Selamat Tahun Baru 2021, Selamat Menari di Atas Gelombang Waktu

0
701

Penulis: Barr

Newsdifabel.comSejarah selalu berulang, pertama sebagai tragedi, berikutnya sebagai lelucon. Jika diberi umur panjang, kita selalu melewati pergantian tahun, membuang kalender bekas, mengganti dengan kalender baru. Selalu begitu kita diperhadapkan dengan waktu, melakukan rutinitas sama, yang itu-itu juga. Sah-sah saja kita kelelahan atau dikepung rasa bosan melewatkan 365 hari secara berulang. Kita penat melihat orang-orang yang bergegas di terminal, di kantor pemerintah, di emperan toko, di tumpangan kendaraan online, dan lain-lain. Digulung ombak waktu.

Tentang waktu, Imam Syafi’i pernah menulis: “Waktu bagai pedang. Jika kau tak menggunakannya, maka ia akan menebasmu. Jika kau tak menyibukkan diri dalam kebaikan, maka waktu akan menyibukkanmu dalam kebatilan“.

Waktu, sejak ribuan tahun lalu, telah mengambil peran dalam arena perdebatan gagasan para filsuf seperti Demokritos, Plato, Aristoteles, Newton, Ibn Rusyd, termasuk filsuf dan fisikawan difabel, Stephen Hawking.

Waktu memiliki dua dimensi: objektif dan subjektif. Makna waktu-objektif adalah detik, menit, jam, bulan, tahun, sebuah durasi yang terus berjalan maju, tak bisa mundur. Satu atau dua detik berikutnya adalah masa depan, tak bisa berulang dan mundur. Sedangkan waktu-subjektif berhubungan dengan respon kita pada berjalannya waktu, contohnya, kesan terburu-buru dan selow. Orang yang terburu-buru menganggap bahwa dunia di sekitarnya berjalan begitu lambat, sebaliknya, bagi yang selow menganggap orang-orang sekitarnya berjalan begitu bergegas. Kedua kesan itu sama-sama berbasis pada waktu-durasi. Biasanya kesan subjektif terhadap berjalannya waktu berbeda-beda tergantung kondisi batin. Sebagai contoh, jika sendirian di tempat angker, waktu seolah berjalan begitu lama, tapi jika sedang berduaan di taman bunga bersama kekasih, waktu berjalan begitu cepat. Itulah yang dinamakan waktu-subjektif.

Waktu telah menguji kita, seluruh tim redaksi Newsdifabel, setidaknya sejak 2018 ketika kita bernaung di atap media yang khusus menyuarakan isu difabel dengan segala dinamika organisasi, perubahan, pisah-sambut, datang dan pergi, ada yang tersenyum ikhlas, bahkan ada yang murung. Itu hal biasa. Tapi waktu tak bisa kita hentikan, ia terus bergerak, kita hanya bisa memilih untuk menggelinding atau berselancar gemulai.

Tak ada yang statis, segalanya berdialektika, berubah secara kualitas dan kuantitas. Dalam diskursus filsafat dialektika, kita mengenal kontradiksi sebagai syarat untuk perubahannya. Rumusnya adalah tesis, anti-tesis, dan sintesis. Kesalahan yang pernah kita lakukan adalah tesis, kita berpikir bagaimana cara memperbaikinya, itu disebut anti-tesis, lalu memperbaiki kesalahan dan mendapatkan kesimpulan baru dari kesalahan adalah sintesis.

Kontradiksi telah kita jumpai di sekitar, mewujud sebagai kesalahan, lalu memperbaikinya agar menjadi lebih bijaksana.

Wajar saja kita melakukan kesalahan agar mengerti bagaimana menjadi benar dan baik. Belajar menulis, memahami kawan, melihat peluang, berjuang bersama untuk masa depan difabel, dan lain sebagainya.

Kita bersetuju jika pergantian tahun hanya sebagai penanda sejauh mana kita berbuat, berperilaku, berkontribusi dalam hidup ketika menjalani 365 hari yang telah lewat.

Biasanya, pergantian tahun pun diikuti dengan polemik apakah merayakan atau tidak. Persoalan sebenarnya bukan di situ, tapi bagaimana cara merayakannya. Kita maknai saja sebagai refleksi tahunan, bisa dengan berdoa atau merefleksi kedekatan kita dengan Tuhan, asal jangan berkurumun di tengah pandemi ini. Boleh juga merayakan tahun baru dengan pijat refleksi difabel. Sah-sah saja. Tak merayakan juga tak apa-apa.

Sekarang, tahun 2021 telah datang, suka atau tidak, kita harus terus berjalan, menghidupi kehidupan. Kita hanya manusia, kesalahan, kekurangan, pengalaman jatuh akan selalu ada, asalkan itu sebuah kesalahan manusiawi. Perjuangan bagi nasib difabel masih sangat panjang, kehadiran dan komitmen kita dalam wadah Newsdifabel.com harus berkelanjutan, tak lekang oleh waktu, tak lapuk oleh zaman. Kita harus tak lelah membuat sebanyak-banyaknya corong untuk menyuarakan nasib difabel, menentang diskriminasi dan ketidakadilan sosial.

Mari kita jelang tahun 2021 dengan penuh introspeksi, semoga Tuhan selalu memberkahi kita, dengan kuasaNya, kita memohon agar pandemi bisa lekas berlalu, dan Tuhan memberi keselamatan dunia-akhirat kepada seluruh difabel dan umat manusia.

Semoga kita semua menjadi semakin rendah hati, berkepribadian baik, hidup penuh cinta-kasih, dan menjadi lebih bijaksana, sebab kebijaksanaan akan selalu menggerakkan kita untuk melihat ke dalam diri. Di syair-syair mistiknya, Maulana Jalaludin Rumi menulis: “Kemarin aku pandai, jadi, aku ingin mengubah dunia. Hari ini aku bijaksana, jadi, aku ingin mengubah diri sendiri“.

Selamat tahun baru 2021.