Rino Jefriansyah Youtuber Difabel

0
264

Oleh: Indra Rukmana Putra 

[Cirebon, 8 Oktober 2020] Siapa, sih, yang tak kenal aplikasi YouTube, dari anak-anak hingga orang dewasa sudah familiar dengan media yang didirikan oleh Chad Hurley, Steve Chen, dan Jawed Karim itu.

YouTube adalah salah satu anak perusahaan dari google yang fokus dalam konten video sebagai media publikasi. Animo masyarakat sangat tinggi ketika YouTube berkembang di era digital, bahkan mengalahkan dunia pertelevisian. Karena kita bisa menonton jutaan bahkan miliaran konten video seperti film, kartun, berita, juga video lainnya, dari berbagai macam kategori, di seluruh pelosok dunia sesuai yang kita inginkan.

YouTuber, sebutan orang yang fokus membuat konten video di YouTube mungkin banyak dari kalangan non difabel. Namun kini, berkat kemajuan teknologi, para difabel pun mulai merambah YouTube. InfiArtt sebagai salah satu komunitas difabel netra yang fokus di bidang seni musik, sastra, dan teknologi informasi melaksanakan webinar via zoom pada 30 September 2020 lalu. Topik yang dibahas adalah mewujudkan blind youtuber yang mampu bersaing dengan non difabel. Sebagai narasumbernya adalah seorang difabel netra yang menjadi YouTuber sejak 2016.

“Dulu, pertama kali upload konten video ke YouTube adalah dengan menggunakan handphpone berbasis symbian, yaitu Nokia seri 36. Konten yang lainnya pun sangat beragam seperti seni musik, seni sastra, teknologi informasi, serta konten lainnya. Konten di channel pertama adalah konten musik pada akhir Juni 2016″, ujar pemateri ini saat sesi penyampaian materi webinar.

Rino Jefriansyah (27) mengatakan, dirinya merasa tertantang menjadi YouTuber adalah saat mendapatkan tugas kuliah di semester VII tentang jurnalistik.

Tentu seiring peerjalanan hidupnya menjadi seorang YouTuber pasti ada jalan terjal yang harus dilewati. Terkadang ada hater yang memberikan komentar negatif, bahkan dengan bahasa yang tidak indah untuk disimak. Namun ini harus tetap dihadapi, karena ini sebagai pecut agar lebih semangat lagi.

Menurut Rino, bertambahnya subscriber sejak pelaksanaan Asian Games 2018 berlangsung di Indonesia menambah semangat membuat konten di channel YouTube yang bermanfaat untuk difabel netra. “Hingga 20 Mei 2020 lalu, saya mendapatkan surat dari google via pos. Surat diantarkan ke rumah saya di Samarinda, Kalimantan Timur. Isinya verifikasi alamat sebagai keabsahan seorang YouTuber. Tentu ini tidak pernah terbayangkan sebelumnya oleh saya.”

Seorang mantan atlet difabel cabang tenis meja ini mengatakan, tips yang diberikannya kepada peserta adalah, jika ingin menambah viewer juga subscriber, setelah kita membuat konten video, tentu kita harus share link YouTube tersebut ke sosial media seperti Facebook, WhatsApp, termasuk pengiriman secara personal pada teman yang ada di kontak handphone.

Ada rasa penasaran dari peserta webinar salah-satunya pertanyaan bagaimana cara difabel netra membuat konten video secara mandiri. Rino menjelaskan metodenya dengan merekam dahulu audionya, kemudian, dengan bantuan aplikasi, digabungkan dengan foto.

Saat sesi tanya jawab, Newsdifabel.com menanyakan bagaimana cara menyiasati konten yang hampir sama, karena rata-rata kebanyakan channel YouTuber difabel netra rata-rata fokus di TIK. Rino menjelaskan perlunya eksplorasi, termasuk membangun konten yang curiosity.

Rino, di akhir webinar berpesan agar terus belajar. Pantauan Newsdifabel.com setelah mengikuti webinar, kami mencoba berkunjung ke channel YouTube-nya. Terlihat ada 168 konten video, ratusan viewer, dan 4.120-an subscriber. Memang pencapaian membutuhkan tekad yang konsisten, agar tujuan yang diinginkan dapat tercapai.

Acara ini diadakan oleh Infinity Art and Technology (InfiArt) yang setiap bulannya mengadakan sharing online untuk para difabel netra yang ingin menambah ilmu serta wawasan di era digital ini.

Simak YouTube-nya di sini: Rino Jefriansyah Channel