Siswa-Siswi Difabel Netra SLBN A Citeureup Belajar Menulis

0
400

Oleh: Bayu

[Cimahi, 28 Juli 2019] Beberapa orang tidak akan hilang dari sejarah karena tulisannya. Sebagian besar lagi karena kebaikan perbuatannya. Namun yang pasti, tiap manusia bisa memilih sejarahnya masing-masing. Mau seperti apa sejarah menuliskan keberadaan kita, itu tergantung dari apa yang kita perbuat sekarang. Karena masa depan adalah sekarang. Dan menulis adalah pekerjaan untuk keabadian. Karena sejarah masih memungkinkan mengenang tulisan kita bahkan setelah mati.

Dalam sebuah novel karya Pramoedya Ananta Toer berjudul Bumi Manusia, di situ digambarkan bahwa menulis sangat berguna bagi sejarah.

Dalam percakapannya, tokoh Mama dalam novel itu memberi nasihat pada Minke: “Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.”

Dengan menulis, kita tidak akan padam ditelan sejarah. Sehingga, aktivitas menulis penting disuarakan untuk semua. Akan lebih baik jika dianjurkan sejak dini. Selain itu, tulisan juga berfungsi sebagai ekspresi pikiran. Tak jarang, perubahan sosial juga sering didorong oleh tulisan-tulisan para jurnalis dan akademisi.

Untaian kata tak ubahnya seperti air mengalir. Arusnya dapat menghanyutkan, riaknya mampu melenakan. Kata-kata pun sering menjadi sarana untuk menggambarkan rasa, memberikan informasi, melahirkan motivasi dan inspirasi. Karena itu, saya menyukai jika ada anak usia dini belajar menulis.

Kali ini, Newsdifabel akan menyajikan hidangan tulisan hasil karya siswa-siswi kelas XI SLBN A Citeureup, Cimahi.

Namanya Ratna Ayu Dewi. Biasanya, penulis akan kebingungan mengenai konten. Cara mudah menentukan konten adalah menuliskan pengalaman sendiri. Seperti yang dituliskan Ratna berikut:

“Bukit. Ya, bukit. Saya pernah bermain ke bukit. Sebuah tempat yang sejuk dan nyaman. Meskipun mata ini tidak mampu melihat ukiran dahsyat Sang Pemahat Alam, namun suasananya dapat dirasakan. Sinar matahari paginya menghangatkan badan. Bau tumbuhannya menjadi aroma terapi gratis yang menenangkan. Bebatuan, rerumputan, pemandangan alam terlukis indah dari setiap kata-kata yang terucap dari keluarga yang menggambarkannya untukku. Ah, sungguh pengalaman yang menyenangkan.”

Setelah menuliskan salah satu pengalaman, selanjutnya harus diperbaiki tanda baca dan penulisannya. Siapa tahu ada yang tipo.

Berikutnya, kita simak tulisan M. Dafa Alayubi yang menulis pengalamannya menikmati suguhan alam dengan dimediasi oleh tutur dari keluarganya yang turut serta;

“Saya berjalan-jalan ke gunung. Dengan bantuan dari keluarga yang bercerita tentang apa yang mereka lihat, saya merasakan menikmati keindahan gunung. Sejuk, tenang, tidak ada kebisingan. Saya raba pohon yang berdiri kokoh. Kulitnya yang kasar dan kadang terasa sedikit lembab. Daun-daun yang menjulur, berbeda bentuk, berbeda tekstur. Bunga-bunga, kicauan burung, suara hewan kecil yang nyaring. Bebatuan yang besar dengan gerigi yang tajam dan kadang berlubang. Lumut yang terhampar seperti karpet. Air dingin, terdengar gemericiknya. Lelah mendaki, tapi seru, dan menyenangkan. Terbayar dengan pengalaman yang menyenangkan.”

Tentu kita semua pernah menulis, biarpun hanya sepanjang status Facebook, atau caption di Instagram. Namun, di beranda media sosial, jumlah karakter tulisan sangat terbatas. Oleh sebagian orang yang suka menulis panjang, mereka memanfaatkan domain gratisan seperti blogspot.com, medium.com, wordpress.com, dll.

Di dunia maya, tulisan-tulisan pengalaman pribadi penulis sangat bervariasi. Dari soal politik, ekonomi, kebudayaan, religi, atau pengalaman keseharian, bahkan semacam tutorial seperti yang dituliskan Yuni, seorang difabel;

“Seorang tunanetra bisa juga, lho, menanam tanaman hidroponik. Caranya sama dengan yang biasa dilakukan oleh non difabel netra. Potong botol bekas menjadi dua bagian. Lubangi tutup botol. Gabungkan kedua bagian botol. Caranya adalah dengan membalik bagian moncong botol menghadap ke bawah. Pasang sumbu kompor atau kain flanel pada lubang pada tutup botol, pastikan sumbu atau kain bisa menyerap air nutrisi. Tanam bibit tanaman pada bagian atas botol dengan tanah secukupnya. Isi bagian botol bawah dengan air nutrisi.”

