Perlunya Mempertimbangkan Isu Difabel dalam Arsitektur

0
777

Penulis: Barr

Newsdifabel.com — Difabel seharusnya menjadi subjek yang harus diperhitungkan bagi seorang arsitek ketika mendesain bangunan dan tata ruang, bahkan ini bisa ditujukan pada seorang arsitek difabel. Dalam kajian feminisme, misal, ada perdebatan tentang pertanyaan apakah laki-laki bisa jadi feminis? Itu setara dengan pertanyaan: apakah otomatis arsitek yang difabel memikirkan proyek rancangannya agar aksesibel bagi penghuni difabel?

Konsep bangunan dan tata ruang sebuah hunian atau gedung yang aksesibel tidak hanya mendesain bangunan, tetapi juga merancang alur mobilitas.

Dalam pemikiran konsep aksesibilitas, kita bisa merujuk ke De Hogeweyk, Belanda. Desa tersebut dijalankan oleh panti jompo Hogeweyk yang didesain khusus untuk orang lanjut usia pemilik demensia atau pikun. Keunggulannya adalah desain lingkungan yang menopang program terapi realitas. Misalnya, pengelompokan para penghuni berdasarkan memori terkuat yang mereka miliki. Dengan dipantau oleh perawat dan dokter yang berbaur dalam kehidupan sehari-hari tanpa mengenakan busana ala perawat atau dokter. Perawatan dilakukan 24 jam untuk 152 penduduk desa untuk meminimalisir bertambah parahnya hilangnya ingatan. Proyek dengan fasilitas penuh tersebut memakan biaya 19,3 juta euro atau 326 miliar rupiah.

Selain itu, ada juga DeafSpace. Contoh bagaimana suatu pengetahuan arsitektur yang memikirkan agar bisa mensistematisasi pengalaman difabel tuli. DeafSpace muncul dari serangkaian pertimbangan khusus yang bersumber pada bagaimana cara difabel rungu menavigasi sebuah ruang.

Oleh para pakar difabel tuli, dikatakan bahwa DeafSpace bukanlah program untuk ‘inklusi’ dalam makna ‘memberi ruang’ bagi ketulian. Sebaliknya, DeafSpace dibangun di atas pengamatan yang sangat dekat terhadap perilaku yang sudah terjadi di antara orang-orang difabel tuli seperti perilaku linguistik dan sosial, hubungan spasial, bidang visual, dan menghidupkan fungsi suara bagi difabel tuli dengan sisa pendengaran minim. Termasuk adanya universitas yang menjadi satu-satunya dengan rancangan bebas hambatan, yaitu Universitas Gallaudet.

Sebuah desain ruang hunian atau bangunan publik yang baik adalah desain yang dinamis, seolah bisa berinteraksi dengan penghuni difabel. Sehingga bangunan itu seperti hidup, bukan desain yang mati.

Salah satu alasan mengapa difabel belum diintegrasikan secara menyeluruh ke dalam pendidikan desain adalah karena isu aksesibilitas untuk difabel dianggap tak menarik.

Kamar mandi dengan pintu ukuran lebar dam ruangnya yang memudahkan penghuni memutar balik kursi rodanya atau perabot rumah yang portable/ringkas adalah imajinasi yang tak hadir dalam perspektif desain.

Penting untuk merefleksikan lebih lanjut mengapa metode desain yang biasa tidak membahas variasi tubuh manusia. Sebagai seorang sejarawan, Prof. Hamraie mencatat bahwa selama disiplin desain telah diprofesionalkan, belum banyak upaya untuk memungkinkan difabel menjadi desainer. Hamraie seorang profesor medis dan kesehatan masyarakat, yang juga penulis buku tentang disabilitas, kritik desain, keadilan desain, dan kehidupan berjudul Building Access: Universal Design and the Politics of Disability. Dia salah satu pendiri Nashville Disability Justice Collective, dan penyelenggara Nashville Mutual Aid Collective.

Hamraie telah melakukan pengorganisasian untuk keadilan disabilitas selama 10 tahun di samping pekerjaannya. Sebagai sebuah profesi, arsitek dapat berbuat lebih banyak untuk menyertakan desainer dengan berbagai kemampuan di jajarannya untuk membiasakan diri membuat skema bangunan yang aksesibel.