Selamat Hari Perempuan Internasional

0
585

Penulis: Innessa Nadia

Newsdifabel.comCantik Itu Luka. Hidup di dunia yang tak setara, terlahir sebagai perempuan harus memiliki keberanian. Saya bersetuju atas kesimpulan bahwa planet yang kita tinggali ini terisi ide diskriminasi: ras, warna kulit, kondisi tubuh, dan gender. Perempuan, sepanjang sejarah, telah mengalami diskriminasi yang keras, dilecehkan hingga dieksploitasi. Bahkan di sebuah fase peradaban, tubuh perempuan dikoyak-koyak oleh budaya masyarakat yang hidup pada masanya hingga pengalaman dan sejarah mengajarkan pada mereka untuk berjuang membebaskan diri dari belenggu peradaban. Secara bertahap, perempuan bertempur dengan pertaruhan nyawa untuk lolos dari sistem dan budaya patriarki.

Kebudayaan yang menjadikan keberadaan dan tubuh perempuan sebagai objek, misalnya, di Thailand ada Suku Karen yang perempuannya menerapkan tradisi meninggikan leher dengan diberi tumpukan kalung dari kuningan. Di China, ada budaya yang mengharuskan perempuan bertelapak kaki kecil. Mereka sejak usia tiga hingga delapan tahun sudah dipaksa melipat empat jari kaki (dari kelingking) ke dalam, lalu mengikat erat dengan kain atau yang berfungsi sebagai perban, dibungkus sehari-harinya. Rasa sakit yang luar biasa terpaksa dirasakan demi mendapatkan definisi cantik. Karena semakin kecil telapak kaki perempuan, semakin cantik dan menarik bagi laki-laki. Definisi kaki perempuan terindah ada pada ukuran tiga sentimeter. Tradisi itu bernama Lotus Feet, hadir di tahun 1.700-an ketika Dinasti Shang berkuasa. Di Nigeria, perempuan suku Tiv diwajibkan menyayat tubuh mereka di bagian perut. Sayatan-sayatan sebesar kacang merah ditorehkan sebanyak mungkin secara teratur. Tujuannya agar menaikkan derajat dan dipandang cantik di hadapan laki-laki. Di Brasil, para perempuan di Suku Uaupes diarak dan dipukuli jika akan menikah. Jika perempuan itu tidak pingsan akan didefinisikan sebagai perempuan yang feminim. Maka layak untuk menikah.

Tradisi-tradisi di atas bertujuan agar para perempuan mendapatkan definisi cantik, menaikkan derajat, dan diakui oleh masyarakat. Jika tidak mencapai apa yang dimaksudkan oleh laki-laki dalam masyarakat tersebut, maka akan menjadi makhluk yang terpinggirkan. Begitu nasib manusia berjenis kelamin perempuan.

Meskipun tradisi-tradisi (dalam makna ritual) menyakitkan yang menimpa perempuan itu semakin surut, namun tradisi berpikir menomorduakan perempuan masih beroperasi dalam kesadaran sebagian besar masyarakat karena warisan budaya masa lalu.

Perkembangan gagasan keadilan gender, gender mainstreming, kesetaraan, dan pembebasan perempuan sampai detik ini masih terus berkembang mencari formulasi yang cocok demi misi penghapusan diskriminasi berbasis gender. International Women’s Day adalah salah-satu gelombang besar perlawanan perempuan menentang diskriminasi dan ketidakadilan gender.

Bermula pada 8 Maret 1907, lima belas ribu buruh perempuan pabrik tekstil melakukan demonstrasi di New York. Dua tahun kemudian (8 Maret 1909) Socialist Party of America mengadakan demonstrasi besar-besaran yang melibatkan aktivis perempuan menuntut hak berpolitik dan mengemukakan pendapat. Kebanyakan adalah perempuan buruh pabrik garmen. Api perlawanan itu kemudian menyulut gerakan yang sama di negara-negara Eropa pada 19 Maret 1909.

Perlakuan buruk pada buruh perempuan, dibungkamnya hak berpendapat, pelarangan hak politik membuat para perempuan bergerak menjebol tembok budaya. Gerakan kesetaraan hak sipil dan politik terus membesar hingga diadakan pertemuan internasional di Stuttgart, Jerman pada 17 Agustus 1907. Lalu, tiga tahun berikutnya, Konferensi Perempuan Sosialis Internasional dilaksanakan di Kopenhagen, Denmark pada 26 s.d. 27 Agustus 1910. Saat konferensi itulah diusulkan oleh Luise Zietz agar ada Hari Perempuan Sedunia.

Hingga sekarang, International Women’s Day (IWD) terus diperingati oleh perempuan di seluruh dunia sebagai tonggak sejarah perjuangan merebut hak-hak perempuan yang dirampas, termasuk di Indonesia.

Tapi, setelah puluhan tahun berjuang, diskriminasi berbasis gender sudah lenyap? Belum. Bahkan masih jauh. Saat ini sedang dalam tahap membangun landasan pacu peradaban menuju kesetaraan hak. Kita beruntung memiliki Dewi Sartika, Kartini, Christina Martha Tiahahu, Siti Soendari, dan tokoh-tokoh perempuan yang berjuang merebut keadilan untuk perempuan.

Karena patriarki sudah menjadi budaya, maka proses edukasi, transformasi pengetahuan ilmiah, dan ide pengarusutamaan jender (gender mainstreaming) adalah sebuah rancangan jalan keluar untuk menghilangkan gagasan diskriminasi berbasis gender.

Budaya adalah nilai yang hidup di kesadaran masyarakat, terus berulang, dan turun-temurun. Inilah yang membuat perjuangan menghapus diskriminasi terhadap perempuan menjadi pekerjaan rumah yang menuntut daya tahan panjang sebab, selain terus mendorong kebijakan yang berperspektif terhadap perempuan, simultan dengan itu kita menghadapi jalan terjal: mengubah kesadaran (budaya berpikir).

Cara berpikir diskriminasi masih seluas samudera, bisa menenggelamkan segala sesuatu yang mengapung di atasnya. Seorang manusia akan dua kali mendapatkan diskriminasi jika dia perempuan dan difabel. Terdiskriminasi sebagai perempuan dan terdiskriminasi sebagai difabel.

Dan saya tak bisa membayangkan bagaimana jika identitas yang rentan diskriminasi itu menyatu dalam satu tubuh: sebagai perempuan, difabel, berkulit hitam, penganut agama/kepercayaan minoritas.

Hancurkan budaya berpikir diskriminatif dan patriarkis. Keadilan untuk difabel.

Selamat Hari Perempuan Internasional 2021.