Sejarah Panti Pijat Indra Raba Wyata Guna

0
310

Oleh: Latipah

[Bandung, 20 Juli 2019] Panti pijat Indra Raba yang berlokasi di komplek Balai Rehabilitasi Sosial Penyendang Disabilitas Sensorik Netra Wyata Guna (dahulu Panti Sosial Bina Netra Wyata Guna) Jln. Pajajaran No. 52 Bandung merupakan salah satu panti pijat termasyur di Kota Kembang. Tidak banyak yang tahu kapan panti pijat tersebut berdiri.

Rasikin (difabel netra) mengungkapkan bahwa, pada tahun 1978, Wyata Guna belum dikelola oleh pemerintah melainkan masih di bawah badan Pembina Wyata Guna (swasta yang bersifat proyek antara Depsos, Pemda Jabar, dan masyarakat). Waktu itu Bank Niaga memberikan sumbangan berupa dana untuk pembangunan panti pijat yang kemudian dikelola oleh Wyata Guna, akan tetapi tidak berjalan. Bangunan tersebut lantas disewakan kepada pengusaha rumah makan.

Saat dikonfirmasi mengenai inisiator pembuatan panti pijat, dengan bersemangat Rasikin bercerita, “Saya, Ahmadi (alm.) dan Tantan, semuanya difabel netra, berinisiatif untuk membuat panti pijat. Kami diberi ruangan, namun bukan bangunan panti pijat yang sekarang. Saat ini ruangan panti pijat itu ya sekitar masjid Wyata Guna, lah,” tuturnya mengenang masa lalu.

Waktu itu kami hanya bertiga menjalankan panti pijat tersebut. Kemudian masuk Atang, Asep Marpu, Wilmar, Jengki Saepudin, Pak Dudung, dan ada satu perempuan namanya Samsiar.” Pak Ikin, begitu beliau akrab disapa, mengabsen teman-teman seperjuangannya dalam merintis panti pijat Indra Raba.

Masih dari sumber yang sama, pendirian panti pijat bertujuan untuk menyalurkan teman-teman klien Wyata Guna yang telah memiliki keterampilan memijat, mengingat masih banyaknya juru pijat (masier) yang masih menganggur. Pak Ikin sendiri saat itu merupakan koordinator penyaluran. Sejalan dengan jabatannya, ide pendirian panti pijat itu muncul.

Jadi begini sejarahnya. Mula-mula saya mendirikan panti pijat itu di daerah Lengkong sekitar tahun 70-an. Waktu itu, di Bandung hanya ada satu-satunya panti pijat. Ya, panti pijat di jalan Lengkong itu. Terus kemudian di jalan Lengkong berkembang dengan menggunakan bangunan koperasi pegawai negeri. Nyewa. Nah, dari jalan Lengkong, lalu pindah ke kawasan Asia Afrika. Pada tahun 1973, panti pijat berpindah kembali ke jalan Lengkong. Lalu Saya menyebarluaskan pendirian panti pijat Indra Raba. Jadi, panti pijat di Bandung ada dua, panti pijat yang di jalan Lengkong dan panti pijat Indra Raba.” panjang lebar Pak ikin memaparkan sejarah Indra Raba.

Adapun perihal nama Indra Raba, Rasikin mengemukakan bahwa kata-kata tersebut diambil dari istilah panca indra. Indra peraba.

Jadi begini,” Pak Ikin kembali memulai ceritanya, “Memijat itu kan diraba, nah itu kan bagian dari pengindraan. Jadi namanya Indra Raba. Ya, kira-kira begitu lah.” ungkap Pak Ikin seraya tertawa renyah.

Mulai saat itulah setiap klien (penerima manfaat saat ini) yang memiliki prestasi akan merasakan bagaimana dunia kerja di bidang jasa pijat difabel netra.

Semoga sehat dan sukses selalu, Pak Ikin.