Perlukah Disabilitas Mengenyam Pendidikan Tinggi?

0
359
Foto: http://capecodchronicle.com

Oleh: Ravindra Abdi Prahaswara |

[Jakarta, 12-09-2018] Setiap manusia lahir ke dunia dalam kondisi sama. Sama-sama diciptakan oleh Tuhan, sama-sama lahir dari perut seorang ibu, dan sama-sama memiliki hak untuk hidup. Tuhan menciptakan manusia dengan kondisi yang sempurna. Yakni memiliki akal yang digunakan berfikir. Kemampuan berfikir inilah yang menjadi dasar bagi manusia untuk dapat menjalankan perintah tuhan dalam hal menuntut ilmu lewat suatu proses pendidikan.

Proses pendidikan sebenarnya sudah dimulai ketika seorang manusia dilahirkan. Berawal dari lingkungan keluarga, seorang anak dididik oleh ibu dan bapaknya. Menginjak usia sekolah, anak mulai dimasukkan ke jenjang pendidikan formal agar memperoleh cukup ilmu pengetahuan yang dapat menyongsong masa depannya. Lalu bagaimana anak penyandang disabilitas itu bisa memperoleh pendidikan formal?

Untuk anak-anak dengan disabilitas, sejak dulu sudah berdiri sebuah sekolah khusus yang memang diperuntukkan untuk memberikan Pendidikan bagi mereka. Sekolah itu diberi nama Sekolah Luar Biasa yang di dalamnya meliputi SDLB, SMPLB, dan SMALB dengan kekhususan yang berbeda-beda. Namun, jika anak penyandang disabilitas sudah memiliki kemampuan yang memadai untuk belajar bersama dengan teman-temanya yang non-disabilitas, maka sebaiknya anak penyandang disabilitas disekolahkan di sekolah regular melalui program inklusi. Dengan disekolahkan di sekolah regular, anak penyandang disabilitas diharapkan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan masyarakat sesungguhnya dan mampu bersaing secara akademis dengan anak lain yang non-disabilitas.

Perlukah penyandang disabilitas mengenyam pendidikan tinggi?

Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, banyak orang tua dari penyandang disabilitas yang bingung akan nasib anaknya. Tidak seperti orang tua lain yang memiliki anak non-disabilitas, mereka semangat mendorong anaknya untuk melanjutkan sekolah ke jenjang pendidikan tinggi. Meski begitu, ada juga orang tua yang memilih meminta anaknya untuk langsung mendaftar kerja. Yang membuat orang tua dari anak penyandang disabilitas bingung adalah kurangnya keterampilan yang dimiliki anaknya, lapangan kerja yang menolak adanya disabilitas, rasa takut menyekolahkan anaknya di perguruan tingi, dan masalah ekonomi. Akhirnya banyak dari mereka yang membiarkan anaknya putus sekolah dan kehilangan masa depan.

Kasus semacam ini banyak, dan sering kita jumpai di desa maupun kota. Kurangnya informasi yang dimiliki orang tua, menimbulkan cara pandang mereka lebih ke arah pesimis dan negatif terhadap nasib anaknya sendiri. Mereka lupa bahwa Allah sudah menjamin rizki untuk setiap manusia dengan adil tanpa ada yang dilupakan. Sesungguhnya rizki, jodoh, maut itu sudah diatur oleh Allah. Jadi, sebagai orang tua, hendaknya yakin dan menyerahkan semuanya kepada janji yang pasti datangnya dari Allah. Biarkan anak menentukan nasib dan pilihanya sendiri. Dukung anak dengan sepenuh jiwa, raga, dan doa tentunya.

Seiring pesatnya kemajuan zaman beserta ilmu pengetahuan, pendidikan tidak cukup berhenti sampai jenjang menengah saja. Perlu dilanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi agar pengetahuan manusia berkembang optimal. Para penyandang disabilitas memiliki kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan tinggi. Pemerintah juga sudah menetapkan peraturan yang mengatur bahwa para penyandang disabilitas berhak melanjutkan pendidikannya setinggi mungkin, sebagaimana tertuang dalam UU No. 8 tahun 2016 dan Permenristekdikti No. 46 tahun 2017. Hal ini perlu disambut baik khususnya oleh penyandang disabilitas sendiri dan tidak menyia-nyiakan kesempatan emas yang sudah diperjuangkan oleh berbagai pihak ini.

Dengan disabilitas menempuh pendidikan setinggi mungkin, nantinya lapangan pekerjaan juga akan semakin terbuka dengan sendirinya. Saat ini memang sudah diatur dalam UU No. 8 2016 bahwa perusahaan swasta berhak menyediakan 1% dari total karyawannya untuk penyandang disabilitas, sedangkan perusahaan milik Negara wajib mempekerjakan 2% pegawainya. Namun faktanya banyak perusahaan yang masih melakukan penolakan dengan alasan ijazah dan lain-lain. Oleh karena itu disabilitas perlu mengenyam pendidikan tinggi agar memiliki kesetaraan dengan mereka yang bukan disabilitas. Dan Negara wajib menyediakan, dan mengelola infrastruktur yang ramah bagi disabilitas.