Spektrum Suara di Atas Kursi Roda

0
142

Oleh: Sri Hartanti

[Bandung, 3 September 2020] Malang melintang sebagai narasumber tetap sebuah program Suara Difabel di Radio Republik Indonesia – RRI Pro 1 Bandung yang hadir setiap Sabtu pagi, Djumono bertekad terus menyosialisasikan isu difabel melalui gelombang suara. Cita-cita besar tersebut masih tetap bergaung hingga sekarang dari sejak tahun 2009 silam.

Memperoleh kesempatan untuk mengikuti siaran dengan bahasan anak difabel oleh lembaga perlindungan anak Jawa Barat di tahun 2007, menjadi awal mula Djumono terjun ke ranah radio sebagai narasumber yang khusus menginformasikan semua hal yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat difabel.

Kejeliannya melihat akses cepat untuk memberikan edukasi publik kepada para pendengar RRI Bandung, membuahkan hasil sebagai sambung tangan suara masyarakat difabel dengan berbagai pihak termasuk jajaran pemerintahan. Sehingga, peluang informasi yang disebarkan tentang persoalan-persoalan difabel menjadi luas jangkauannya, dan lebih mudah didengarkan oleh banyak pihak.

“Ditawari oleh pihak RRI dan lembaga perlindungan anak untuk acara Suara Difabel hingga sekarang membawa kesan tersendiri. Saat itu saya hanya melihat peluang melalui siaran radio, bisa banyak sekali yang dapat diinformasikan pada masyarakat tentang hak-hak difabel yang hingga saat itu masih sangat kurang tersampaikan,” tutur Djumono.

Ungkapannya yang mengatakan belajar secara otodidak untuk menjadi narasumber mungkin sulit dipercaya. Bukan tanpa sebab, pria paruhbaya yang menggunakan kursi roda ini tetap memiliki suara khas. Belajar dari banyak pengalaman dan jam terbang mengikuti siaran secara rutin, diakuinya semakin mengasah kemampuan beraudio secara natural. Bahkan, dalam program acara yang dipegangnya tersebut, ia juga mengajak setiap organisasi difabel untuk berkesempatan menjadi narasumber.

Tidak hanya itu, individu difabel, pihak kedinasan, pemerintahan, hingga anggota dewan terkait pun sering berkolaborasi. Semua bermuara pada satu nada Suara Difabel dari berbagai perspektif.
“Respon masyarakat terhadap acara banyak juga, melalui telpon atau pesan singkat dari nomor khusus pihak RRI.

Persoalan-persoalan yang dihadapi difabel juga banyak yang mulai bisa ditindaklanjuti, baik secara kelembagaan atau perorangan. Intinya bisa terjembatani melalui program tersebut,” papar Djumono.

Sedikit mengenang diawal merintis program Suara Difabel, hambatan besar saat siaran sangat dirasakan adalah aksesibilitas. Saat itu studio yang digunakan masih berlokasi di belakang dan ada undakan tangga, sehingga kursi roda yang digunaknya tidak dapat masuk ke studio. Selain faktor aksesibilitas, dari sisi narasumber pun juga masih sulit. Kondisi ini dipicu oleh kurangnya informasi dan edukasi terkait keberadaan difabel dan kepedulian lingkungan yang mengetahui adanya individu difabel.

“Sekarang lokasi studio sudah akses. Dari mulai parkir untuk motor roda tiga, masuk ke gedung, hingga ke dalam studio sudah akses bagi pengguna kursi roda atau alat bantu lainnya. Dan banyak narasumber yang justru bersedia mengisi program tersebut. Terutama dari komunitas difabel, mereka bisa sharing dengan pemerintah, organisasi atau bahkan mereka yang akan mensosilaisasikan kegiatannya bisa disampaikan di RRI dalam program Suara Difabel,” jelasnya.

Djomono juga memaparkan, dengan adanya program Suara Difabel tersebut, misi utama yang dibawa adalah ingin agar masyarakat mengetahui hak-hak difabel. Sehingga, masyarakat akan semakin paham, akan semakin peduli terhadap hak difabel yang harus sudah diimplementasikan di lingkungkan. Sebelum terbentuk dan disahkannya Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, sebagai patokan siaran sejak lahirnya program Suara Difabel adalah undang-undang yang sebelumnya.

Kesuksesan program yang diusung RRI tersebut, diawal berdiri 2009 sempat ada keraguan bahkan dari pihak RRI Bandung sendiri. Lambat laun seiring waktu, RRI memberikan kepercayaan penuh terhadap para difabel untuk ikut dalam program tersebut hingga banyak difabel yang bersedia ikut siaran sebagai narasumber. Selain itu, juga menjadi satu bahan tugas kampus terkait materi isu difabel dari banyak perguruan tinggi. Kondisi ini yang selanjutnya menjadi tanggapan positif dari pihak RRI dan lingkungannya.

“Semoga masyarakat semakin bisa menerima difabel, memberi peluang dalam kesetaraan diberbagai bidang. Tidak lagi mengabaikan difabel, baik di lingkup terkecil hingga teratas terutama tentang hak-haknya,” pungkas Djomono.

Tidak lupa Djumono juga berpesan untuk para difabel, selama masih diberi peluang dalam menjalani kehidupan, semoga semakin memberi manfaat dengan mengisi hidup agar selalu memberi arti dan berguna untuk orang banyak dengan segala keterbatasan yang dimilikinya.