Sepenggal Kisah dari Italia

0
435

Penulis: Siti Latipah

Newsdifabel.com — Kamu galau berkepanjangan lalu berefek insomnia akut alias gak bisa tidur sepanjang malam? Atau sebaliknya? Kamu sedang dilanda cinta yang luar biasa bertabur bunga? Kedua kondisi rasa di atas sepertinya cocok sekali jika diiringi lagu-lagu klasik romantis yang dibawakan seorang Italia bersuara lembut dan syahdu. Siapakah dia?

Lahir lebih dari setengah abad yang lalu di Lajatico, Tuscany, Italia, Andrea Bocelli tumbuh menjadi seorang Musisi, Penulis lagu, produser, dan multi-instrumentalist. Alam menganugerahi dirinya bakat luar biasa. Andrea Bocelli selain mampu mengolah vokal dengan begitu apik, juga mampu memainkan banyak jenis alat musik. Keyboard, flute, saksofon, trumpet, trombon, harpa, harmonika, gitar, drum. Banyak, bukan?

Andrea Bocelli dikenal sebagai penyanyi difabel netra bersuara khas daerah asalnya negeri menara miring Pisa, Italia. Bocelli kerap kali tampil di panggung-panggung opera di seluruh penjuru dunia. Congenital glaucoma diketahui sebagai penyebab kebutaan Andrea Bocelli. Dirinya ditakdirkan untuk menjadi seorang difabel netra sejak lahir, dan harus rela kehilangan seluruh penglihatannya saat dirinya berusia 12 tahun ketika bermain sepak bola. Olahraga yang akrab dengan anak remaja laki-laki itu telah merampas sisa-sisa penglihatan Sang Vokalis. Andrea Bocelli telah aktif menjadi seorang pemain organ di Gereja sejak remaja awal. Penyanyi difabel netra yang satu ini mampu meraih gelar Doktor ilmu hukum di University of Pisa, Italia tentu saja. Berbekal kemampuannya baca tulis Braille, huruf timbul yang dibuat oleh Louis Braille yang berasal dari negara tetangganya, Prancis, Bocelli mampu menapaki tahap demi tahap pendidikannya hingga sampai di puncak tertinggi. Keberhasilannya di bidang tarik suara dan karier pendidikannya tak lepas dari dukungan keluarga, terutama Ibunda.

Dikutip dari Wikipedia Indonesia, awal karier Andrea Bocelli bermula ketika dirinya menjuarai lomba menyanyi Margherita d’Oro di Viareggio dengan lagu “O Sole Mio” yang dibawakannya. Ketika itu, Bocelli masih berusia 14 tahun. Selain bergelut dengan profesinya sebagai pengacara, Andrea Bocelli tidak dapat lepas dari panggilan hati untuk bernyanyi. Siang bekerja sebagai pengacara dan malam hari menyanyi di bar. Bocelli tekun berlatih dengan gurunya, Luciano Bettarini.

Kesuksesan Bocelli tidak lepas dari peran Luciano Pavarotti. Sepenggal kisah, ketika pada tahun 1992, seorang musisi rock Italia, Zucchero membuat demo tape lagu Miserere dengan suara Bocelli dan mengirimkannya kepada Pavarotti, tetapi justru Pavarotti menyarankan Zucchero untuk berkolaborasi saja dengan Bocelli. Di dunia musik internasional nama Bocelli dikenal ketika berduet dengan penyanyi sopran Sarah Brightman menyanyikan lagu Time to Say Goodbye. Pada tahun 1998, Bocelli bersama dengan Celine Dion berkolaborasi dalam lagu “The Prayer“. Lagu “The Prayer” ini pun memenangi penghargaan Kusala Golden Globe sebagai lagu latar terbaik dalam film Quest for Camelot. Bocelli juga berkolaborasi dengan Bono, vokalis group band U2 dalam lagu L’Incontro versi Inggris.

Beberapa kali semesta berbicara melalui talenta. Kondisi individu dimana tidak memiliki kesempurnaan indera mampu paripurna dalam berkarya. Jadi, permasalahan bukan terletak pada kedifabelan seorang manusia, melainkan ada pada tekad kuat dan ketekunan serta dukungan. Keluarga sebagai sistem masyarakat terdekat adalah lingkup kecil yang seharusnya wajib memberikan dukungan positif kepada anggotanya, difabel atau pun non-difabel tentunya.