh temannya, “Kini bisakah kau mendengar musiknya?” Pertanyaan tsb. dijawab dengan apik: “Meskipun sekarang saya bisa, saya pikir pertanyaan ini melenceng. Musik juga luar biasa dan tak bisa dihindari untuk dinikmati secara visual, fisik, taktil, dan, dengan cara ini, menjalin ritme melalui kehidupan kita. Saya sekarang berpikir pertanyaan yang jauh lebih kaya, misal ‘Apa yang kau rasakan dengan musik?'”

Rachel adalah perempuan tunarungu yang bisa masuk dalam Phi Beta Kappa, Sastra Inggris, Universitas Stanford, 2012. Phi Beta Kappa adalah perkumpulan eksklusif bagi mereka yang mendapat gelar kehormatan dalam bidang sains dan seni rupa liberal. Saat ini, perkumpulan yang dianggap paling prestisius di seantero Amerika itu memiliki 284 anggota, dan Rachel ada di dalamnya. Kini dia sedang berjuang menyelesaikan studi Ph.D-nya (Philosophy of Doctor) yang diharapkan bisa rampung musim semi, 2020.