Remaja dan Anak Difabel Harus Diintegrasikan Dalam Agenda Kesehatan Global PBB

0
646

Penulis: Kidung Libertha

Newsdifabel.com – Anak dengan difabel masih belum menjadi prioritas dalam sistem kesehatan karena itu jumlah difabel anak semakin meningkat. Anak-anak tersebut hanya bertahan untuk hidup namun tidak berkembang. Difabel memiliki prioritas rendah dalam program umum kesehatan anak dan remaja. Meskipun satu miliar orang memiliki beberapa bentuk difabel, penyandang disabilitas termasuk di antara kelompok yang paling terpinggirkan dan didiskriminasi. Didorong oleh tujuan global, sebagian besar negara berfokus terutama pada pengurangan kematian anak, menjadikan difabel rendah dalam prioritas mereka. Beberapa negara hanya bisa menyediakan layanan berkualitas dan memadai.

Artikel ini membahas tren prevalensi sejumlah kondisi medis terkait tingkat kedifabelan yang tinggi antara tahun 1990 dan 2019. Diambil dari data Global Burden of Disease, menunjukkan bahwa jumlah anak dan remaja yang hidup dengan difabel meningkat secara substansial karena peningkatan populasi penduduk difabel, kebanyakan dari mereka berusia kurang dari 20 tahun. Artinya, semakin banyak anak yang membutuhkan layanan kesehatan. Namun, sebagian besar sistem kesehatan tidak dapat menangani kebutuhan anak difabel saat ini, apalagi memenuhi permintaan yang meningkat.

Rendahnya prioritas pemberian layanana pada difabel tercermin dari minimnya data. Satu analisis global baru-baru ini memperkirakan bahwa 291 juta anak dan remaja mengalami difabel akibat epilepsy, difabel intelektual, dan difabel sensorik. Namun penyebab difabel ketika masa kanak-kanak belum diketahui.

Bukti epidemiologi sejauh ini telah terfragmentasi, terbatas pada data prevalensi untuk kondisi kesehatan tertentu. Satu-satunya sumber bukti global, Laporan Dunia tentang Disabilitas, menemukan bahwa sekitar 5% anak-anak mengalami kedifabelan, tetapi laporan tersebut mengandalkan data dari tahun 2004. Perspektif yang komprehensif sangat penting, harus mempertimbangkan kondisi kesehatan kronis dengan tingkat yang tinggi.

Anak-anak difabel seringkali membutuhkan layanan rehabilitasi khusus terkait dengan gangguan atau keterbatasan fungsi mereka. Namun intervensi layanan rehabilitasi ini seringkali kekurangan sumber daya. Jika tersedia, layanan seringkali mahal, tidak inklusif secara fisik, atau hanya dapat diakses di daerah perkotaan. Akibatnya adalah kualitas layanan yang buruk.

Akses perawatan adalah hak asasi manusia

Anak-anak difabel berulang kali menghadapi hambatan dalam perawatan yang justru menyulitkan. Hambatan terbesar yang mereka hadapi adalah sikap negatif. Tanpa perubahan, anak-anak ini akan terus ditolak aksesnya ke layanan oleh penyedia layanan kesehatan.

Karena semua faktor ini, difabel sangat membutuhkan prioritas yang lebih tinggi dalam agenda kesehatan anak dan remaja. Untuk melangkah ke depan diperlukan perubahan paradigma dan komitmen semua pihak terkait isu difabel dalam bidang medis. Pemerintah perlu meningkatkan pemberian layanan kesehatan secara terfokus. Layanan rehabilitasi harus diperluas untuk menjangkau semua anak yang membutuhkan. Negara harus berkomitmen memprioritaskan anak-anak yang paling membutuhkan di masyarakat.