Tubuhnya Berkisah tentang Getir dan Keindahan 

0
801

Penulis: Annas

Newsdifabel.com — Biasanya siang itu hujan menderas, tubuh bersaput dingin udara, rintik air langit mengibaskan debu bumi. Bau tanah menyembul. Tapi siang ini tak begitu. Awan bening, biru langit, meski mendung mengendap lirih dari celah daun yang mengintip.

Aku seperti pencuri yang mengintai situasi, mencari-cari dimana tempat orang-orang menikmati peluncuran buku puisi. Tak sulit menemukannya, coffee shop berpintu terbuka lebar seperti menyerahkan bangku-bangkunya untuk diduduki.

Botol pencuci tangan berbahan alkohol, tiga bingkai lukisan berbeda ukuran, kalung berukir membentuk seperti wajah, dan sekotak masker diletakkan pada meja sebelah kanan pintu penyambut tamu. Duduklah aku di bangku kosong bermeja cokelat setelah sebelumnya menyapa orang-orang yang kukenal.

Mataku menjelajah, mencari-cari dimana si empu yang jadi bintang acara.

Ketemu! 

Taufik Hidayat alias Opik sedang mendudukkan tubuh kurusnya di kursi tengah yang langsung beradu pandang dengan panggung utama. Kaos berkerah lengan pendek warna abu-abu dengan celana panjang berikatpinggang bersepatu hitam membalut tulang kurusnya dari atas hingga bawah.

Taufik Hidayat

Sebelah kanan panggung ada panggung lebih kecil sebagai tempat pentas musik akustik dan deklamasi puisi. Di situlah nanti Taufik Hidayat, dan tiga kawannya sesama cerebral palsy tampil membaca puisi.

Pemandu acara meraih mik. Hari ini hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2020, acara dibuka, lalu membacarakan ikrar Sumpah Pemuda. Setelahnya, beberapa orang dan grup musik tampil bergantian. Ruang berubah semarak. Musikalisasi puisi, baca puisi, stand up comedy menenggelamkan setengah-berisik perbincangan orang-orang.

Pentas seni usai sementara waktu, dilanjutkan dengan diskusi tentang buku puisi. Tiga kursi dan satu meja yang sedari tadi kosong berdiri tanpa penghuni sudah diisi oleh tiga orang, dua pembicara, satu pemandu acara sekaligus moderator.

Moderator mempersilakan seorang penerbit buku Lukisan Dunia bicara. Orang di balik terbitnya buku puisi Lukisan Dunia karya Taufik Hidyat mulai bertutur tentang proses buku dari penyerahan naskah hingga tercetaknya buku.

Sekitar bulan lalu, Opik datang ke Ultimus setelah 7 tahun dari buku keduanya, membawa naskah puisi buku Lukisan Dunia. Awalnya saya katakan pada Opik bahwa Ultimus sedang menumpuk naskah yang harus diselesaikan. Saya usulkan agar mencoba ke penerbit lain. Namun Opik tetap memilih Ultimus. Saat itu juga, saya salin file dari diska lepas Opik, saya usulkan agar Opik menambahkan pengantar. Dikerjakan dalam seminggu.” pinta Bilven pada Opik.

Para pembicara peluncuran buku Lukisan Dunia

Buku ketiga ada sketsa yang digambar oleh Opik sendiri. Ditambahkan pengantar dari Dodi Kiwari, Kyai Matdon, ditambah ada kesaksian lain dari Djumono dan Dedi Johanes. Saya cetak terbatas karena dana terbatas. Setelah terbit, buku saya serahkan ke Opik. Rupanya Opik berkeliling untuk memberikan dan menjual bukunya hingga sampai ke tangan Dodi Kiwari dan Matdon. Muncul gagasan dari Dodi Kiwari untuk membuat acara peluncuran buku hari ini.

Berikutnya, giliran laki-laki bertopi ala penyair memegang kendali ruang diskusi. Setelah mik diraihnya, bicaralah ia membedah nilai dan makna buku Lukisan Dunia dari paradigma sastra.

Puisinya penuh perenungan dan sunyi, nyaris tak ada kritik, kecuali ia mampu membahasakan kehidupan sehari-hari dengan fasih, bahkan menertawakan dirinya sendiri.” kata Kyai Matdon, sastrawan yang menjadi Rois ‘Am Majelis Sastra Bandung.

Dengan kaos hitam bertuliskan “Botak Bukan Kriminal“, lelaki berkumis itu mengeksplorasi buku puisi Opik. “Dari semuanya, Opik adalah penulis puisi yang jujur dan baik hati, sehingga ia masih punya harapan yang benderang di masa yang akan datang. Seperti dalam larik puisi Di Atas Meja.”

             “Di atas meja kamarku ada lilin yang masih menyala”

Selama acara diskusi berlangsung, di sudut ruang ada pelukis menggeruskan pensilnya di atas kanvas cokelat berukuran satu kali satu meter. Namanya Rosid. Di atas kanvas telah terlihat lima sketsa wajah Taufik Hidayat dengan lima ekspresi yang berlainan.

Diskusi membedah buku puisi ditutup dengan pentas yang melibatkan difabel cerebral palsy. Para talent tampil memukau, suara merdu, dan ekspresi puisi dari para penyair yang membacakan karya Opik.

Sketsa wajah Opik, karya Rosid.

Langit merambat samar kelabu, senja merayap membungkus biru langit, sesekali air jatuh merintik seolah memberi kabar, Aku akan menurunkan hujan.

Tepat jam lima lebih lima menit, acara ditutup. Berakhir dengan seremonial penyerahan buku dari penerbit buku pada Taufik Hidayat, kemudian dari Taufik Hidayat pada Kyai Matdon, dan penyerahan lukisan sketsa dari Rosid pada Taufik Hidayat.

Foto bersama seluruh peserta diskusi menjadi dokumentasi penutup keseluruhan acara. Taufik Hidayat jongkok di tengah tepat di bawah lukisan lima sketsa wajahnya.

Buku puisi Lukisan Dunia ini begitu getir, seolah jalan yang dilalui penulis begitu sukar di bawah pohon-pohon rapat rimba yang tak berjalur. Begitupun dengan intuisi asmara penulis.

Setidaknya, ada pengharapan pada cinta dalam puisinya. Ada sembilan diksi ‘bidadari‘ pada sembilan puisi yang berbeda. Mungkin cinta yang dimaknai penulis bisa pada kekasih atau pada Tuhan meski mengambil simbolisme bidadari sebagai sesuatu yang sublim tak terukur.

Saya jadi teringat kisah Syams Tabrizi, seorang sufi besar dari Persia tentang cinta, yang diceritakan oleh Jalaluddin Rumi. Seorang murid datang padanya untuk belajar tasawuf dan ilmu agama, sang guru bertanya:

Apakah kau pernah jatuh cinta?

Belum.” jawab murid.

Sang guru lalu bicara, “Pergilah, jatuh cintalah, agar jiwamu halus. Setelah itu kembali lagi padaku.

Begitulah, memang cinta menghaluskan hati dan jiwa. Taufik Hidayat seperti sedang mengalami penemuan cinta, pada Tuhan, kekasih, dan persahabatan, membebaskan imajinasi yang dituangkan dalam puisi.

Foto bersama peserta diskusi

Tepat di awal ketika langit berangsur malam, dengan tubuhnya yang mengisahkan getir dan keindahan, Taufik Hidayat sedang merelakan duka masa silam. Menangkap harapan. Menulis buku inspiratif lagi.

Ia akan terus memperindah semesta, melukis dunia dengan kata-kata.

Dengan kata-kata.