Tri Bagio Doktor Difabel Netra di Indonesia

0
726

Penulis: Siti Latipah

Newsdifabel.com — Tiga belas tahun yang indah. Penuh warna, sarat cerita. Penuh warna bukanlah bahasa semata. Tetapi, Tri Bagio kecil benar-benar dapat melihat warna-warni dunia. Mobil merah, baju hijau, sepatu hitam, langit biru, awan putih, dan sejuta warna lainnya yang kini tinggal kenangan. Ya, jadi kenangan. Karena ia harus rela kehilangan keindahan lukisan dunia yang tersaji di depan mata. Tri kehilangan penglihatannya tepat saat remaja yang katanya jauh lebih berwarna. Bayangkan, di iusia remaja awal, tiga belas tahun ia mau tak mau dipaksa takdir menjadi seorang difabel netra. Kedifabelan itu hadiah alam yang Tri peroleh pada saat dirinya bermain bola. Temannya tak sengaja membentur mata Tri dengan begitu kuat. Semesta tak mengizinkan penglihatan anak laki-laki itu kembali.

Saat kehilangan penglihatan di usianya yang baru saja beranjak remaja, Tri serasa berdiri di pondasi rapuh yang siap menjeremuskan seluruh hidupnya ke dalam lumpur isap. Semakin lama semakin dalam. Ia berpikir mungkin tak akan terlihat oleh orang lain. Tri berkecil hati. Orang lain tak akan mau melihatnya. Bahkan, seorang pejalan kaki sekalipun enggan meliriknya. Tri merasa tak berharga. Seperti debu d antara pasir. Miris membayangkannya. Ratusan hari Tri habiskan hanya untuk berdiam diri di rumah.

Renungan panjang laki-laki muda itupun berujung pada keinginan mengubah arah. Tak ingin ia terus berada di tengah-tengah kegelapan yang melingkupinya. Dengan segenap kemauan, keberanian, tekad, dan doa, Tri berkeinginan melangkah mencari pondasi hidup yang lebih kuat. Dia pun berniat melanjutkan pendidikan. Tri belajar baca-tulis braille dan orientasi mobilitas di Sasana Rehabilitasi Penyandang Cacat Netra (SRPCN) Jln. Pendawa Kudus, Jawa tengah.

Bagai menemui jembatan harapan, Tri terus berjalan menapaki perubahan. Ijazah sekolah dasar di SLB A Pemalang pada tahun 1983 adalah tropi kemenangannya taklukan ketakutan. Langkahnya tak berhenti. Rasa haus Tri akan ilmu membuatnya lanjut di SMP SLBN ABC Ciamis. Pendidikan SMP-nya selesai pada tahun 1985. Dirinya semakin lapar akan pendidikkan. Tak hanya itu, kali ini remaja tanggung itu ingin menjajal kemampuan komunikasi, orientasi mobilitas, dan kepercayaandirinya di sebuah sekolah umum (sekolah Inklusif). Rumus kehidupannya menjadi sesuatu yang dapat memotivasi Tri untuk meraihnya.

Rumus kehidupannya adalah kemauan, keberanian, tekad, dan doa. Berkat empat hal tersebut Tri mampu menyelesaikan pendidikan SMA-nya di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Ciamis, Jawa Barat. Semula dirinya bersekolah dengan biaya seadanya. Dan resah gelisah masa SMA-nya bukanlah karena penolakan cinta seorang gadis jelita, tetapi disebabkan biaya sekolahnya yang terus mengganggu pikiran. Namun, Tri yakin mampu melewati keresahan itu. Dan nyata adanya, dimana ada kemauan, di situ ada jalan. Lomba menulis yang Tri ikuti, menghantarkan dirinya menjadi peraih juara I. Hadiah yang ia terima jadi modal pendidikannya hingga selesai. Akhirnya Tri lulus SMA pada tahun 1988.

Tri bernafas lega. Jenjang demi jenjang pendidikan dapat diselesaikannya. Namun, perjalanan pendidikan itu belumlah sampai tujuan. Pintu gerbang universitas yang berat dan kokoh berhasil Tri buka pada tahun 1990. Dirinya dinyatakan lulus Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikkan (IKIP) Bandung (UPI saat ini), Fakultas Ilmu Pendidikan program studi Pendidikan Luar Biasa. Pada bulan Februari tahun 1996, strata 1 dalam genggaman.

Tri Bagio, S.Pd melanjutkan pendidikan pascasarjana IKIP Bandung pada tahun 1996. Program Studi Bimbingan Konseling Anak Berkebutuhan Khusus menjadi pilihannya. Tiga tahun dirinya merenangi lautan ilmu guna meraih gelar magister, Tri selesai bulan April 1999. Di tahun yang sama, kesempurnaan cinta Tri rasakan dari seorang gadis impian. Dirinya menikahi Dewi Kurnia Yuliani. Genap sudah kebahagian hasil keberanian. Syukurnya semakin bertambah dengan kehadiran seorang putri yang mereka beri nama Melinia Ester Liani Yade.

Ilmu yang Tri punya diamalkannya di Sekolah Luar Biasa Negeri A (SLBNA) Kota Bandung sejak tahun 2000 sampai sekarang. Tri lulus tes CPNS dan berhasil menjadi guru PNS di sekolah tersebut. Di sana ia juga dipercaya menjadi koordinator BP dari tahun 2001 sampai dengan 2014.

Saat ini Tri menjabat sebagai wakil kepala sekolah bidang Kerjasama dan Advokasi. Selain itu, ia dipercaya juga sebagai tim bimbingan konseling Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat. Menjadi anggota Bidang Penelitian dan Pengembangan pada Asosiasi Guru Pendidikan Luar Biasa (AGPLB) Propinsi Jawa Barat dari tahun 2014 sampai saat ini. Menjadi Anggota Tim See & Think, penyusun model penempatan, mutasi, promosi, demosi guru SLB Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat. Tahun 2017, gelar doktor mampu diraihnya. Dr. Y. Tri Bagio, M.Pd tercatat di lembar sejarah sebagai doktor difabel netra di Indonesia.

Keindahan dunia tak saja dapat dilihat oleh mata lahir. Kemauan, keberanian, tekad, dan doa adalah kekuatan jiwa yang mempertajam mata batin menikmati indahnya lukisan semesta. Ketegaran, kesabaran, serta ulet telah memaksa alam untuk berbicara bahwa, mata lahir bukan penentu segalanya. Dr. Y. Tri Bagio, M.Pd membuktikannya. Kerapuhan dan ketakutan seorang remaja awal yang kehilangan penglihatan telah menjelma menjadi seorang abdi negara yang setia, tangguh, dan berguna bagi bangsa.