Sahabat Hati (Bagian Kedua)

0
495

Penulis: Basela.

Newsdifabel.com — Kinar menghapus bulir bening yang sedari tadi membasahi netranya, lalu meletakkan kembali foto box itu. Tapi tidak lagi di dalam laci, melainkan di atas meja. Disandingkannya foto itu dengan foto Pingkan.

Keesokan harinya, ketika Kinar hendak bangun, tiba-tiba saja kepalanya terasa berat. Berkali-kali dia mengerjapkan mata mencoba untuk menghilangkan rasa pusing itu. Namun, sia-sia. Rasa sakit kepalanya terasa semakin mencengkeram.

“Ya Allah, kenapa ini? Migrainku kumat. Bagaimana aku bisa pergi menghadiri sidang terakhirku kalau kondisinya seperti ini?Kalaupun aku minum obat, setidaknya butuh waktu 2 jam untuk bisa beraktivitas lagi.” Gumamnya kesal.

Dia meraih ponselnya untuk menghubungi Andin.

“Halo, Kin, gimana? kamu udah berangkat? Inget sidangnya jam sembilan jangan sampai telat lho. Oya, ga usah ke kantor dulu ya. Aku udah ijinin kok.” Suara Andin meluncur tanpa jeda begitu telepon Kinar tersambung.

“An, denger aku dulu dong. Kebiasaan deh kalau ngomong ga pake jeda. Aku masih di rumah. Kayaknya ga bisa datang kepersidangan deh. Kepalaku sakit banget. Jangankan untuk pergi, bangun saja rasanya ga kuat. Gimana ya?”

“Ya, ampun! Kirain kamu baik-baik aja. Ya udah ga usah khawatir. Kamu sekarang minum obat dan istirahat aja. Masalah sidangmu biar Wijaya yang selesaikan.” Ujar Andin dengan nada cemas.

“Tapi AN, masalahnya aku sudah janji sama Wijaya untuk bertemu hari ini. Selain aku harus tahu hasil persidanganku yang terakhir, aku juga harus berterimakasih padanya secara langsung untuk pekerjaannya selama ini.”

”Iya aku mengerti, Kin. Tapi kalau kondisimu seperti ini kan enggak mungkin. Kalau saran aku sih kamu istirahat aja di rumah. Soal kamu ingin bertemu dengan Wijaya, biar nanti kubicarakan dengan Mas Angga. Siapa tau Mas Angga bisa bantu menyampaikan sama Wijaya agar dia mau datang ke rumahmu setelah urusan persidangan itu selesai.”

“Oh iya, boleh juga tuh sarannya. Nanti aku juga hubungi dia. Siapa tau mau kuundang makan di rumah. Kamu sama Angga juga harus ikut ya.” Ujar Kinar bersemangat.

“Urusan makan-makan sih ga mungkin aku tolak, Kin.” Sahut Andin sambil tertawa.

Satu/dua kalimat lagi, telepon itu pun berakhir. Perasaan Kinar sedikit lega. Kemudian ia mengirimkan pessan pada sang pengacara sesuai dengan apa yang direncanakan tadi bersama Andin. Pesan terkirim, tapi tak ada balasan. Kinar hanya tersenyum. meski belum bertemu secara langsung, dia tau karakter pengacaranya yang sangat disiplin terhadap waktu dan pekerjaannya itu. Jika masi ada yang dikerjakan, mana mau sang pengacara itu buang-buang waktu hanya untuk membalas chat yang bisa dibalas nanti. Lalu ia mencoba bangkit untuk mengambil obat dan segelas air, kemudian meminumnya. Setelah itu, ia kembali ke tempat tidur. Kinar mencoba beristirahat sejenak. Membiarkan obat yang diminumnya bekerja dengan baik, agar dia bisa segera beraktivitas lagi.

Sore ini, rumah Kinar tampak berbeda. Di meja tamu tertata aneka kue dan beberapa macam camilan. Begitu pula di ruang makan, bermacam hidangan lezat sudah tersaji. Kinar pun terlihat rapi dan anggun dengan dress biru langit yang dia kenakan. Wajahnya tampak ceria. Dia merasa sangat bahagia. Segala apa yang dia inginkan berjalan sesuai rencana. Wwalau pun dia harus menebusnya dengan perjuangan yang sangat berat. Siang tadi Wijaya membalas pesannya. Pengacara handal itu mengabarkan kalau Kinar telah resmi bercerai dengan herman. Wijaya juga bersedia memenuhi undangannya untuk datang ke rumah. Sementara untuk menjamu tamunya, Andin sukses membantu mempersiapkan segala sesuatunya. Meskipun sangat disayangkan, Andin dan angga tak bisa ikut menyambut sang pengacara karena anak mereka mendadak demam.
Selepas magrib, kira-kira pukul setengah tujuh malam, Kinar mendengar derum mobil memasuki pekarangan rumahnya.

