Sendiri Saja (Sebuah Prosa Kesunyian)

0
386

Oleh: Siti Latipah

Jika mata ini ada,
Aku hanya ingin membaca novel favorit
di bawah pohon rindang,
duduk tanpa alas
bersandar pada batangnya.
Lalu, aku akan tenggelam dalam fiksi-fiksi yang disajikan,
ditemani semilir angin
sinar matahari sore
dan daun rimbun.
Sendiri saja.

Jika mata ini ada,
Aku akan sering berada di sudut cafe
atau restoran cepat saji,
menyesap kopi
atau hanya sekedar menatapi jari.
Sendiri saja.

Jika mata ini ada,
aku akan irit senyum
apalagi tawa.
Tidak akan aku hambur-hambur kata.
Akan aku pakai mataku
untuk berbahasa.

Jika mata ini ada,
aku ingin sendiri saja,
berlari kecil mendaki bukit,
lewati hutan pakis, pinus, ilalang,
ingin sendiri saja.
Sendiri saja, duduk di tengah belantara,
teteskan air mata,
sendiri saja.

Jika mata ini ada,
aku akan melihat senyum itu,
lalu, akan kubalas setulus mungkin.
Tapi, aku tidak dapat melihat,
dan senyum itu menggantung tanpa balasan.

Apa yang tersirat dalam senyum itu pun menguap begitu saja,
biar aku menghangat sendiri
sakit sendiri,
sendiri menerka
tanpa nyali meladeni,
terlebih bertanya pada tawaran rasa.

Biar diri saja yang sesak menahan isak,
sendiri saja.

Sendiri saja,
bahkan diri sendiri menolak yang diinginkan
yang dikehendaki.
Jangan berjudi dengan mimpi,
biarkan keserasian lahir dari hal yang ilahar.

[Bandung, 21 April 2020]