Sebait Harapan Para Difabel dalam Memperingati HDI 2020

0
425

Penulis: Agus Maja 

Newsdifabel.com — Friedrich Nietzsche tidak terlalu suka dengan harapan yang digantungkan oleh orang selain dirimu sendiri sebab sebagai seorang individu, kita memiliki otoritas penuh pada diri kita, termasuk untuk menentukan harapan. Harapan ditentukan pada apa yang akan kau lakukan hari ini, sebab, masa depan adalah sekarang. Bukan esok, atau nanti. Satu detik setelah sekarang adalah masa depan.

Di masa depan, hidupmu dan eksistensimu adalah kisahmu menghidupkan harapan, dalam harapan ada keyakinan.

Ada yang dicari, ada yang diperjuangkan, harapan menunjukkan adanya yang kamu cari dan adanya yang layak kamu perjuangkan. Rancanglah harapan, buatlah harapan. Dalam literatur tasawuf Islam ada semacam maqom yaitu roja’, dengan roja’ seseorang akan mempunyai semangat dalam melakukan ketaatan, dan merasa ringan dalam menanggung berbagai kesulitan dan kesusahan.

Maka sangat gamblang bahwa selama manusia hidup, sebuah harapan senantiasa diselipkan. Para difabel pun sama, mereka memiliki sebuah harapan dari apa yang selama ini belum dicapai, terutama sejak diresmikannya hari disabilitas internasional sebagai bentuk perjuangan penghapusan diskriminasi yang telah berumur 28 tahun.

Yudi yusfar sebagai ketua DPP ITMI (Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia) mengatakan, “HDI 2020 lebih baik kita fokus menghadapi pandemi Covid-19 dan pemerintah fokus memberikan protokol kesehatan untuk difabel kemudian memperhatikan bantuan untuk difabel, pemulihan sosial, dan pemulihan pendidikan untuk difabel. Selain itu pemerintah harus memperhatikan jaminan pekerjaan bagi difabel, bagaimana bantuan UKM bagi difabel? Apa kriteria prakerja bagi difabel, sebab tidak sedikit para difabel yang kehilangan sumber penghasilannya”.

Djumono selaku ketua Forpadi (Forum Perjuangan Difabel Indonesia) berharap, “Makna HDI 2020 adalah sebuah evaluasi terhadap kebijakan dan implementasi terhadap kesejahteraan dan kesetaraan difabel. Apakah dalam setiap tahunnya berubah naik, stagnan atau menurun, karena amanat UU No. 8 tahun 2016 harus dilaksanakan. Selain itu, sejauh mana para difabel telah melakukan tenggung jawab kepada kehidupannya terutama dalam berbangsa dan bernegara”. Semoga pemerintah pusat, provinsi, kabupaten/kota, lebih memperhatikan hak hak hidup difabel.

Selain Yudi Yusfar dan Djumono, ada Nenden selaku musisi difabel netra, mengatakan, “Makna HDI untuk saya sangatlah dalam, karena perlu masyarakat tahu bahwa para difabel juga bisa bekerja serta berkontribusi terhadap negara dengan berbagai profesi, kebetulan saya sebagai musisi difabel juga sudah benyak yang saya lakukan. Harapan saya adalah, pemerintah dan masyarakat agar memberikan kesempatan bagi difabel untuk berkontribusi dan jangan memandang difabel sebagai manusia yang sangat kasihan (iba) melainkan difabel layak dan bisa bersaing”.

Ika Damayanti, difabel grahita yang jadi atlet bahkan pernah mengikuti kejuaraan nasional dan international di Amerika, Malaysia dan negara lain, tujuannya hanya satu, ia akan mempertahankan dan mengharumkan negara di bidang olahraga.

“Semoga teman-teman difabel grahita diberikan pekerjaan oleh pemerintah karena kalau saya sudah tua prestasi akan turun, kasih kerja untuk mereka, kasih lowongan kerja untuk teman teman Ika biar jelas kerjanya kalau udah gak jadi atlet,” pinta Ika.

Ada juga Soleh Mulyadi. Sebagai guru honorer di Kabupaten Bandung, ia mengatakan, “Saat ini saya merasa ada perkembangan, karena pemerintah sudah mulai terbuka kepada difabel dengnn menerbitkan UU, PP, dan Perda. Semoga HDI 2020 bisa jadi momentum bagi kita semua untuk berubah agar lebih baik lagi.”

Diabel terakhir yang mewakili adalah Guntur selaku ketua PPDI Kota Bandung. Harapan Guntur adalah agar “Perayaan HDI kali ini, semua unsur difabel yang ada harus bisa memfungsikan kelompoknya karena bagaimanapun HDI adalah ulang tahunnya para difabel. Semoga program inklusi dari pemerintah tidak hanya kontekstual, tidak hanya pemaparan undang-undang saja, melainkan harus bisa mengayomi para difabel. Saat ini kita tidak bisa menutup mata dan telinga bahwa masih terjadi kesenjangan antara masyarakat difabel dan nondifabel baik secara hak dan kehidupan terutama dalam bidang pekerjaan.”