Sahabat Hati [Bagian Pertama]

0
202

Penulis: Basela  

Newsdifabel.com — Waktu menunjukkan jam 12 malam. Kinar masih belum bisa memejamkan mata. Pikirannya berkecamuk tentang banyak hal, terlebih masalah rumah-tangganya yang sebentar lagi akan berakhir. Kinar sudah tak bisa memaafkan Herman, suaminya yang berkali-kali menipunya habis habisan. Meminta modal untuk alasan bisnis lalu berpura pura bangkrut dengan dalih tertipu orang dan memaksa Kinar mengeluarkan modal lagi meski harus berutang sana-sini, berurusan dengan leasing, kartu kredit, hingga terjebak beberapa KTA.

Akhirnya Herman berbulan-bulan tidak pulang, sekalinya kembali hanya dengan satu kata, “Maaf”. Dari situlah tekad Kinar bulat untuk mengakhiri rumah-tangganya, dan itu didukung penuh oleh seluruh keluarga besarnya.

Tapi permasalahan baru pun muncul. Herman sama sekali tak mempedulikan permohonan cerai Kinar. Ia tetap bertahan dengan berbagai alasan. Tak jarang ia bahkan mengancam akan menyakiti Kinar jika berani menceraikannya. Itu belum seberapa, yang paling Kinar takuti, Herman mengancam akan membawa kabur Pingkan, anak semata wayang mereka yang saat ini Kinar titipkan pada ibunya.

Hampir saja Kinar menyerah jika tak ada Angga. Dia adalah seorang pengacara sekaligus suami dari sahabatnya, Andin. Awalnya Kinar meminta Angga untuk membantu menangani kasusnya, tetapi Angga menolak dengan alasan ada banyak kasus yang sedang ia selesaikan. Namun sebagai solusi, Angga melimpahkan kasus Kinar pada Wijaya, dan itu disetujui Kinar. Dia tak peduli Wijaya itu siapa. Bahkan sampai detik ini, Kinar belum pernah bertatap muka atau sekadar melihat fotonya. Jika sesekali mereka berkirim pesan WhatsApp, Wijaya selalu memasang profil logo kantornya.

Satu yang disyukuri Kinar, selama mereka terikat kontrak kerja, Wijaya selalu sukses membuatnya menjadi pemenang dalam tiap persidangan, meski Kinar sendiri tak pernah menghadirinya.

Besok adalah sidang perceraiannya yang terakhir. Dia merasa sedikit cemas. Meski sedikit pun tidak meragukan kemampuan pengacaranya, tetap saja rasa takut itu ada. Apalagi dia tau Herman adalah tipe orang yang bisa menghalalkan segala cara.

Kinar bangkit dari tempat tidur, lalu duduk di depan meja rias. Tangannya menarik laci meja itu. Kemudian mengambil sebuah kotak foto dan membukanya. Tampaklah seraut wajah pria dengan senyum terkembang. Meskipun gambarnya terlihat usang karena termakan usia, namun tetap tak bisa menyembunyikan ketampanan pria itu.

“Hmm, Raditia, andai saja dulu aku tidak bodoh, mungkin semua ini, ah, entahlah.” Gumam Kinar, seolah berbicara dengan gambar itu.

Dia adalah Raditia, kekasih pertama Kinar, ketika mereka masih sama-sama duduk di bangku SMA, sekitar 27 tahun lalu. Sudah begitu lama, tapi selama itu pula Kinar tak bisa melupakan Raditia. Rindu dibarengi rasa bersalah selalu menghantui Kinar tiap kali dia mengingat Raditia. Bagaimana tidak, Radit adalah seorang pria yang baik, pintar, jujur, tulus, dan lembut. Raditia sangat menyayangi Kinar, begitu pula sebaliknya. Mereka menjalani hubungan tanpa masalah, hingga peristiwa itu terjadi.

Kinar berhasil dipengaruhi oleh teman-teman sekolahnya untuk meninggalkan Radit hanya karena Kinar bersekolah di sekolah elit dan ternama, sementara Radit di sekolah yang biasa-biasa saja. Sepele sekali, tapi memang hanya itu masalahnya. Mungkin karena usia Kinar masih sangat muda sehingga masih labil. Gengsi telah mengubah Kinar menjadi perempuan kejam dan tak berperasaan. Dia tak peduli dengan tatapan Radit yang mengiba di hadapannya. Bahkan ketika Radit memegang kedua tangan Kinar, memohon agar tak meninggalkannya, Kinar tetap tak bergeming, malah memilih pergi begitu saja.

Sejak saat itu, Kinar dan Radit jarang sekali bertemu. Mereka sibuk dengan aktivitas masing-masing. Kalaupun bertemu, Radit telah berubah, ia tidak lagi ramah dan lembut, wajahnya dingin tak bersahabat. Membuat orang sungkan untuk menyapanya, termasuk Kinar. Berkali-kali Kinar berusaha untuk menemui Radit, baik disengaja atau membuat situasi seolah kebetulan, hanya untuk berbincang ringan dan melihat senyumnya yang manis.

Selebihnya Kinar berharap bisa meminta maaf atas kesalahannya. Namun usaha Kinar tak pernah membuahkan hasil. Jangankan untuk meminta maaf, tiap kali bertemu, komunikasi di antara keduanya pun tak pernah bisa lebih dari tegur sapa seperlunya, bertukar kabar, dan selanjutnya Radit akan pamit dengan berbagai alasan. Dari situlah Kinar mulai pasrah dalam memperjuangkan cintanya. Ia sadar perbuatannya terhadap Radit memang keterlaluan. Wajar kalau laki-laki itu tak bisa memaafkannya.

Tapi sejak saat itu pula Kinar sadar, bahwa cintanya hanya untuk Radit. Terbukti, ketika ia menjalin hubungan dengan beberapa teman laki-laki, ia selalu menemukan hal yang kurang dan membandingkannya dengan Radit yang menurutnya sangat pengertian dan nyaris tanpa cela. Hingga akhirnya Kinar menyerah pada takdir setelah mendengar kabar kalau Radit pindah ke kota X untuk kuliah di salah satu universitas negeri ternama di sana.

Sekian tahun kemudian, Kinar juga mendengar kabar kalau Radit lulus kuliah dengan segudang prestasi, lalu kabar terakhir Radit menikah entah dengan siapa. Dari situlah Kinar mengubur dalam-dalam harapannya. Hingga akhirnya ia memutuskan menikah dengan Herman. Pria yang sukses membuatnya jatuh sejatuh-jatuhnya. Kadang ia berpikir apakah ini karma? Entahlah, yang pasti Kinar akan berusaha bangkit dan ingin menjadi lebih baik setelah ini. Kinar menghapus bulir bening yang sedari tadi membasahi netranya, lalu meletakkan kembali kotak foto itu, tapi tidak lagi di dalam laci, melainkan di atas meja, disandingkan dengan foto Pingkan.

Dada Kinar berdebar, menanti sidang putusan dari para hakim.

Bersambung…