Puisi: Mata Mata

0
688

Penulis: Siti Latipah

Sejak seribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan,
tak ada lagi mata lelaki yang aku pinjam.
Hanya matamu.
Mata lelakiku.
Ia tak malu meminjamkan mata pada anaknya yang tak pernah mengenal cahaya,
dituntunnya menuju kedalaman pengetahuan.
Matamu yang mengajarkan bahwa setiap makhluk dilahirkan untuk mencari dan menjelma makna.
Aku percaya diri, dan ini disebabkan oleh karena matamu yang kupinjam.

Satu kupu-kupu hinggap di bahuku.
Ku ceritakan padanya bahwa mata ayahku tak ada gantinya, karena itulah muncul satu tanya: Bisakah aku meminjam mata dan percaya pada lelaki selain Ayah?
Kupu-kupu itu terbang tanpa meninggalkan jawaban.

Kini, dua dasa warsa tanpa matamu.
Tak ada ketajaman penglihatan yang memperhatikan,
tak lagi terdengar deskripsi indah yang dituturkan.
Rindu, meluap bagai uap,
mengangkasa bagai udara,
membumbung ke langit hanya dengan doa dan kenangan.

Ayah.
Lelakiku,
melalui matamu,
terukur kedalaman hati.
Terkaji sakit dan sehat jiwa,
kenyataan memaksa.
Aku lari dari betapa ingin kunikmati sajian indah warna dunia.

Bukan tak mau,
melihat indah semesta melalui mata lelaki yang datang,
bawakan gambar-gambar kehidupan.
Sejenak aku ingin
jatuh dalam samudera penglihatan yang ditawarkan.

Uji hati hampiri diri,
mata sempurna goda jiwa,
ini tak berawal,
tak berharap akan berakhir.
Mungkinkah?

Ini lebih dari sekedar manis,
hingga tak mau cicipi pahit.
Bisakah?

Ini semua nyata,
atau hanya cerita?
Entahlah.

Ini indah,
jangan sampai menjadi sejarah.
Dapatkah?

Apa ini?
Bergetar hingga hati tak gentar!
Merayap lintasi garis logis,
hilangkan kuasa fakta.
Lemah logika di hadapan sang pemilik mata.
Dirinya.

Melodi hati dan tengah hari,
tertegun menikmati pahit manis kehidupan.
Terkadang nyaman, penuh pengharapan,
kadang risau, sarat keraguan.
Semakin detik berlalu, semakin ramai perjalanan,
seperti bidak-bidak di permukaan papan catur,
jika tak bergerak, papan tak akan semarak,
jika hanya terdiam, apalah guna dilanjutkan.

Bergelut di gulungan waktu,
tak manis, tak pahit,
tak berasa karena bayang tak juga menjelma,
tak yakin, tak akan mungkin bukan karena lain.

Aku menduga
mimpi telah duduk di jendela sebelum mataku terbuka,
bersiap pamit setelah semalam ku tangkap ia dalam tidurku.

Ayah,
aku kehilangan matamu tepat di tepian
kenangan.

Sketsa: Vidya