The Music of Silence: Pemilik Congenital Glaucoma yang Menjadi Bintang Opera Dunia (Resensi Film)

0
446

Oleh: Barra

[Bandung, 3 September 2019] Berdasarkan memoar dari Andrea Bocelli, The Music of Silence merupakan film barat bergenre biografi dan musik yang rilis sejak 2 Februari 2018 di Amerika Serikat. Film apik tersebut disutradarai Michael Radford dengan menggaet beberapa bintang besar seperti Antonio Banderas, Jordi Molla, Toby Sebastian, Luisa Ranieri, Paola Lavini, Alessandro Sperduti, dan lainnya.

Dalam film tersebut, sang sutradara mengungkap kisah penyanyi sopran bernama asli Andrea Bocelli melalui peran panggung bernama Amos Bardi. Dia lahir di sebuah desa kecil di Tuscany. Selama masa kanak-kanak ia didiagnosis glaukoma okular dengan gangguan penglihatan-relatif. Bocah itu menghabiskan tahun-tahun sekolah pertamanya di sebuah institut untuk orang buta, di mana ia mencari ilmu bekerjasama dengan teman-temannya. Bardi tinggal di perkebunan zaitun dan anggur milik orangtuanya yang merupakan keluarga penganut Katolik taat. Sejak anak-anak, Bardi sudah menjadi pemain piano di gereja.

Andrea Bocelli sendiri memang sejak lahir menderita congenital glaucoma pada umur 12 tahun, dan mengalami kebutaan total akibat kecelakaan saat main sepak bola.Tetapi kebutaan tidak menghalangi Bocelli untuk untuk meraih gelar doktor ilmu hukum dan bahkan sempat berpraktik sebagai pengacara. Dengan motivasi dari ibunya, dia meraih gelar doktor ilmu hukum di University of Pisa dengan mempelajari dokumen berhuruf braille. Di waktu siang, ia bekerja sebagai pengacara, malam hari menyanyi di bar, dan tekun berlatih dengan gurunya, Luciano Bettarini.

Dialog puitis

Sepanjang pertengahan film hingga akhir, terutama ketika masa kejatuhan dan kebangkitan, banyak ditemukan dialog puitis, maknanya sangat dalam. Misal, ketika pamannya memberikan dorongan tentang potensi suaranya, dia bicara, “Beryanyilah hingga kau tak bisa mendengar suaramu.”

Sebuah kalimat yang seolah paradoks namun mengandung makna yang dalam. Apalagi diucapkan ketika Amos Bardi putus harapan. Bardi lirih bersuara, “Aku tak mau menjadi orang buta yang mengerjakan pekerjaan sebagaimana orang buta seperti tukang pijat, operator telepon, dan musisi.”

Keindahan pilihan diksi juga terlihat dalam dialog awal ketika Bardi pertama kali mengalami kebutaan. Bardi kecil menangis sejadi-jadinya sambil berkata, “Mama bantu aku, kemana perginya matahari? Aku tak bisa melihatnya.”

Karir Bardi

Bardi mempunyai seorang paman yang tanpa sepengetahuan Bardi, pamannya mendaftarkan Bardi dalam kompetisi vokal sopran ketika Bardi SMA. Ia menang, lalu maju ke tingkat lebih bergengsi. Meski dia gagal sebelum bertanding karena suaranya tiba-tiba serak. Itu fase frustasi kedua dalam hidup Bardi.

Setelah gagal dalam kompetisi, Amos Bardi menjadi penyanyi kafe. Pada suatu ketika, di kafe ada sekeluarga yang merayakan ulang tahun putrinya bernama Elena. Tertarik dengan suara Bardi, akhirnya mereka semakin intim, lalu menjalin hubungan kasih.

Selain menjadi penyanyi kafe, Bardi juga masih mantap dengan mimpinya sebagai seorang pengacara. Karena itulah, Bardi bekerja di kafe sambil kuliah hukum, hingga akhirnya lulus pada bulan Juni 1984.

Nasibnya sebagai penyanyi dan pengacara masih berayun semakin tak pasti ketika Bardi bertemu dengan seorang yang bekerja sebagai tukang setting piano yang mengajak Bardi untuk menemui maestro musik.

Maestro musik tersebut yang membuat Bardi semakin mahir dalam bernyanyi. Pada akhirnya, Bardi mendapat tawaran dari Trani, seorang industrialis musik, untuk berkolaborasi dengan Zucchero, penyanyi rock tenar pada zamannya di Italia. Tawaran kolaborasi itu datang karena Luciano Pavarotti berhalangan duet dengan Zucchero. Namun, setelah datang tawaran itu, Trani tidak memberi konfirmasi ulang pada Bardi hingga dua tahun lamanya. Namun akhirnya, Elena, yang sudah menjadi istri Bardi mendapat telepon dari manajer Zuccero. Hingga pada 3 Mei 1993, Bardi bernyanyi dalam konser besar pertamanya bersama Zucchero.

Berangkatlah Bardi menuju San Remo, pusat para penyanyi opera berkumpul. Sejak itu, karir Bardi sebagai penyanyi opera dikenal se-Italia, hingga menjadi penyanyi opera kaliber dunia.