Saber al-Ashkar: Pejuang Difabel Palestina Itu Gugur

0
505

Penulis: Barra.

Newsdifabel.com — ‘Pertama, mereka mengambil tanahnya, lalu mereka mengambil kedua kakinya, sekarang mereka mengambil nyawanya. Tapi mereka tidak bisa mengambil martabatnya.’

Awal Mei 2018 lalu, foto laki-laki berkursi roda, hilir-mudik di media sosial terutama twitter. Postingan dengan foto yang sama beredar diiringi tagar #Gaza dan #Palestine. Foto laki-laki itu begitu hidup, kuat, indah karena amarah, murni dan, penuh nyali. Tubuh dalam foto itu mengartikulasikan perlawanan hebat dari ketertindasan sebuah bangsa selama puluhan tahun. Di atas kursi roda sambil mengayunkan ketapel berisi batu ke angkasa, ia berusaha menjatuhkan drone gas air-mata, ataupun menyasar tentara barbar Israel.

Lalu, siapakah laki-laki yang fotonya begitu populer itu? Namanya Saber al-Ashkar. Saber kehilangan kakinya dalam serangan pesawat tak berawak Israel beberapa tahun sebelumnya. Sempat terjadi simpang siur tentang foto yang beredar dan identitas nama yang disematkan dalam keterangan foto. Awalnya, orang mengira, nama di foto yang sedang populer tersebut adalah Fadi Abu Salah (29 tahun). Namun, Mahmud Hams, seorang fotografer dari Agence France-Presse (AFP), kantor berita Prancis, mengoreksi bahwa laki-laki di foto tersebut bernama Saber al-Ashkar, bukan Fadi Abu Salah. Memang, Saber al-Ashkar maupun Fadi Abu Salah juga sama-sama duduk di atas kursi roda, difabel tanpa dua kaki.

Aljazeera.com memuat koreksinya pada 16 Mei 2018: “Sebuah foto yang menyertai salah satu tweets, awalnya tertera dalam pemberitaan ini, diberi label sebagai gambar Fadi Abu Salah. Itu keliru. Orang dalam foto itu diidentifikasi oleh kantor berita AFP sebagai Saber al-Ashkar, seorang yang diamputasi ganda, duduk di kursi roda dan memegang katapel. Foto itu diambil saat protes terpisah di Gaza pada 11 Mei 2018. Abu Salah juga diamputasi ganda. Dia terbunuh selama protes di Gaza pada hari Senin, 14 Mei.”

Protes rakyat Palestina di perbatasan dilangsungkan untuk memperingati Hari Nakba (malapetaka) yaitu ketika ribuan rakyat Palestina mengungsi akibat upaya paksa pendirian Negara Israel pada 15 Mei 1948. Kecamuk puluhan tahun di perbatasan Gaza mengundang solidaritas internasional, dan meminta agar segera disudahi.

Dalam peringatan Nakba tahun 2018, serangan tentara Israel menewaskan 60 orang, termasuk Saber al-Ashkar, Fadi Abu salah, dan bayi perempuan berumur 8 bulan bernama Laila Anwar al-Ghandour yang meninggal setelah menghirup gas air mata tentara Israel. Serangan itu membuat tokoh dan pemimpin dunia mengecam Israel, juga atas langkah Donald Trump memindahkan kantor kedutaannya.

Perang Meningkatkan Jumlah Difabel

Sepanjang sejarah dunia, perang selalu berakhir dengan kerugian besar, jumlah korban yang banyak. Bahkan muncul istilah ‘The war that will end war’ (perang yang akan mengakhiri perang). Istilah itu menyadarkan kita bahwa dunia yang kita tinggali ini dibangun atas peperangan, penjajahan, kolonialisme, semua menghasilkan kerusakan, kematian, dan trauma. Termasuk peperangan di perbatasan Gaza, jumlah korban perang justru banyak dari warga sipil.

Menurut laporan yang dikeluarkan pada 2011 oleh Biro Pusat Statistik Palestina,  difabel di Palestina sebanyak 7 persen atau 127.120 orang dari 1,8 juta penduduk di Gaza. Prevalensi penduduk difabel berusia 18 tahun ke atas adalah 3,8 persen (4,0 persen di Tepi Barat dan 3,4 persen di Jalur Gaza), dengan 3,9 persen laki-laki dan 3,7 persen perempuan. Di Tepi Barat, persentase difabel tertinggi ada di Provinsi Jenin yaitu 4,1 persen, sedangkan terendah di Yerusalem sebesar 1,4 persen. Namun para difabel di Gaza sebagian besar masih dipandang dari perspektif amal, kebijakan dan program publik gagal mengatasi masalah mereka secara memadai.

Menurut Abdelhakeem Shibani, ahli hukum Unit Pemantau Pelanggaran terhadap Penyandang Disabilitas di Staf Penasihat Palestina, ada sekitar 28 hak dasar difabel yang terus dilanggar, terutama hak untuk bekerja, pendidikan, perawatan kesehatan, dan kesejahteraan sosial.

Organisasi kemanusiaan Remember These Children mencatat sejak September 2000 sampai 1 Mei 2012, ada 1.477 anak Palestina dan 129 anak Israel di bawah 18 tahun telah tewas. Jumlah yang terluka dan dipastikan menjadi difabel ada ribuan.

