Sang Pembuat Naskah Iklan Sabun

0
425

Penulis: Siti Latipah

Newsdifabel.com — Suara khas vokalis Goo Goo Doll’s dengan indahnya melagukan Iris malam itu. Bukan di hingar-bingarnya panggung megah Los Angeles, bukan pula di studio legendaris CBS 30th St. Studio dimana Stevie Wonder dan kawan-kawan merekam maha karya mereka. Tapi di sini, di kamar kontrakan seorang pemuda usia remaja akhir. Kita sebut saja namanya Andi.

Andi adalah seorang pemuda desa terpencil di kota Jati Wangi, tetangga Maja Lengka, masih satu wilayah yang secara administratif masuk Jawa Barat, Indonesia.

Kumplit, amat. Huahaha.

Di desanya, Andi dikenal warga sebagai pemuda dangdut yang hanya tahu Rhoma Irama dan Rita Sugiarto. Paling gaul kenal sama ‘Alamat Palsu’nya Ayu Tingting atau, ‘Lagi Syantik’ milik Siti Badriah sebagai oleh-oleh kepulangannya dari Bandung setelah menimba ilmu dari sebuah Balai Rehabilitasi Sosial khusus untuk kaum Si Buta Dari Gua Hantu.

Hus!

Please, deh!

Bilang khusus difabel netra aja napa, seeeh!

Tapi di sini, di kamar kontrakannya di kawasan Jakarta Selatan, Andi duduk di hadapan meja komputer dengan laptop bermerek Dell tengah asyik ngetik naskah iklan sabun mandi, sikat gigi, bedak tabur, dan berbagai jenis perlengkapan perang emak-emak serta gadis jelita, tengah dikerjakannya.

Dari speaker aktif laptopnya, bergantian Goo Goo Doll’s, The Calling, Coldplay, The Verve, U2, Smashing Pumpkin, dan lain-lain menyemangatinya untuk segera menyelesaikan pekerjaan malam itu. Terkadang menyela suara indah Celine Dion atau khas vokal Christina Aguilera terdengar.

Di samping kiri laptopnya tergeletak smart phone berlambang apel digigit kelelawar yang sedari tadi diacuhkannya. Jari-jari Andi lincah menari di atas keyboard laptop. Keterampilan mengoperasikan office yang pemuda itu dapatkan saat belajar di kota kembang dimanfaatkannya dengan baik. Satu naskah yang dibuatnya kini memenuhi layar monitor.

Uuuh, akhirnyaaa….”

Gumam Andi seraya menekan tombol shortcut Ctrl+S untuk menyimpan file hasil tiknya.

Dengan segera Andi kirim naskah itu melalui email. Pada kolom email ditiklah alamat dream.hotnews@gmail.com.

Dear Mbak Asri yang cuantik.…” bunyi subjek emailnya.

Dalam mesage body dia tuliskan,

Sorry Mbak, naskahnya aku kirim lewat email. Besok aku gak bisa datang ke Dream. Biasaaa, ribet urusan kampus.” bla bla bla.

Jari sang pemuda lincah menekan panah bawah. Lalu, Andi tekan enter tepat ketika screen reader bilang, “send button.”

Dikirimlah naskah itu.

Usai sudah tugas Job Access With Speech (JAWS) laptop Andi yang sedari tadi membantunya menyelesaikan pekerjaan sambilannya di tengah-tengah kesibukan sebagai mahasiswa berlebel difabel netra pada salah satu kampus negeri di ibu kota itu. Kini yang terdengar hanya nyanyian Goo Goo Doll’s lagi.

‘’And I’d give up forever to touch you, ’cause I know that you feel me somehow. You’re the closest to heaven that i’ll ever be. And I don’t want to go home right now“.

Musik bergenre rock alternatif dan post-grunge itu mengalun merambat di semua sudut ruang. Grup band yang sukses menjual 12 juta album lagu ketika model compact cassette atau kaset pita masih berjaya sebelum dilibas oleh CD dan kini hanya dengan streaming.

And I don’t want the world to see me, ’cause I don’t think that they’d understand. When everything’s made to be broken. I just want you to know who I am.”

Musik apik itu terus mengalun oleh suara sedikit parau dari Johnny Rzeznik.

Musiknya berakhir dengan lirik, ”I just want you to know who I am”.

Who I Am?

Who am I?

Who am I?

Tiga kata terakhir dari lirik tersebut menyeret Andi pada sebuah renungan pertanyaan.

“Siapa saya?”

Sebuah kalimat pernyataan, “Who I am” dibaliknya menjadi kalimat tanya bernuansa kontemplasi,

Who am I?

Kalimat tanya yang menjadi cambuk buat Andi.

Tiga bulan yang lalu, berbekal niat dan doa ibu-bapaknya, laki-laki penuh mimpi itu hijrah dari Jati Wangi ke Jakarta. Bukan semata-mata ingin bersenang-senang di kota tempat pusat keputusan politik diambil itu, tapi karena Andi ingin benar-benar membuktikan bahwa dia layak hidup sebagai manusia.

Hmm, sarkasme banget!

Hidup layak? Iya, hidup layak.

Di sana, di desanya, Andi tak berharga. Dia hanya dipandang sebelah mata. Melekat padanya label anak pembawa petaka. Bagaimana tidak, ketika Andi lahir, ibu-bapaknya bergelimang harta. Tetapi, setelah Andi lahir dengan indera penglihatan yang tak berfungsi, lambat laun harta ibu-bapaknya surut.

Entah mengapa. Satu yang pasti bukan karena Andi. Karena berkat kerja keras sang tulang punggung keluarga, mata pencaharian ayahnya itu perlahan bangkit kembali. Namun masyarakat menjadikan Andi bulan-bulanan. Stigma anak tidak berguna kadang masih diterimanya. Kata-kata yang menusuk hati itu sering sampai ke telinganya.

Hmm, sedih amat, ya.

Tapi sudah, lah, kita balik lagi saja pada Andi yang sekarang sedang gembira. Setelah sibuk dengan laptopnya, Andi sekarang ambil posisi nyaman. Dirinya merebahkan badan di atas kasur berukuran 120 sentimeter, seprai motif bola dengan tulisan juventus di setiap sisinya.

Kece bener seprainya, Andi?

Dua minggu yang lalu, sang pujaan hati alias pacar tercinta Andi menghadiahkan seprai tersebut pada Andi tepat di hari ulang tahunnya.

Jempol kanan pemuda itu diletakkan di tempat finger print handphone-nya. Lalu, menggeser-geser layarnya hingga screen reader bilang, “whatsapp.”

Wah, rupanya Andi hendak chatting dengan seseorang. Ahaaiii.

Benar saja. Andi lalu membuka percakapan dengan seseorang. “Cantikku” muncul sebagai nama kontaknya.

Lima belas menit kemudian, Andi tenggelam dalam percakapan manis nan romantis dengan sang pacar.

Aaaah, Andi. Cerminan pemuda masa kini. Meski status difabel netra disandangnya, namun dengan kemajuan teknologi, keinginan dan kesempatan, dirinya mampu bertahan dan berjuang menyetarakan keadaan dengan lingkungan Jakarta yang luar biasa. Namun pekerjaan rumah Andi masih banyak, dirinya harus kemali ke kota kelahiran guna mengabarkan keberhasilannya di ibu kota.

Rasa cinta yang dirasa, arus pergaulan yang deras, kemajuan teknologi yang pesat, semoga tidak membuat mata hatimu pun ikut tertutup, Andi.

Buktikanlah pada dunia bahwa di tengah gelombang kemajuan zaman, difabel mampu bertahan.