Terobosan Bank of America Bagi Karyawan Difabel

0
665

Penulis: Rossa

Newsdifabel.com – Ada teladan yang baik datang dari dunia perbankan di Amerika tentang pemberdayaan difabel yang bekerja sebagai pegawai bank. Menurut data dari Bank of America, tiga puluh empat persen orang dewasa dengan difabel intelektual bekerja sebagai pegawai penuh. Sekitar 6,5 juta orang Amerika menjadi difabel intelektual, jumlah itu setara dengan 1% s.d. 3% populasi penduduk Amerika.

Program tersebut dijalankan demi mengakomodir representasi difabel dalam dunia perbankan. Pihak Bank of America juga membuat sistem pendukung yaitu membentuk layanan sebagai penopang program. Sistem itu telah berhasil menyerap setidaknya 300 penyandang difabel intelektual.

Selama setahun terakhir, tim telah bekerja untuk menemukan cara kreatif agar pegawai tetap terlibat dan didukung saat mereka menghadapi pandemi.

Kepada Benefitnews.com, Mark Feinour, Direktur Eksekutif Program Layanan mengatakan, “Kami belum siap menghadapi pandemi dan ketika semuanya melanda, perhatian terbesar kami adalah keselamatan pegawai kami.”

Sebagai pemimpin tim, Mark Feinour ditugaskan untuk membimbing pegawainya dalam transisi model bekerja dari rumah. “Bagian dari tantangan kami adalah membuat rekan tim kami memahami mengapa kami membutuhkan mereka untuk berada di rumah,” katanya.

Feinour menyiapkan pelatihan secara personal untuk membuat timnya nyaman dengan teknologi untuk work from home yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya. Dia juga menyelenggarakan program untuk membantu masalah pribadi seperti isi ulang obat dan mendapatkan suntikan dengan aman.

“Kami juga mengumpulkan beberapa resep makanan, menaruhnya di buku masak, membuat hardcopy dan mengirimkannya ke semua orang,” kata Feinour. “Ini tentang mencoba menemukan cara-cara kreatif dimana mereka masih mendapatkan informasi dan juga terlibat dengan sistem kami meski dalam masa karantina di rumah.”

Pandemi telah memengaruhi pegawai difabel secara tidak proporsional. Menurut Biro Statistik Tenaga Kerja, satu dari lima orang difabel telah kehilangan pekerjaan mereka sejak Maret 2020.

Pegawai difabel juga bergulat dengan stereotip yang merusak, termasuk keyakinan bahwa perusahaan dapat menghabiskan terlalu banyak uang untuk mengakomodasi pegawai difabel atau bahwa pegawai difabel tersebut tidak akan dapat melakukan pekerjaan sebaik rekan kerja mereka yang nondifabel.

Stigma itu jelas keliru. Bukan kedifabelannya yang disalahkan, tapi bagaimana memberdayakan situasi yang sudah terberi bagi mereka yang difabel karena tiap manusia memiliki potensi besar jika ditopang oleh dukungan sistem.

Sebagai bank terbesar ketiga di Amerika dalam kepemilikan aset, langkah inklusif ini tentu memiliki dampak postif bagi dunia perbankan, agar menjadi contoh baik bagaimana cara memperlakukan difabel secara setara dan nondiskriminasi.