“Sepertinya tamuku datang.” Batin Kinar.

Benar saja, tak lama kemudian terdengar seseorang mengucapkan salam. Kinar segera membuka pintu untuk mempersilakan tamunya masuk. “Waalaikumsa …” kata-kata Kinar terhenti. Ia terperangah di depan pintu. Tubuhnya terpaku kaku, napasnya seakan terhenti, matanya seperti tak mampu berkedip menatap pria yang tepat berdiri dihadapannya.

“Radit? benarkah?” Dengan bibir bergetar Kinar melontarkan kalimat yang nyaris tak terdengar.

“Iya ini aku, Kin. Kenapa? Apa aku tammpak menakutkan? Atau…. ooh aku kusut sekali ya. Maaf aku tak sempat pulang dulu untuk bersih-bersih atau sekadar ganti baju. Dari tempat kerja, aku langsung kesini karena takut terlalu malam.” Radit menutup pintu mobil, melangkah mendekati Kinar.

“Aku boleh masuk? Apa cukup di depan pintu aja?” Lanjut Radit menggoda.

“Ih iya, silakan masuk, Dit. Maaf aku tadi bener-bener enggak nyanka kalau kamu akan datang. Kebetulan juga aku lagi menunggu seseorang. Kupikir tadi dia yang datang.” Kinar melangkah masuk diikuti Radit.

“Mau minum apa, Dit? Apa mau kubikinkan kopi?” Tanya Kinar setelah mempersilakan tamunya duduk.

“Sudah, gak usah. Eh, tadi kamu bilang lagi nunggu seseorang. Siapa? Apa aku mengganggu?” Ujar Radit.

“Namanya Wijaya. Tapi aku gak tau dia jadi datang atau tidak.”

Radit tersenyum tipis menatap lekat wajah Kinar. Lalu ia menunduk. Matanya tertuju pada kartu nama yang tergantung didadanya, seolah mengisyaratkan Kinar untuk ikut melihatnya juga. Benar saja, Kinar pun spontan mengikuti mata Radit. Betapa terkejutnya Kinar. Di dalam kartu tersebut jelas tertulis nama Raditia Wijaya, S.H. Jadi selama ini yang membantunya itu Radit? Lalu kenapa Andin tidak menceritakan semua ini? Jika angga tidak menceritakan siapa Wijaya, itu wajar karena angga baru kenal dengan Kinar setelah angga menikah dengan Andin. Tapi kalau Andin? Tiba-tiba dada Kinar terasa sesak. Ia menutup muka dengan kedua belah tangannya. Sesaat kemudian tubuhnya berguncang, tangisnya pecah membuncah. Radit menggeser posisi duduknya mendekati Kinar. meraih tubuh perempuan itu kedalam pelukannya.

“Maaf jika kamu tak suka dengan apa yang aku lakukan untukmu selama ini. aku terlalu menyayangimu. Aku tak akan pernah rela siapapun menyakitimu.” Radit berbisik lirih.

Kemudian, Kinar mengangkat wajahnya lalu menatap Radit yang masi memeluknya. Wajah itu tidak lagi dingin. Melainkan hangat dan lembut. Persis seperti 27 tahun silam saat mereka masih bersama.

“Aku bukan tak suka dengan apa yang kamu lakukan, Dit. Tapi aku merasa malu dan merasa tak pantas kamu tolong setelah apa yang aku lakukan padamu. Aku jahat, jadi kalau ALLAH mengirim Herman untukku mungkin itu karma yang harus aku terima.” Tutur Kinar di sela isaknya.

“Ssst, berhenti menyalahkan diri sendiri, Kin. Waktu itu kamu masih terlalu muda, dan kita juga masih sama-sama labil. Jadi wajar kalau kamu berbuat begitu padaku. Jujur, saat itu aku memang kecewa dan marah. Tapi tak lama. Cintaku padamu jauh lebih besar daripada rasa benciku.” Radit mengusap bulir bening yang mengalir dikedua belah pipi Kinar dengan punggung tangannya.

