Tongkat Canggih BriCane Terintegrasi Dengan Aplikasi

0
520

Penulis: Delia

Newsdifabel.com — Di tengah suasana pandemi, Syamsi Dhuha Foundation (SDF), sebuah LSM nirlaba peduli difabel netra, pada 18 Februari 2021 memberikan apresiasi bagi 20 difabel netra yang tetap berkarya di bidangnya masing-masing dalam bentuk pemberian tongkat canggih yang diberi nama BriCane (Brilliant Cane). Berawal dari sebuah Lomba Desain Alat Bantu untuk difabel netra yang diadakan SDF tahun 2017, membawa tongkat yang dibuat tim mahasiswa ITB dari Jurusan Desain Produk FSRD dan Elektronika sebagai pemenangnya.

Dalam penyempurnaan alat ini terlibat juga dosen dari Desain Produk Biomedika ITB, kemudian dibuat oleh Hardtmann Mekatroniske, yang terdiri dari alumni ITB jurusan mesin dan elektro. Sejak dipilih sebagai pemenang lomba, awalnya tongkat ini bernama i-Stick, namun dalam prosesnya, selain perubahan bentuk serta fitur yang digunakan, namanya pun berubah menjadi BriCane, hasil penelitian dan pengembangan selama 3 tahun terakhir ini. BriCane senilai total 58 juta ini diberikan kepada 20 difabel netra terpilih dari berbagai daerah seperti Medan, Lombok, Bali, Makassar, Sidoarjo, Magelang, Purwokerto, dan Bandung.

Tongkat yang dapat dilipat menjadi empat bagian ini memiliki gagang pegangan yang berbentuk kotak dan ujung tongkat (tug) seperti buah pir. Tongkat yang cukup ringan ini memiliki mesin pada bagian gagangnya, berisi sensor dan baterai penyimpanan daya yang dapat bertahan dan diisi ulang layaknya gawai masa kini. BriCane bekerja terintegrasi dengan aplikasi, memiliki tombol darurat yang dapat membantu melacak posisi sahabat netra saat butuh bantuan karena disorientasi, tersesat, atau kondisi darurat lainnya.

“Di tengah gempuran masuknya berbagai produk impor, tak mudah memang jika ingin kembangkan kreativitas anak bangsa, mulai dari desain hingga ke produksi. Akan ada kesulitan mulai dari kelangkaan bahan baku hingga tingginya biaya produksi. Namun SDF tetap berusaha kembangkan penelitian dan pengembangan alat bantu difabel netra dengan dukungan para relawan dan donatur untuk tetap bisa berkreasi hasilkan produk dengan muatan lokal. BriCane merupakan tongkat tunanetra kekinian dilengkapi dengan aplikasi, sensor untuk deteksi halangan, tombol darurat untuk dapat melokalisir keberadaan teman netra yang disorientasi atau tersesat, dengan ujung tongkat yang kokoh untuk bertumpu. Tongkat sejenis sudah ada di luar negeri, dengan kisaran harga sekitar 9 juta rupiah. Hadirnya BriCane jadi alternatif bagi difabel netra untuk memperoleh harga yang lebih murah 60–70% dari tongkat impor. Sebanyak 20 unit BriCane pertama ini akan didedikasikan untuk difabel netra terpilih sedangkan 10 unit pertama lainnya untuk penuhi pesanan dari rumah sakit dan klinik.” jelas Dian Syarief (Ketua SDF) yang juga penyandang low vision.

Para penerima SDF BriCane Awards ini memiliki latar belakang yang beragam, seperti pekerja sosial, pengajar, pewirausaha, atlet, terapis, mahasiswa, dan pelajar. Tiga di antaranya adalah Marilyn Lie (Yayasan Dwituna Harapan Baru, Medan) yang juga pengajar anak-anak berkebutuhan khusus yaitu Fitri Nugrahaningrum (Ketua Yayasan Samara Lombok dan Ketua Pertuni NTB) yang juga seorang pewirausaha, dan Popon Siti Latipah (editor media daring, trainer computer for blind, dan ketua komunitas Blind Moms, Bandung).

Pesan dan kesan penerima SDF BriCane Awards datang dari Ardinal Prabowo, “Saya pikir itu hanya imajinasi belaka, ternyata SDF mewujudkannya. Saya sampai se-emosional ini karena saya sangat menantikan hal ini sejak dari 7 tahun yang lalu. Lihat di TV bolak-balik sampai emosi karena hanya untuk uji coba anak mahasiswa.” ungkap pewirausaha yang juga pembuat konten dan ketua Pertuni Banyumas.

“Tongkat ini luar biasa dan sangat bermanfaat bagi saya untuk bermobilisasi dalam beraktivitas di lingkungan yang baru.” ujar Edi Suwanto (founder Edubilitas Bandung). Hal senada juga diungkapkan Iden Wahidin, aktivis mahasiswa berprestasi dari Bandung, “Alat ini luar biasa karena bisa menjawab kesulitan saya dalam bermobilitas.”

Sementara itu kalangan medis juga menyambut baik kehadiran BriCane ini, “Dengan adanya BriCane yang dikembangkan SDF, sahabat netra akan terbantu dan kami sangat mengapresiasinya.” tutur dr. Irayanti (Direktur Utama PMN RSM Cicendo, Bandung).

Hal serupa juga diungkap Dr. dr. Karmelita Satari, “Adanya sensor pada BriCane sangat membantu mobilitas para difabel netra karena dapat membantu deteksi penghalang yang berada sejajar atau lebih tinggi dari tongkat dan yang terpenting bisa bantu lacak posisi sahabat difabel netra saat tersesat.”

“Selain sediakan buku petunjuk, kami juga membuat video tutorial pengunaan BriCane untuk memudahkan difabel netra mengoperasikannya. Saat disorientasi atau tersesat, aplikasi BriCane dilengkapi fitur rekam dan kirim video untuk bantu difabel netra dalam memberikan informasi situasi di sekitarnya. Hasil rekaman video otomatis akan terkirim ke pendamping difabel netra yang datanya telah tersimpan di aplikasi. Teman netra juga dapat memilih respon sensor yang diinginkannya. Bisa getar saja, suara saja atau keduanya. Adapun tim relawan SDF yang mengembangkan BriCane ini berasal dari Prodi Desain Produk dan Biomedika ITB, juga dari alumni ITB yang tergabung di Hardtmann Mekatroniske.” papar Laila Panchasari (Manajer SDF).

Acara yang berlangsung secara daring ini juga menampilkan profil singkat para penerima SDF BriCane Award dengan diwarnai penampilan dari Firsha, salah satu difabel netra penerima SDF BriCane Awards dan Nenden Shintawati (vokalis dan pencipta lagu).

Untuk saat ini BriCane belum diproduksi secara massal, namun jika ingin memesannya kita bisa menghubungi SDF yang berada di Jl. Ir. H. Juanda No. 369 Komp. DDK dengan harga 2,9 juta rupiah per unit. Harapannya, para penerima SDF BriCane Awards dapat lebih mudah beraktivitas dan terbantu mobilitasnya dengan mengunakan BriCane, juga bentuk terima kasih kepada para donatur dan relawan yang telah mendukung hingga BriCane dapat diproduksi. Kedepannya, BriCane dapat lebih banyak lagi digunakan oleh sahabat netra dan terus dikembangkan untuk mengakomodasi kebutuhan mereka.