Tantangan Dai Difabel Netra dalam Berdakwah

0
113

Oleh: Agus Maja

[Purwodadi, 13 September 2020] Indonesia merupakan negara dengan ideologi Pancasila. Setiap warga negara wajib mengakui keberadaan Tuhan, serta menjadi manusia beragama. Negara pun menjamin kepada setiap pemeluk agama dan kepercayaan, untuk menjalankan ibadah dan kepercayaannya masing-masing.

Tulisan ini akan mengangkat kisah proses perjalanan seorang dai difabel netra bernama H. Yudi Yusfar. Menurutnya, ada empat hal yang membuatnya menggeluti dunia dakwah, pertama, seperti yang tertulis di Surat Ali-Imron ayat 104: ‘Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang maruf dan mencegah dari yang munkar, mereka lah orang-orang yang beruntung.’

Kedua, Dakwah itu bisa dilakukan dengan aktivitas diri yang berkualitas. Seperti kualitas iman, kualitas pemikiran, kualitas perbuatan, dan kualitas dalam tatanan berkehidupan. Karena masih banyak orang yang keliru dalam mengintepretasikan agama, terutama berkaitan dengan akidah. Ketiga, memberi pencerahan kepada masyarakat, bahwa setiap umat Islam memiliki kewajiban berdakwah tanpa terkecuali. Sekalipun di antara mereka mempunyai hambatan fisik, karena masih banyak pandangan masyarakat bahwa petugas dakwah hanya mereka saja yang tidak difabel. Keempat, dakwah bisa dilakukan melalui diskusi, dialog, perbuatan, dan sikap yang selaras dengan ajaran Islam, khususnya Allah Swt. dan Rasul-Nya, Muhammad saw.

“Saya memilih jalan dakwah sejak lulus dari pesantren tepatnya tahun 1988. Namun pada tahun itu belum begitu efektif, belum konsisten,” ungkap Yudi.

Ia memaparkan ringkas perjalanan dakwahnya. Tahun 1999 dakwah sudah mulai efektif dan intens dilakukan selaras dengan berdirinya organisasi Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMI). Banyak tempat yang sudah ia datangi, antara lain pulau Jawa, Sumatera, dan Kalimantan.

Tahun 2004, seiring masuknya era-komputerisasi dan internet untuk difabel netra, ia pun mengembangkan dakwah dengan cara menulis artikel yang bernafaskan agama hingga saat ini. Terlebih sekarang dalam kondisi pandemi Covid-19, dakwah dilakukan melalui tulisan dan video performance online.

Disampaikan Yudi, dalam berdakwah pun ada strategi tersendiri. Ia harus berhadapan dengan orang awas atau non difabel maupun difabel. Untuk jamaah non difabel, berpegang pada ilmu dan kebijaksanaan secara visual dan auditorial. Seperti dalam Al-Qur’an Surat An-Naml 125: ‘Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.’

Untuk para jamaah difabel netra, ia cenderung menggunakan metode audio, cerita, dan menanamkan nilai-nilai agama dengan logika yang mudah dipahami, atau relefansi yang berkaitan nyata antara peristiwa dan kejadian nyata dalam lingkungan.

“Seorang dai bukan hanya pandai dalam berdakwah secara oral. Namun, harus bisa menjadi teman curhat atau pendengar, serta dalam keadaan tertentu harus bisa menjadi komandan,” paparnya.

Yudi juga menyadari adanya berbagai tantangan saat ia memilih mengabdikan diri dalam berdakwah, dan menjadi sunatullah dalam kehidupan. Tantangan yang dirasakannya ada dari faktor internal, eksternal, dan kecepatan dalam mengakses informasi bagi para pendakwah difabel netra.

Faktor internal, seperti dari keluarga yang meragukan hingga mempertanyakan cara berpikirnya. Dan Yudi berhasil membuktikan diri saat meraih juara dalam musabaqah tingkat kabupaten. Sejak itulah, keluarga percaya pada kemampuannya.

Faktor eksternal sebagai tantangan penentu yang sampai saat ini masih banyak masyarakat yang memandang sebelah mata kemampuan dirinya dalam berdakwah. Sempat ada protes dari jamaah non difabel saat berdakwah, karena penceramahnya seorang difabel netra. Tidak sedikit yang meragukan keilmuannya. Tapi, dengan membuktikan kapasitas dirinya, masyarakat mulai percaya. Ia pun pernah ditolak saat akan berceramah menjadi khotib dan imam karena kedifabelannya.

Tantangan lain berkaitan dengan kecepatan mendapatkan informasi atau ilmu yang dirasakan sangat sulit, teknologi belum berkembang. Sekarang, asal ada kemauan pasti bisa karena informasi begitu cepat didapatkan.

Yudi Yusfar berpesan kepada para dai difabel netra untuk menguatkan niat dan istikamah dalam menjalankan dakwah.

“Dakwah bagian dari menyampaikan ajaran suci dari Allah Swt. maka ikhlas dan sabarlah serta perkaya terus wawasan, karena dunia semakin berkembang,” pesan Yudi.

Tetap menjaga marwah seorang dai, ramah, berakhlak mulia serta tidak terpengaruh dengan ambisi duniawi. Menjalin ukhuwah antar sesama dai, dan masyarakat non difabel.

“Hormati para dai difabel. Kekurangan fisik bagian dari sunatullah, muliakan mereka sebagaimana menghormati ulama.” pungkasnya.