“Jika benar kamu tak marah dan sangat mencintaiku, kenapa saat aku berusaha meminta maaf padamu kau tampak begitu dingin dan tak bersahabat? Lalu kenapa pula kau seakan tak ingin kuketahui kuliah di mana, kerja di mana, bahkan menikah dengan siapa? Aku mendengar semua tentangmu dari orang lain. Apa itu yang dinamakan tidak benci?”

“Ya, aku memang salah. Tapi semua itu kulakukan untuk menutupi rasa sayangku padamu. Aku bersikap dingin agar tampak tegar dimatamu dan semua orang. Aku juga memilih kuliah di kota lain agar aku bisa melupakanmu. Termasuk pernikahanku. Istriku perempuan solehah, dari keluarga baik-baik, dan kami direstui keluarga satu sama lain. Itu alasanku menikahinya. Karena aku tak bisa berharap banyak darimu. Lalu aku tak mengundangmu di hari pernikahanku, alasannya sederhana. Aku tak mau Kinarku terluka hatinya,” Radit menghela napas panjang lalu melanjutkan kata-katanya.

“Tapi akhirnya aku sadar. Aku juga egois. Sama sepertimu. Coba kalau aku mau mengalah dan mendekatimu lagi,mungkin ceritanya akan lain. Hingga akhirnya aku mendengar semua masalah rumahtanggamu dari Andin. Aku merasa sangat marah. Dan aku berjanji, aku akan membebaskanmu dari laki-laki brengsek itu dengan tanganku sendiri. Aku, angga, dan Andin sengaja tidak memberitahumu tentang hal ini. Karena aku takut jika kamu tahu, kamu akan menolaknya.” Perlahan Radit melepaskan pelukannya.

Lalu meraih tas yang terletak di kursi sebelahnya. Kemudian ia mengambil sebuah amplop dari dalam tas itu dan menyerahkannya pada Kinar.

“Bukalah, ini untukmu. Hakmu.”

Kinar menerima ammplop itu lalu membukanya. Ternyata isinya adalah berkas perceraiannya. Buku tabungan, dan sebuah kartu ATM terselip juga di antaranya. Radit tau kalau Kinar pasti penasaran bukan dengan berkas itu, melainkan dengan buku tabungan dan kartu ATM-nya. Lalu Radit pun menjelaskan bahwa, selama ini dia telah membuat rekening kusus untuk kontraknya dengan Kinar. Dan setelah semuanya selesai Radit akan memberikan semuanya pada Kinar. Tentu saja Kinar menolak. Bagi Kinar ini berlebihan. Membebaskannya dari herman pun, itu sudah sangat cukup bagi Kinar. tapi, bukan Radit jika tak bisa memaksa Kinar untuk menerima semua pemberiannya. Dengan ancaman Radit akan kembali acuh seperti dulu, sukses membuat Kinar tak bisa apa-apa selain bilang iya. Selanjutnya mereka pun terlibat perbincangan seru yang menyenangkan. Membahas banyak hal tentang masalalu, dan sesekali diselingi tawa renyah keduanya.

Saat makan malam usai dan Radit berpamitan, Dengan berat hati Kinar pun mengiyakan karena malam juga sudah cukup larut. Radit hendak melangkahkan kaki ke teras ketika tiba-tiba Kinar menhambur kepelukannya. ia mendekap kuat tubuh Radit, menyembunyikan kepala di dada pria itu dan kembali menangis sejadi-jadinya.

“Jangan pergi, Dit. Jangan tinggalkan aku.” Kinar memohon di sela tangisnya.

Radit membalas pelukan Kinar. Membelai rambut perempuan ittu dan mengecup puncak kepalanya.

“Maafkan aku, Sayang. Aku sangat mencintaimu lebih dari yang kau tahu. Tapi aku tak bisa mengkhianati takdirku. Jemputlah masa depanmu yang terbaik. Kita akan tetap jadi sahabat hati selamanya. Kau layak bahagia meski tidak bersamaku. Kecuali ALLAH berkehendak lain.” Sekali lagi Radit mengecup puncak kepala kekasihnya untuk kemudian melangkah masuk ke dalam mobil. Perlahan melajukannya keluar dan berlalu dari rumah Kinar.

Sementara Kinar masi berdiri mematung di depan pintu. Perempuan berparas cantikk itu menatap kepergian Radit.

“Selamat jalan, Sahabat hatiku. Terima kasih buat semuanya. mulai detik ini aku akan menjemput masa depanku yang terbaik seperti pesanmu, agar aku bisa bahagia.”

Baca: Sahabat Hati (Bagian Pertama)