Refleksi Lembaga Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus

0
324

Penulis: Agus Maja

Berdasarkan Undang-Undang Sisdiknas No. 20 tahun 2003 Bab I, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.

Menurut William F, pendidikan harus dilihat di dalam cakupan pengertian yang luas. Pendidikan juga bukan merupakan suatu proses yang netral sehingga terbebas dari nilai-nilai dan Ideologi. Sedangkan hakikat pendidikan yang dilansir dari direktori file UPI mengatakan, “Hakikat pendidikan adalah upaya sadar untuk mengembangkan potensi yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia dan diarahkan pada tujuan yang diharapkan agar memanusiakan manusia atau menjadikannya sebagai insan kamil, manusia utuh atau menyeluruh”.

Pendidikan ABK yang dibina oleh para tenaga pendidik di Sekolah Luar Biasa adalah bagian dari hakikat pendidikan yang harus direfleksikan setiap lembaga dengan menggali kemampuan peserta dari jenis hambatan fisik dan kemampuan peserta didik, tidak mudah mengajar anak berkebutuhan khusus karena seorang guru SLB harus berlandaskan oleh niat ikhlas, sabar, jeli, dan tidak lelah, sebab yang ditangani adalah peserta didik yang meempunyai hambatan fisik.

Dengan demikian, dalam kondisi apapun, situasi apapun, seorang tenaga pendidik harus tetap mengasah keterampilan serta kompetensinya untuk ditransfer langsung kepada peserta didik ABK. Hal ini penting karena keterampilan adalah modal kemandirian para difabel untuk bertahan hidup dan bersaing di masyarakat, setidaknya saat selesai menempuh pendidikan formal, para difabel bisa menghidupi dirinya sendiri.

SLB AB YPLB Danyang Purwodadi telah melakukan pembinaan serta peningkatan kompetensi tenaga pendidik melalui keterampilan vokasional yang berharap nanti bisa menjadi bahan untuk ditransfer langsung kepada peserta didik. Kegiatan ini bersifat terbatas dan tetap menerapkan protokol kesehatan. Materi yang dibahas adalah keterampilan guru dalam menguasai seni kaligrafi dan membuat kue bolu gulung batik. Nama kegiatan ini bernama In House Training yang dilakukan pada hari Jumat dan Senin, 13 dan 16 November 2020 di SLB YPLB Danyang Purwodadi.

Sungguh sangat dibutuhkan pelatihan seperti ini bagi tenaga pendidik sebab berguna untuk meningkatkan kompetensi dan kemampuan guru. Kemudian ke depannya kepala sekolah SLB AB YPLB Danyang mengatakan, “Kita akan menjalin kerjasama dengan lembaga pendidikan lain yang konsen dalam keterampilan, agar peserta didik kita lebih ragam lagi keterampilannya, kita juga akan menjalin kerjasama dengan perusahaan di daerah Grobogan agar bisa menerima lulusan dari SLB untuk bekerja di perusahaan”.

Dari uraian di atas, maka sudah jelas dan selaras dengan kebijakan PP No. 60 Tahun 2020 tentang Unit Layanan Disabilitas dalam hal pemenuhan hak pekerjaan dan UU No. 8 Tahun 2016 tentang Pemenuhan Hak Bekerja bagi penyandang Disabilitas yang mendorong pemerintah daerah, BUMN, dan BUMD wajib mempekerjakan difabel dengan rasio dua persen dari total karyawan non difabel, dan perusahaan swasta satu persen dari total karyawan non difabel.