Relawan Demokrasi Difabel

0
322

Oleh: Muslim

[Bandung, 2 Maret 2091] Pesta demokrasi sudah di ambang pintu. Hingar-bingar peserta pemilu, parpol, caleg, dan capres-cawapres, sudah menggema seantero Indonesia. Masing-masing mendukung kandidatnya. Kaum difabel juga turut ambil bagian di dalamnya, namun ini dalam bentuk supporting proses demokrasinya dalam Pemilu. Namanya Relawan Demokrasi.

Keberadaan Relawan Demokrasi ini resmi dibentuk oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk Pemilu 2019 yang cakupannya berada di seluruh wilayah Indonesia. Termasuk KPU Daerah kini sedang giat menyeleksi relawan. Tugas mereka secara garis besar adalah memberikan informasi terkait pelaksanaan Pemilu 2019 yang diselenggarakan 17 April mendatang.

Di Bandung ada Jumono seorang disabilitas daksa, dan Ceu Popon, disabilitas netra yang terlibat dalam Relawan Demokrasi. Tentu ada banyak cerita dan pengalaman bagaimana menjadi Relawan Demokrasi, termasuk kendala sebagai difabel.

Tentang kisah relawan demokrasi dari kaum difabel, misal, Jumono menemui kendala ketika mendatangi gedung berlantai lebih dari satu atau gedung sekolah yang tidak aksesibel. Sebagai pengguna kursi roda, Jumono tentu kesulitan melewati area yang tidak memiliki akses untuk kursi roda. Meski begitu, Jumono tetap menjalaninya karena itu salah satu tugas mereka.

Lain Jumono lain Ceu Popon, seorang difabel netra. Ceu Popon menggunakan alat bantu tongkat ketika beraktivitas. Persoalannya tidak jauh beda yaitu fasilitas infrastruktur. Jika hadir ke tempat baru, Ceu Popon harus sangat waspada dan meraba-raba kontur jalan apakah jalannya berlubang atau rata.

Ini ironi. Di tengah tanggung jawab mereka untuk membangun demokrasi dalam Pemilu namun fasilitas publik tidak demokratis buat difabel. Berarti ada masalah dengan demokratisasi infrastruktur.

Bicara mengenai demokrasi, tentu bangsa ini memiliki garis pedoman atau bintang penuntunnya yaitu Pancasila. Kehadiran Pancasila sudah mengamanatkan banyak hal termasuk Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Hingga kapan isi Pancasila hanya berhenti sebagai jargon? Begitulah kenyataannya, namun kita tetap harus salut kepada mereka yang turut membantu KPU dalam menyebarkan semangat demokrasi Pemilu 2109.

Semoga Pemilu 2019 nanti berjalan dengan baik, damai, dan tidak meninggalkan rivalitas yang liar karena nyoblosnnya hanya sehari, permusuhannya tak perlu berkepanjangan.