Seniman Difabel Menolak Pencanangan Hari Penyandang Disabilitas Internasional

0
918

Penulis: Barr.

Newsdifabel.com — Pada tahun 1970-an, gerakan difabel akar rumput di banyak negara mengubah pemikiran seputar difabel dan politik difabel. Meskipun demikian, mereka juga bagian dari pergolakan politik yang lebih besar di dunia barat. Bagaimana mereka terinspirasi oleh gerakan reformis, demokrasi, dan sosialis. Selain itu, bagaimana mereka berhubungan dengan sekutu yang bukan difabel. Beberapa organisasi di wilayah Nordik pernah diteliti dan dibandingkan dengan gerakan hak-hak difabel awal 1970-an di Inggris Raya.

Aktivis Denmark lebih suka menggunakan bahasa provokatif dan kontroversi, sambil mengembangkan pemahaman sosial tentang difabel. Mereka juga satu-satunya yang membahas gender dan seksualitas di dalam diskursus tentang difabel.

Pada tahun 1970-an, gerakan baru difabel di banyak negara sudah memulai mendefinisikan kembali difabel. Dengan melakukan itu, memungkinkan difabel untuk menyampaikan tuntutan mereka dengan cara baru dan mandiri, memiliki hak pilih, dan rasa hormat yang lebih besar. Gerakan itu dimulai oleh kelompok-kelompok difabel radikal di Denmark dan Swedia tahun 1970-an.

Sebelum lanjut, perlu sedikit penjelasan tentang arti “radikal”. Acuannya Kamus Besar Bahasa Indonesia, dimana kata “radikal” sebagai adjektiva memiliki arti “secara mendasar (sampai kepada hal yang prinsip)”. Berikutnya, kata “radikal” sebagai istilah politik memiliki arti “amat keras menuntut perubahan”. Terakhir, KBBI memberi arti “radikal” sebagai “maju dalam berpikir atau bertindak”. Kata “radikal” sendiri bermakna netral, dan KBBI membedakannya dengan “radikalisme”. Politiklah yang membuat kata radikal menjadi tidak netral dan menyeramkan.

Gerakan baru kelompok difabel sering menggunakan metode inovatif untuk menyampaikan pesan mereka, seperti dalam contoh tentang bagaimana bahasa dan pertunjukan artistik dapat digunakan untuk memprovokasi dan menantang asumsi yang diterima oleh awam. Pada tahun 1981, sekelompok seniman difabel yang bernaung dalam wadah “Aarhus Crutch Ensemble”, diundang oleh Radio Nasional Denmark untuk merayakan Hari Penyandang Disabilitas Internasional. Bertentangan dengan apa yang diharapkan produser, jawaban Ensemble sangat tajam dan kritis.

Ada perspektif yang tak umum dari para seniman ini tentang pemberlakuan Hari Penyandang Disabilitas Internasional. Mereka justru mengolok-olok peringatan tahunan itu karena, menurutnya, mereka tidak menyukai gagasan untuk mengatur tahun penyandang difabel. Kata salah satu seniman Aarhus Crutch Ensemble: “Seolah-olah ini hanya akan menjadi satu-satunya hari dalam setahun untuk kau memikirkan difabel dan melakukan sesuatu untuk difabel, terbatas pada saat hari itu berlangsung. […] Bagi kami (para difabel) ini adalah hari difabel sepanjang tahun!.