Produknya Tak Dibeli Karena Difabel, Prayoga Tetap Berkarya

0
230

Penulis: Zaenal  

Newsdifabel.com — Seorang pemuda dari Kota Semarang mengatakan bahwa banyak konsumen batal membeli produknya hanya karena dia seorang difabel. Ini menunjukkan bahwa sampai saat ini diskriminasi sosial masih terjadi di masyarakat. Bagaimana mungkin masyarakat dapat menilai kualitas suatu produk hanya dengan melihat siapa yang membuatnya.

Hal tersebut dibuktikan oleh seorang difabel bernama Prayoga Nanda (27) yang memiliki usaha berjualan miniatur lampu hias dan aksesoris handphone.

Miniatur Kapal Karya Prayoga Nanda

Pemuda yang menjadi difabel karena malapraktik ini mengatakan bahwa sejak tahun 2013 memulai usahanya, namun karena kondisi penglihatan yang semakin menurun membuatnya tidak bisa memproduksi barangnya sendiri dan harus dibantu oleh orang lain.

Bisa dibilang Prayoga memiliki dua kondisi kedifabelan yaitu fisik dan sensorik. Untuk persentase penglihatan sebelah kanan 0% dan sebelah kiri 50% sedangkan untuk kondisi tangan dan kaki memiliki perbedaan ukuran dan kelemahan fungsi gerak.

Tempat Pulpen Karya Prayoga Nanda

Berawal dari modal yang diberikan ibunya, Prayoga terus mengolah usahanya dengan tekad yang kuat. Dari hasil penjualan ia tabung dan digunakan untuk mengembangkan dan memproduksi miniatur lampu hias. Dalam berproduksi, Prayoga dibantu temannya, sehingga dia tinggal menjualnya saja tanpa harus membuat sendiri.

Miniatur lampu hias ini merupakan hasil dari ide dan kreativitas Prayoga. Bisa dibilang ini adalah lampu emergency yang bisa digunakan pada saat mati lampu. Memiliki bahan yang terbuat dari kayu jati belanda dan dapat berfungsi dengan arus yang cukup kecil menggunakan kabel USB yang terhubung pada power bank atau laptop. Produk ini juga aman untuk anak-anak dan mudah dibawa kemana-mana saat dibutuhkan.

Lampu Hias Karya Prayoga Nanda

Dalam dunia usaha, Prayoga berharap kepada pemerintah untuk mendukung dan memfasilitasi sarana dan prasarana penunjang untuk bisa menyalurkan dan meningkatkan mutu kualitas dari hasil kreativitas para difabel sehingga masrakat lebih mengakui dan menerima keberadaan difabel. Jangan sampai hasil kreativitas tersebut dianggap remeh hanya karena karya dari difabel yang ingin mandiri.