Terry Pembimbing Asrama

0
218

(Oleh: Latipah)

[Bandung, 7 Desember 2018] Terry Yuliana, seorang ASN di lingkungan Panti Sosial Bina Netra (PSBN) Wyata Guna yang berlokasi di Jln. Pajajaran 52 Bandung sudah 10 tahun menjadi pembimbing asrama Merak. Asrama Merak adalah salah-satu asrama dari beberapa asrama yang dimiliki oleh PSBN Wyata Guna. Di asrama-asrama inilah, PM (Penerima Manfaat, sebutan untuk siswa-siswi yang sedang menempuh pendidikan di PSBN Wyata Guna) bertempat tinggal. Ada 12 PM yang saat ini tinggal di asrama Merak.

Ibu dua anak ini mengaku tidak memiliki hambatan berarti dalam membimbing, mengawasi 12 anak-anak PM yang dibimbingnya. “Karakter 12 anak-anak itu sudah pasti berbeda-beda, itu yang menciptakan suka-duka menjadi pembimbing. Saya coba menyatukan antara keluarga saya, 2 anak saya dan suami serta 12 anak yang ada di asrama, dan efektif. Kami kemudian seperti sudah menjadi satu keluarga.” Demikian jelasnya ketika ditanya bagaimana cara membagi waktu untuk keluarga dan PM. Membangunkan salat subuh, mengawasi anak-anak melaksanakan jadwal piket harian, memastikan mereka makan 3 kali sehari adalah tugas sehari-hari ibu cantik ini. Selain itu, Terry dan 12 anak-anaknya (PM yang tinggal di asramanya) rutin menggelar sejenis pertemuan yang diadakan 1 bulan sekali. Pada pertemuan ini dibahas masalah-masalah internal asrama jika ada.

Hampir semua PM yang ada di asrama Merak adalah PM yang akan segera lulus. Untuk itu, dalam membimbing anak-anaknya, Tarry lebih suka memberikan kepercaayaan penuh dengan tetap mengawasinya. Setiap tahunnya, PM di asrama Merak akan berganti. Terry mengaku sedikit waswas menghadapi anak-anak yang baru akan tinggal di asramanya. Meski demikian, ibu ramah ini bersyukur karena setiap tahunnya dapat beradaptasi dengan cepat tanpa kendala. Hal tersebut karena Terry telah mengenal PM tersebut saat tinggal di asrama lain sebelum pindah ke asramanya.

“Pengalaman yang paling tidak dapat dilupakan selama menjadi pembimbing asrama adalah saat ada seorang anak yang sakit tengah malam. Anak itu muntah-muntah, saya panik. Terlebih saat itu saya baru menjadi pembimbing, jadi belum punya pengalaman banyak. Tapi Alhamdulillah, setelah dibawa ke klinik dan ditangani dokter, semuanya baik-baik saja.” katanya.

Sungguh tugas yang amat berat. Seorang ibu dua anak ini masih harus mengerjakan tugasnya di kantor sebagai staf, menjadi seorang istri, dan ibu bagi keluarganya, serta mengawasi dan melayani 12 anak-anak PM di asramanya. Namun demikian, dengan dedikasi tulusnya, hal yang berat tersebut menjadi ringan. Semoga mahkota kemuliaan senantiasa menyertai seorang Terry Yuliana, dan Terry yang lainnya.