Suatu Saat Saya Harus Lebih dari Orang-orang yang Menghina Saya

0
696

Penulis: Sutinah

Newsdifabel.com – Kesulitan, jika diukur dengan perasaan, maka ia jatuh pada relativitas. Sebagai sesuatu yang relatif, tak bisa ditakar atau disepadankan dengan pengalaman orang lain. Namun jika kesulitan bisa dikuantifikasi, ukurannya ada pada hal-hal yang konkret, bukan abstrak.

Saya difabel daksa, saat ini sedang menempuh pendidikan magister jurusan Teknik Kimia di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Dan inilah autobiografi saya.

Sepanjang pengalaman saya menghidupi kehidupan sampai ketika bisa merasakan kuliah, saya butuh waktu 10 tahun. Perjuangan yang saya tapaki begitu terjal, bisa dikatakan sampai titik darah penghabisan. Rezeki kita memang tak ada yang tahu kapan tiba, tapi berhenti berusaha adalah suatu kesalahan.

Ketika saya duduk di bangku sekolah dasar, perundungan datang tak hirau waktu, hampir sepanjang sekolah di situ. Bersyukur, saya belum menyerah, sambil berkata dengan keteguhan jiwa, “Suatu saat saya harus lebih dari orang-orang yang menghina saya ini.” Jadi, ketika perundungan datang lagi, hati telah membaja, saya jadikan semacam pematik semangat.

Pada titik tertentu babak hidup saya, dua tahun saya berhenti sekolah karena operasi kaki. Dan berakhir gagal. Menyerahkan saya?

Belum.

Saya tetap minta orangtua mengantarkan saya kembali ke sekolah. Dan saya juga terpaksa harus tinggal kelas, kembali mengulang di kelas yang dulu saya tinggalkan sebelum operasi. Saya bersekolah menggunakan kursi roda, perundungan masih terus berlanjut.

Baca: Jangan Lelah Mengabdi Demi Meraih Mimpi

Ketika masuk SMP, perundungan pada diri saya berkurang, tapi beralih dengan ejekan karena orang tua saya miskin. Saat itu saya masuk sekolah paling fovorit di daerah tempat saya tinggal. Perundungan di sekolah mulai hilang sejak masuk SMA.

Masuklah saya di babak berikutnya: dunia perkuliahan.

Ini adalah babak terberat sebab ketika itu orang tua hanya bisa membiayai SPP kuliah, untuk biaya kehidupan sehari-hari saya harus menanggung sendiri. Jadi, tiap Sabtu dan Minggu saya mengajar les privat di dekat rumah untuk biaya hidup sehari-hari kuliah.

Selama kuliah, saya mati-matian belajar, berharap bisa melebihi orang yang mengejek saya dulu. Alhamdulillah, di semester lima saya mendapat beasiswa untuk pembayaran kuliah.

Saat masuk dunia kerja, perjuangan lebih terasa sulit dan membutuhkan kesungguhan hebat. Setelah lulus kuliah, saya masuk di perusahaan swasta, bertahan hanya selama enam bulan karena beratnya pekerjaan dan secara sosial muncul jurang kesenjangan.

Tak bertahan lama, saya melamar pekerjaan kedua. Diterima kerja di perusahaan sebagai buruh pabrik. Di sela-sela bekerja saya mulai belajar bahasa Inggris dengan les untuk bisa ikut program beasiswa baik di dalam maupun luar negeri.

Mimpi itu belum bisa berjalan baik karena takdir memegang kendali penuh dalam hidup. Saya mendapat kabar bahwa adik saya meninggal dunia, kondisi itu membuat saya harus merawat ibu di rumah karena syok mendapati kenyataan anaknya meninggal. Mimpi mengejar beasiswa saya tunda. Pernah juga saya mendaftar CPNS namun tak bisa diterima hanya karena saya difabel. Ketika itu, belum ada jalur khusus untuk difabel. Sempat terpuruk jatuh karena merasa tak berguna. Setelahnya, dua tahun mencari kerja tak pernah masuk kualifikasi.

Namun, “menyerah” belum masuk dalam kamus hidup saya. Karena itu, saya sangat bersyukur masih diberi kekuatan oleh Tuhan. Saya terus berusaha, kembali mengajar les privat untuk memenuhi kebutuhan hidup, dan membantu orang tua sambil berjualan nasi uduk di pinggir jalan. Kali ini, perundungan datang dari tetangga: “Sarjana kok jualan nasi uduk.” kata mereka. Awalnya malu, tapi saya terus menjalaninya demi kebutuhan keluarga, dan biaya kuliah adik saya yang satunya.

Baca:

Kembali bersyukur karena dengan jualan nasi uduk, saya bisa mengantarkan adik lulus sarjana.

Setelah perjuangan jatuh-bangun, alhamdulillah pertama kalinya di 2016 saya mendapatkan beasiswa pelatihan singkat di Australia tahun 2017. Saya mendapatkan beasiswa pelatihan bahasa Inggris di Lombok untuk difabel.

Upaya untuk mendapatkan pekerjaan saya kejar lagi dengan melamar menjadi guru honorer. Gaji pertama saya sebagai honorer adalah tiga ratus lima puluh ribu rupiah. Secara logis, nominal itu belum cukup untuk hidup sendiri maka saya bersama adik bergandengan tangan agar bisa menghidupi sekeluarga.

Sebagai honorer berupah minimal, toh saya tetap menjalani dengan tekun. Mengajar datang lebih pagi dari jadwal, penuh semangat. Setelah tahun-tahun berikutnya, saya diberi amanah mengajar pelajaran lain dan menjadi walikelas. Saya mulai membuka lagi kotak harapan untuk melanjutkan kuliah ke jenjang magister.

Saya mendaftar beasiswa ke Australia selama dua tahun tapi selalu gagal, akhirnya di perjuangan terakhir, saya mendapat beasiswa magister untuk dalam negeri. Harapan itu harus diambil meski saya harus mengundurkan diri sebagai guru honorer. Hal paling menyedihkan adalah berpisah dengan murid-murid. Mereka tak sekedar anak didik, lebih dari itu, mereka adalah keluarga saya, anak-anak saya.

Kini, saya sudah berkuliah di Universitas Gadjah Mada, dan sedang menempuh ilmu Teknik Kimia. Tentu perjuangan tak boleh berhenti. Di sini saya berjuang untuk belajar lebih takzim lagi sebab mata kuliah dasarnya sudah saya tinggalkan selama sembilan tahun lalu.

Dalam tulisan ini, saya hanya ingin membagi kisah saja, tak ada tujuan lain. Dengan membagi kisah ini, semoga bisa jadi penyemangat bagi semua. Benar, kesuksesan pada apapun, membutuhkan perjuangan dan pengorbanan besar. Dalam level tertentu, terkadang pilihan yang tersedia hanya hitam dan putih, tak ada area abu-abu. Termasuk ketika harus memilih suatu pekerjaan ataupun mimpi yang lain.

Kesempatan dan rezeki kita akan datang di saat yang tak terduga. Sebab, kita dikendalikan oleh dua hal: ikhtiar dan takdir.