Tunanetra menjadi Anggota Tim Pansel KPU

0
417
Foto: Agus Fitriadi

Oleh: Latipah

[Bandung, 1 Oktober 2018] Dewasa ini, sudah lumrah seorang difabel tunanetra mengabdi sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di kementerian yang membuka kesempatan bagi teman-teman difabel, meski jumlahnya masih sangat sedikit. Namun, untuk pertama kalinya, ada seorang difabel tunanetra yang memperjuangkan haknya sebagai warga negara Indonesia untuk ikut serta dalam seleksi menjadi anggota tim panitia seleksi (pansel) calon komisioner KPU, lolos setelah bersaing bersama 240 orang lainnya. Dia adalah Suhendar, seorang difabel tunanetra yang juga pegawai Panti Sosial Bina Netra (PSBN) Wyata Guna, Bandung. Memang sudah sejak lama Suhendar aktif menyuarakan hak-hak penyandang difabel dan perjuangannya masih konsisten hingga sekarang. Ada yang berbuah manis, juga ada yang masih pahit. Suhendar dengan mantap membuktikan bahwa seorang difabel pun dapat menjadi anggota tim panitia seleksi calon komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) periode 2018 – 2023.

Dilansir dari kumparan.com, Suhendar menuturkan tujuannya menjadi anggota Tim Panitia Seleksi Calon Komisioner KPU Kota Bandung, Kabupaten Bogor, dan Kota Bogor adalah untuk menegakkan demokrasi bagi kelompok difabel. Karena selama ini, pelaksanaan aturan pemilu yang diputuskan oleh komisioner KPU masih dianggap diskriminatif. ‘Tunanetra atau tunarungu, misal, entah bagaimana caranya mendapatkan iklan layanan dalam bahasa isyarat. Ini, kan, tidak terjadi (sekarang), gitu. Inilah dorongan saya, bahwa minimal keberadaan saya di situ itu, bisa mengubah atau paling tidak menggeser stigma bahwa difabel itu tidak hanya sebagai objek sosial,’ kata Suhendar.

Menurutnya, kelompok difabel ialah subjek yang memiliki tanggung jawab. Apalagi di hadapan hukum ada prinsip equality before the law, artinya kesamaan di muka hukum dalam berbagai hal kehidupan dan penghidupan.

Dirinya menjelaskan proses seleksi menjadi calon anggota tim seleksi komisioner KPU, bahwa tidak ada kendala yang berarti, semuanya berjalan dengan semestinya. Proses pendaftaran secara daring (online) dilakukannya dengan bantuan perangkat lunak (software) pembaca layar (screen reader), sehingga seluruh berkas pendaftaran yang harus diisi dan dikembalikan melalui surat elektronik (email) dapat dilalui dengan mudah.

Masih dikutip dari kumparan.com, Suhendar menuturkan, proses pendaftaran calon anggota Tim Seleksi Calon Komisoner KPU dianggap layak.  

‘Tapi mereka tidak mengantisipasi adanya difabel yang akan mendaftar. Hal itu diketahui saat saya datang ke KPU Pusat untuk dilantik. Mereka kaget, yang datang difabel tunanetra,’ ujar Suhendar.

Suhendar menuturkan juga bahwa, keberhasilan dirinya menjadi anggota Tim Panitia Seleksi Calon Komisioner KPU membuka peluang bahwa difabel lainnya berpeluang mendaftar menjadi komisioner KPU. Suhendar mengatakan, jika minat difabel kurang antusias menjadi komisioner, maka dirinya akan mencari calon komisioner.

Tugas Suhendar berikutnya adalah melakukan seleksi komisioner KPU Kota Bandung, Kabupaten Bogor, dan Kota Bogor tengah berlangsung. Dimulai tanggal 19- 27 September 2018, sudah menerima berkas pendaftaran. Tahapan selanjutnya yaitu 20 September- 2 Oktober 2018 untuk penelitian berkas administrasi. Kemudian 9- 10 Oktober 2018 dilanjutkan dengan tes tulis CAT. Tes psikologi, 11- 15 Oktober 2018, tes kesehatan 22- 26 Oktober 2018. Di tahap akhir ada tes wawancara pada 29 Oktober- 2 November 2018.

Semoga langkah Suhendar menjadi anggota Tim Panitia Seleksi Calon Komisioner KPU mampu membuka mata masyarakat yang masih tertutup terhadap kesetaraan hak dan kemampuan difabel.