Seleksi Pendamping Difabel

0
445
Suasana seleksi pendamping disabilitas (Foto: Deki)

Oleh: Pandu

[Bandung, 7 Oktober 2018] Tepat pada 2 Oktober 2018 di Gedung Auditorium PSBN Wyata Guna, Jl. Padjadjaran No. 52 Bandung diadakan seleksi penemerimaan pendamping bagi difabel yang diselenggrakan oleh Kementrian Sosial yang bekerjasama dengan Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) dan Psikologi UIN Jakarta dengaan jumlah peserta mencapai 180 orang. Seleksi pada tahap ini merupakan ujian tertulis dan wawancara yang sudah dilakukan pada 10- 16 September 2018. Pendaftaran secara online dilakukan melalui website, dan tahapan selanjutnya, peserta yang masuk kriteria akan mendapat pelatihan. Seleksi itu sendiri dibagi menjadi 2 kategori yaitu tenaga kesejahteraan sosial dan pendamping penyandang disabilitas.

Masing-masing kategori mempunyai spesifikasi. Untuk pendamping penyandang disabilitas, wajib berpendidikan S-1 berlatar belakang kesejahteraan sosial dan pekerja sosial, dengan usia maksimal 45 tahun yang bertugas mengkoordinir dan bertanggung jawab mengumpulkan data dari lapangan. Tenaga kesejahteraan sosial mempunyai spesifikasi dengan pendidikan minimal SMA bahkan SMP yang bertugas mencari data warga penyandang disabilitas, mereka akan ditempatkan sesuai kebutuhan dari Dinas Sosial Provinsi.

Menurut Ahwan Gumilar dari Dinas Sosial Jawa Barat, ‘Tujuan diadakannya seleksi ini untuk rekruitmen relawan pendamping penyandang disabilitas yang ke depannya akan diadakan setiap tahun untuk ditempatkan di daerahnya masing-masing, dan para disabilitas dapat terpenuhi dalam hak administrasi negara karena masih banyak keluarga di Indonesia menyembunyikan anaknya yang disabilitas dari lingkungan sosial bahkan status kartu keluarga.’

‘Diharapkan dari direktorat rehabilitasi sosial Kemensos, seleksi pendamping disabilitas tahun 2019 ini kawan-kawan yang terpilih sebagai pendamping disabilitas bukan hanya pintar saja tetapi dapat mengetahui keadaan lapangan yang mempuyai masalah sosial dan berjiwa sosial tinggi, dan warga disabilitas juga bisa mempunyai peluang yang sama sebagai tenaga kesejahteraan sosial.’ ujar Yusuf Yanuar sebagai tenaga ahli Drektorat Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas. 

‘Semoga ilmu yang telah saya pelajari pada saat kuliah dapat dimanfaatkan untuk kawan-kawan disabilitas, dan masyarakat pada umumnya karena masih banyak yang kurang peduli bahkan mendiskriminasikan, juga memberi stigma negatif, semoga jika saya diterima sebagai pendamping disabilitas, dapat membawa pengaruh di lingkungan saya.’ tutur Dini Andriani dari Bandung, lulusan Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial.

Dari 180 orang, ada salah satu peserta disabilitas netra yang mengikuti seleksi tersebut bernama Putu Agus Miarta berusia 38 tahun, berasal dari Bali. Ia berharap semua disabilitas bisa di berikan kesempatan bekerja sebagai tenaga kesejahteraan sosial.