Harus potong-memotong? Difabel netra bisa, gitu? Oh, tentu bisa. Dengan pelajaran ADL (Activity Daily Living) seorang difabel netra sangat mungkin mampu melakukan kegiatan keseharian seperti memotong, menggunting, mengikat, merekatkan, bahkan mengerjakan pekerjaan rumah tangga, hingga berhidroponik.

Chairunisa menulis tentang pengalamannya selama liburan panjang. Bagi gadis kelahiran Medan tersebut, liburan adalah waktu yang ditunggu-tunggu. Bagaimana tidak? Sepanjang tahun ajaran, dia harus berpisah dengan keluarga tercinta demi menuntut ilmu di seberang pulau nun jauh di Cimahi, Jawa Barat.

Tiap tulisan, dengan teknik yang bagus, bisa saja berayun-ayun dalam pikiran pembaca seolah-olah pembaca sedang mengalami apa yang diceritakan penulis. Seperti Chairunisa yang mencoba menuliskan kisah rindunya pada keluarga yang lama tidak bertemu, dan dipisahkan lautan. Tentu kisah pertemuan itu sangat mengharukan bagi Chairunisa;

“Saya berlibur selama kurang-lebih dua bulan di Medan. Berjalan-jalan bersama keluarga ke tempat rekreasi, menikmati makanan yang dimasak Ibu. Bercanda bersama anggota keluarga menjadi aktivitas selama berlibur. Pernah satu waktu, saya dan keluarga pergi ke tempat nenek. Kami terjebak macet begitu lama sekali. Saudara-saudara saya yang non difabel asik bermain gim untuk mengusir rasa bosan, sedangkan saya menghabiskan waktu dengan mendengarkan musik. Kadang saya membaca koleksi novel yang saya punya di handphone. Dengan bantuan screen reader, saya bisa mengakses telefon pintar ini secara mandiri.”

Dalam berbagi pengalaman dengan tulisan, juga dilakukan Siti Opin Novilah, sekaligus sebagai ajang latihan menulis. Siti menuliskan potongan kisahnya sebagai berikut:

“Saya ingin sedikit berbagi pengalaman tentang metode tutor sebaya. Saat ini saya bersekolah di SLBN A Kelas XI, Citeureup, Cimahi. Saya masih ingat, ketika bersekolah di salah satu SMP swasta di daerah Tasikmalaya. Saat itu saya masih duduk di kelas VIII. Saya diminta turut serta dalam kegiatan tutor sebaya. Tutor sebaya dapat diartikan sebagai sistem belajar dan mengajar melalui interaksi sebaya. Tutor sebaya ini dilaksanakan guna membantu guru kelas yang sedang mengadakan penelitian kelas. Hampir setahun kegiatan ini berlangsung. Saya dipercaya untuk membimbing adik-adik kelas yang memiliki hambatan belajar terutama dalam keterampilan membaca dan menulis. Dengan metode tutor sebaya ini, adik-adik yang berkesulitan belajar membaca dan menulis dapat ditangani dan berhasil menguasai materi yang diberkan. Dengan ketekunan dan kerjasama, akhirnya adik-adik kelas pun akhirnya dapat membaca dan menulis.”

Dea Amelia, salah satu pelajar SLBN A, pun tak mau kalah dengan teman lainnya. Tentu ini bagus, semangat berkompetisi untuk kebaikan. Kutipan tulisan Dea berikut ini berkisah tentang masak-memasak;

“Saya seorang difabel netra. Saya suka sekali memasak. Tetapi, saya masih belum yakin masakan saya enak atau tidak. Saya harus lebih banyak berlatih. Bebagi ilmu dan pengalaman tentang masak-memasak dengan senior saya sesama difabel netra dan dengan teman-teman non difabel juga.”

Ada lagi siswa laki-laki penuh semangat satu ini. Namanya Bagja, si pemain bola difabel netra. Potongan kisah Bagja dituliskan begini:

“Saya pernah satu tim bermain bola dengan teman-teman non difabel. Minder? Tentu saja. Lalu, kok bisa satu tim dengan non difabel? Sisa penglihatan yang saya miliki menjadi modalnya. Dukungan keluarga yang menjadi motivasinya.”

Itulah sedikit kisah siswa-siswi difabel netra. Dunia mereka pun berwarna, meski mereka hidup tanpa mampu melihat warna. Dengan tulisan, siapapun, bahkan yang tak bisa melihat warna, bisa memberikan warna pada dunia. Paling utama dari tiap manusia adalah kontribusi baik kita pada kehidupan, bukan? Dan kehidupan akan indah jika setiap manusia, tanpa membedakan kondisi, bisa saling memajukan dan menghargai.

Dan kepada sejarah, menulislah agar kisahmu dibaca dunia. Sekali lagi, kita sendiri yang akan memutuskan: mau dikenang sejarah sebagai apa?