Kisah menyedihkan juga datang dari Louay (9) dan Odai (13). Tahun 2014 terjadi pertempuran 51 hari yang merenggut nyawa 501 orang, melukai 3.374 orang termasuk anak-anak. Seketika, hidup mereka berubah dalam waktu sekejap. Waktu itu 21 Juli, Louay dan Odai sedang berada di rumah bibinya untuk persiapan buka puasa hingga akhirnya dikacaukan oleh serangan roket yang menghantam rumah, membunuh ibu mereka, nenek, bibi dan enam anak lainnya. “Roket pertama merobohkan saya, ketika serangan kedua datang, saya memaksa bangkit, pada serangan ketiga, saya lari ke bawah,” kata Odai. “Saya melihat adik laki-laki saya, Louay, masih hidup. Dengan gontai, saya membawanya, dan kami berlari bersama, tetapi tabung gas meledak dan membakarnya”. Ayah saya berteriak kepada para dokter, “Jangan memotong kaki anak saya,”

Pada tahun 2015, Healing the Wounds  mengatakan, Handicap International mengeluarkan data bahwa selama perang 2014 sebanyak 13.6 persen orang yang terluka menjadi difabel. Tim peneliti dari Disability Representative Bodies Network (DRBN) melaporkan pada bulan September 2014, ada 2.204 orang difabel terpaksa mengungsi selama krisis, dan 11 kantor lembaga yang menangani kebutuhan difabel di Jalur Gaza turut hancur.

Selain serangan langsung, orang yang menjadi difabel disebabkan oleh adanya explosive remnants of war/ERW (sisa-sisa bahan peledak).

Pengamat Perserikatan Bangsa-Bangsa melaporkan bahwa Gaza dihantam oleh lebih dari 70.000 bom ledak selama 50 hari konflik antara Israel dan faksi Palestina di Gaza pada Juli- Agustus 2015. United Nations Mine Action Service (UNMAS) memperkirakan 10 persen dari persenjataan yang sudah dilontarkan ini gagal meledak artinya, lebih dari 7.000 ERW diperkirakan tergeletak di Jalur Gaza. Jelas itu bisa menimbulkan ancaman langsung terhadap warga Gaza, khususnya bagi anak-anak yang bermain di area yang terkontaminasi itu, termasuk ancaman bagi orang dewasa yang perlu bekerja di lahan pertanian. Ancaman meliputi (tapi tidak terbatas pada kematian) cedera, luka fisik permanen, kerusakan sensoris.

Dalam wawancaranya dengan Deutsche Welle, Kepala Misi Palestina untuk Handicap International, Guillaume Zerr, mengatakan, ada 100- 200 ribu warga Palestina menjadi difabel akibat serangan Israel. Sebagian besar karena tertimpa reruntuhan dan pecahan misil. Luka-luka yang diderita warga Palestina terpaksa berakhir dengan amputasi. Zerr mengatakan, rata-rata setiap hari, belasan warga terpaksa diamputasi akibat serangan. Setidaknya seribu orang Palestina menjadi difabel sebagai akibat dari konflik. Keadaan diperparah dengan ketiadaan aksesibilitas di Gaza membuat difabel kesulitan melakukan evakuasi. Pada Desember 2016, Data Kementerian Urusan Sosial Palestina mengatakan sekitar 50.000 warga hidup dengan difabel di Jalur Gaza.

Dua orang difabel bernama Saber al-Ashkar dan Fadi Abu Salah gugur dengan harga diri yang penuh. Sebuah cara untuk mati yang indah setelah segala yang dimilikinya dirampas oleh penindasan. Kebebasan dan kemerdekaan bangsa Palestina tidak akan pernah turun dari langit. Penyelesaian konfliknya harus berangkat dari akar masalahnya. Menyelesaikan akar persoalan itu penting agar narasi ‘perdamaian’ yang dibuat tidak merugikan rakyat Palestina. Termasuk agar kita jangan terjerumus dalam politik identitas atau sentimen SARA. Sebab, ada rakyat Israel yang menentang pendudukan negaranya terhadap Palestina. Mereka adalah golongan kiri yaitu Partai Komunis Israel (Maki) yang menentang keras aneksasi Israel terhadap Palestina. Bahkan ketua partai tersebut lantang menyebut bahwa Trump adalah penjahat perang. Sayap kiri Israel adalah pecahan dari Partai Komunis Palestina yang saat ini sama-sama keras menentang pendudukan Israel terhadap Palestina. Partai sayap kiri (Maki), menurut buku karya Fayez A. Sayegh berjudul Communism in Israel, dibentuk pertama kali sejak tahun 1984 oleh dua tokoh kunci yaitu Moshe Sneh dan Shmuel Mikunis.

Dan pada akhirnya, negara-negara yang sedang mementaskan peperangan harus mampu merenungi dampak buruk yang ditimbulkannya. Dalam konteks perang ini, tidak ada peperangan yang tidak disebabkan oleh kepentingan ekonomi-politik, hanya saja para dalang pengendali perang pandai menutupi fakta penyebab sesungguhnya. Sebut saja segala perang, di baliknya adalah kepentingan ekonomi-politik. Afrika vs. Inggris, Amerika vs. Jepang, Israel vs. Palestina, dan lain sebagainya, selalu disebabkan kepentingan perdagangan.

Lalu kita sadar ternyata kita benar-benar tinggal dunia yang konyol.