Piala Oscar 2021: Tiga Film Difabel Jadi Nominator

0
566

Penulis: Kidung Libertha

Newsdifabel.com – Piala Oscar akan digelar lagi dalam masa pandemi. Perhelatan kali ini paling beragam dalam nominasi dari sebelumnya dengan melibatkan difabel. Ini sebuah kemajuan bagi insan perfilman internasional.

Film Sound of Metal masuk dalam daftar nominasi gambar terbaik. Menghadirkan kisah tentang seorang pemain drum tuli yang diperankan oleh Riz Ahmed. Riz belajar bahasa isyarat sebab lawan mainnya adalah Paul Raci, aktor pendukung terbaik, seorang difabel tuli.

Nominator lainnya adalah film dokumenter Crip Camp yang bercerita tentang suasana kamping hippie kaum difabel tahun 1970-an. Dari kamping itu kemudian tercetus gerakan hak-hak difabel di Amerika. Sementara, Feeling Through juga dipuji sebagai film modern pertama yang dibintangi aktor difabel netra, Robert Tarango.

Isu representasi difabel dalam insan perfilman memang semakin menguat yang akhirnya mendapat perhatian dengan masuknya film dan aktor difabel dalam perhelatan penghargaan Piala Oscar yang bergengsi itu.

Tahun 2020 lalu, laporan tahunan yang dirilis oleh USC Annenberg School for Communication and Journalism di Florida, menemukan fakta hanya 2,3% dari 100 film terlaris 2019 yang berbicara tentang difabel. Kepada BBC, Paul Raci sangat mengapresiasi representasi difabel dalam dunia film. Dia mengatakan bahwa ini adalah awal yang baik dengan adanya representasi difabel sebagai kesan bahwa akomodasi semua kalangan harus ada.

Setiap kali musim penghargaan tiba, para sineas dan aktor/aktris difabel selalu berharap untuk melihat beragam kelompok yang mencerminkan representasi kaum minoritas. Sebuah terobosan besar untuk memulai demokratisasi dalam perfilman.

Mitte, yang akan merilis film terbarunya berjudul Triumph, menceritakan tentang seorang siswa sekolah menengah dengan cerebral palsy yang bermimpi menjadi pegulat.

Tiga film nominasi yang bercerita dan diperankan oleh difabel dalam Piala Oscar 2021 antara lain:

Sound of Metal

Berkisah tentang seorang drummer dan teman-temannya yang semuanya memiliki hambatan pendengaran. Di film ini, Riz Ahmad mati-matian berlajar bahasa isyarat Amerika (American Sign Language) dan drum. Hasilnya terlihat natural dalam karakternya. Sementara, aktris tuli lainnya, Lauren Ridloff, tampil tak terlalu banyak.

Dari karakter aktor/aktris difabel ini, tentu masih banyak yang harus diakomodir misalnya, kru film yang ada di balik layar juga harus mengakomodir keterwakilan difabel.

Seorang penulis skenario difabel tuli, Felipe Dumas (29), berkomentar tentang Sound of Metal. Katanya, “Ini benar-benar membuat saya luluh. Film ini indah sekali. Riz Ahmad luar biasa. Aku tersayat-sayat melihat perjalanan Ruben. Film ini sangat mencerminkan kehidupanku yang penuh konflik batin.”

Secara keseluruhan, Sound of Metal sangat bagus, dan telah berani memulai keadilan representasi komunitas difabel tuli. Dan masyarakat juga akhirnya bisa tahu dari film itu bahwa difabel tuli juga lebih dari satu jenis. “Kami spesial meski sering diremehkan. Kami hanya ingin dihargai dan dianggap secara serius.” kata Felipe Dumas.

Crip Camp

Jason (cerebral palsy) berusia 40 tahun dan Joey Rhodes (spina bifida) 42 tahun, seorang YouTubers angkat bicara tentang film ini. “Film dokumenter ini sangat menyentuh kami karena kami benar-benar bertemu di kamping serupa pada tahun 2000 dan menikah tiga tahun kemudian. Sangat menyenangkan melihat generasi sebelum kami.”

Kami berharap ini akan meningkatkan kesadaran. Sejak Crip Camp keluar tahun lalu, kami telah ditanyai oleh sekelompok orang nondifabel apakah kami pernah melihatnya, mengingat sejarah kami. Sebagai satu-satunya pasangan difabel bersama di daerah kami, Texas, kami berharap orang-orang sekarang akan merasa nyaman untuk mengajukan lebih banyak pertanyaan dan ini akan memicu lebih banyak percakapan seputar hak-hak difabel.

Film dokumenter tersebut menunjukkan bahwa dibutuhkan adaptasi dua arah untuk menciptakan perubahan.

Feeling Through

Ini adalah film pendek di mana remaja tunawisma bernama Tereek bertemu dengan seorang pria difabel tuli bernama Artie di halte bus. Premis-premisnya sangat dalam, bisa membuat orang nondifabel menonton dan kenal dengan dunia difabel tuli.

Realitas penggambaran film itu sangat kaya misalkan tentang sejumlah interaksi taktil yang bagus, seperti mengetuk lutut seseorang untuk memberi tahu mereka bahwa kita di sebelah mereka. Konon, adegan itu berdasarkan pengalaman asli sutradaranya, Doug Roland. Feeling Through tidak selalu bicara tentang representasi kedifabelan, juga menyinggung adanya stereotip kepada difabel.

Banyak organisasi difabel senang jika aktor difabel tuli memainkan karakter tuli. The New York Times memuji film tersebut karena dianggap memberikan “jendela ke dunia difabel tuli yang sebagian besar tidak dikenali.”

Meskipun ada beberapa kritik jika diperhadapkan dengan faktanya. Sebagai contoh, seorang difabel netra-tuli ketika membeli barang tidak tahu barangnya atau tertidur di tengah malam di halte bis.

Kepercayaan itu rapuh. Banyak orang difabel takut orang memanfaatkan mereka. Feeling Through tidak hanya menegaskan ketakutan tersebut, tetapi juga mendorong rasa welas asih bagi nondifabel atas keadilan bagi difabel.

Terakhir, beberapa kritikus film mengklaim Feeling Through adalah film pertama yang menampilkan aktor difabel tuli sebagai peran utama. Meskipun kritikus film lainnya menyodorkan fakta bahwa tahun 1919 ada film Deliverance yang menampilkan Helen Keller, berperan sebagai dirinya sendiri dalam film tentang hidupnya.