Tunanetra Beternak, Kenapa Tidak?

0
184

Oleh: Rido |

[Bandung, 4 September 2018] Agus Sampurna, seorang tunanetra asal Majalengka adalah seorang guru SLB berstatus honorer di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.

Selain berprofesi sebagai guru, Agus merupakan disabilitas netra yang patut mendapatkan acungan jempol, karena keberaniannya berspekulasi terjun di dunia peternakan unggas (burung). Ia menjadi peternak burung sejak 7 bulan terakhir. Terjunnya Agus menjadi peternak tak bisa dilepaskan dari alasan ekonomis apalagi sebagai guru honorer. Negeri ini sudah sejak lama masih belum mau mengangkat derajat guru honorer. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memiliki data jumlah guru honorer tahun pelajaran 2017/2018 didaerah sebesar 155.096 orang, sedangkan jumlah guru PNS sebesar 1.276.220 orang. Dalam suratnya kepada Presiden RI, Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) tertulis bahwa rata-rata penghasilan guru non-PNS pada 2012 sebesar Rp200.000.

Maka wajar jika gelombang protes para guru ini terus berlangsung untuk menuntut kesejahteraan. Komite  usantara Aparatur Sipil Negara, Forum Honorer Kategori 2 dan Persatuan guru Republik Indonesia (PGRI) juga pernah beberapa kali menggelar aksi di hari Pendidikan Nasional 2 Mei. Jumlah mereka ribuan, protes atas kondisi kesejahteraan.

Problem kesejahteraan guru honorer tentunya dirasakan oleh Agus. Sekali lagi, dalam kondisi ini, Agus mengalami double bourden (beban ganda) diskriminasi: sebagai disabilitas dan sebagai honorer. Akhirnya Agus pun mengambil jalan beternak ungags.

Sebagai seorang tunanetra, memelihara unggas/burung tentu saja penuh kendala dan resiko, seperti salah memberi makanan, kesulitan mengidentifikasi mana burung jantan dan betina, dan sebagainya. Namun berkat ketelitian juga ketelatenannya, ia mulai dapat memetik hasil dari jerih payah yang digelutinya itu. Memang, seperti yang kebanyakan orang katakan, upaya tidak pernah mengkhianati hasil.

Koleksi burung unggulan Agus adalah jenis Jalak Bali. Menurut pengakuannya, dari jenis ini ia bisa mendapatkan pundi-pundi jutaan rupiah tiap bulannya. Tentu itu bukan hasil yang mengecewakan, bahkan cukup menggiurkan bagi peternak yang masuk kategori pemula ini.

Kepada kalangan disabilitas ia berpesan, agar kita jangan takut untuk mencoba sesuatu yang baru. Walaupun kita dalam keterbatasan, kita mesti tetap semangat dan pantang menyerah dalam menalani dan memperjuangkan kehidupan ini karena, setengah dari hidup kita adalah harapan, setengahnya lagi imajinasi mencapai harapan.