Tunanetra Ujian CPNS

0
251

Oleh: Bayu

[Bandung, 6 November 2018] Problematika mengerjakan tes ujian Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) 2018 di Jawa Barat bagi tunanetra.

Menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil atau PNS masih banyak diminati oleh masyarakat Indonesia. Tentu saja pilihan mereka memiliki ragam alasan berbeda, terbukti dengan begitu membludaknya peminat saat pembukaan tes CPNS tersebut. Begitu pula dengan masyarakat disabilitas, mereka yang percaya diri dengan kopetensinya sering turut ambil bagian dalam meramaikan tes CPNS. 

Masih sempitnya lapangan pekerjaan bagi warga disabilitas menjadi salah satu pertimbangan mereka untuk mengikuti tes CPNS. Alasan sederhanya, tes ini merupakan salah satu lowongan pekerjaan yang bisa diikuti. Di tahun 2018 ini misalkan, tes CPNS yang diselenggarakan oleh pemerintah bisa dikatakan lebih baik dari tahun sebelumnya. Dalam hal penerimaannya saja sudah ada kuota khusus bagi disabilitas yang hendak ikut mendaftarkan diri.

Memang di tahun sebelumnya pun sudah ada kuota yang diberikan untuk disabilitas. Namun, tahun ini kuota khusus bagi disabilitas lebih spesifik lagi dan sesuai dengan latar belakang pendidikan mereka. Seperti, daerah Jawa Barat pada formasi penerimaan untuk guru Sekolah Luar Biasa (SLB) dari 52 para sarjana Pendidikan Luar Biasa atau Pendidikan Khusus yang dibutuhkan 11 kuota di antaranya adalah disabilitas.

Dan pelamar yang mengisi kuota disabilitas tersebut lebih didominasi oleh disabilitas netra atau seseorang yang mengalami hambatan pada penglihatannya. Pendaftaran yang dilakukan juga secara online seperti pada umumnya, yaitu melalui Web SSCN. Namun, Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Jawa Barat berinisiatif membuka layanan khusus bagi pelamar disabilitas dengan menerima mereka secara langsung di kantornya. Layanan tersebut dilakukan untuk membantu para pelamar disabilitas dalam hal pendaftaran. Karena, khususnya bagi pelamar yang mengalami ketunanetraan sedikit kesulitan bila harus melakukan pendaftaran sendiri. Terkadang Web SSCN tersebut sulit diakses mereka.

Layanan pendaftaran secara langsung bagi disabilitas ini dilakukan untuk lebih memudahkan, selain sikap ramah yang diberikan oleh pihak BKD Jawa Barat. Hal ini perlu diapresiasi dan bisa menjadi contoh pada sesama instansi pelayanan publik di pemerintahan propinsi lainya di Indonesia.

Pada saat hari ujian pun pihak BKD Jawa Barat memberikan perhatian dan layanan yang sangat baik, seperti apa yang dituturkan salah satu peserta ujian berinisial AD. Ia menyampaikan, ketika mulai memasuki lokasi ujian di spot Jabar di daerah Arcamanik, pihak BKD Jabar melakukan pendampingan khusus terhadap peserta ujian disabilitas. Dan khususnya pada peserta tunanetra, dari regestrasi hingga membantu ke toilet, kemudian mengantarkan ke ruangan ujian. Semua itu dilakukan oleh pihak BKD Jawa Barat dengan baik. Dari layanan seperti ini pun, membuat pelamar disabilitas merasa optimis, para peserta ujian disabilitas tunanetra siap dalam menghadapi soal-soal ujian.

Namun, berbeda dengan para peserta tunaterta yang mengikuti tes CPNS-nya di hari Minggu (28/10/2018) lalu. Seperti apakah kekecewaan mereka?

Menurut pemaparan AD, ujian dilaksanakan satu ruangan dengan peserta yang bukan disabilitas, waktu ujian 90 menit sama dengan peserta yang bukan disabilitas. Padahal, sebelumnya, waktu ujian bagi peserta tunanetra adalah 120 menit, karena proses pengerjaannya bagi peserta tunanetra dibacakan oleh pendamping dari pihak panitia. Alasan lain, mengapa sebelumnya alokasi waktu ujian bagi tunanetra adalah 120 menit, sebab terdapat soal-soal bergambar dan teks yang tentu membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan dengan peserta yang bukan disabilitas. Tentunya perbedaan alokasi waktu ujian yang diberikan patut dipertanyakan kembali.

Sedangkan menurut peserta tunanetra berinisial BY menuturkan, pembaca yang menjadi pendamping khusus sangat buruk dalam membacakan soal. Selain terburu-buru, banyak kalimat yang tidak jelas saat dibacakan sehingga membuat tidak nyaman. Bahkan karena satu ruangan dengan peserta yang bukan disabilitas, pendamping yang membantu membacakan soal ujian pun sempat mendapat teguran dari pengawas. Suara pendamping  yang dinilai terlalu keras takut mengganggu perserta lainnya.

BY pun menjelaskan, menurut pengalamannya ketika mengikuti tes CPNS di tahun 2014, pihak panitia memberikan layanan sangat baik. Saat melaksanakan ujian ruangan yang diberikan terpisah, pendamping terdiri dari dua orang, yang satu bertugas membacakan dan pendamping satunya lagi mengoprasikan komputer untuk menuliskan jawaban. 2014 silam sudah ada pula ujian CPNS dengan sistem CAT menggunakan komputer.

Akibat permasalahan seperti tadi, banyak peserta ujian disabilitas tunanetra yang tidak selesai mengerjakan soal ujiannya. Ini dialami oleh inisial MG. Ia mengatakan pendamping pembacanya sangat buruk dalam membacakan, nampaknya seperti tidak dipersiapkan dengan baik untuk membantu membacakan soal ujian ditambah waktu yang 90 menit membuat MG banyak menyisakan soal yang belum sempat dikerjakan.

AD sempat menanyakan masalah pelayanan kepada panitia, khususnya durasi waktu yang tadinya 120 menit bagi peserta tunanetra menjadi 90 menit sama dengan peserta yang bukan disabilitas tunanetra. Namun, pihak BKN selaku panitia ujian hanya mengatakan itu sudah keputusan dari pihak BKN.

Layanan yang baik dan setulus hati belum dirasakan sepenuhnya oleh pelamar CPNS yang mendaftar secara langsung di kantor BKD Jawa Barat. Siapa pun yang menjadi  panitia penyelengara tes CPNS yang memang menyediakan kuota bagi disabilitas tunatera, cobalah untuk memejamkan mata satu jam saja. Dalam kondisi terpejam tadi,  kerjakanlah soal ujian tersebut dengan bantuan pendamping yang membacakan soal. Lalu, tanyakan kendala apa saja yang dihadapinya.

Siapa pun kita, bisa berpotensi menjadi calon disabilitas baru. Semoga kejadian ini berhenti sampai pendaftaran CPNS tahun ini, dan pihak terkait berani melakukan evaluasi, perbaikan, dan membebaskan bangsa ini dari diskriminasi.