Perkenalan Difabel dengan Dunia

0
35

Oleh: Dera Sofiarani

[Bandung, 7 November 2019] Pengalaman ini ingin sekali aku jadikan sebuah inspirasi untuk teman-teman tentang stigma disabilitas. Tepatnya terjadi pada malam minggu kemarin, ketika salah satu temanku bernama Rendra. Kak Rendra, begitu aku memanggilnya, meminta untuk menemaninya dalam mengisi acara di sebuah hotel yang bernama Javaretro Hotel and Suite. Kak Rendra memintaku menjadi penyanyi di malam minggu itu.

Dengan senang hati aku pun menyetujui ajakannya karena aku juga kebetulan sedang tidak ada kegiatan apa-apa di malam itu. Sampai di hotel kurang lebih jam 7 malam menggunakan angkutan umum online. Setibanya di lokasi, Kak Rendra sudah memainkan keyboard-nya. Aku tegopoh-gopoh menghampiri sambil melempar senyum ramah, lalu menyapanya. Ketika aku hendak duduk di kursi yang biasa aku duduki ternyata ada seorang lelaki yang ingin menyanyikan sebuah lagu dan meminta Kak Rendra untuk mengiringinya. Aku ingat lagu itu berjudul If I Ain’t Got You. Lagu yang menjadi favoritku juga dari dulu hingga sekarang.

Semua berjalan sebagaimana mestinya, dan aku turut menikmati irama lagu. Sampai ketika aku bernyanyi, di pertengahan lagu yang aku nyanyikan, hujan turun tiba-tiba. Sehingga membuat semua alat musik harus dilindungi dari hujan dengan digeser ke depan. Aku dengar dan sangat mendengar dengan jelas saat sebuah suara berkata kepadaku “Hey kamu gak kena air hujan kan?” Sontak aku pun menoleh dan aku tersenyum sembari menggelengkan kepalaku dan berkata, “Enggak, kok”.

Tak terasa waktu telah menunjukkan dimana aku dan Kak Rendra harus beristirahat sejenak sekitar 30 menit. Sebelumnya aku biasa duduk dengan Kak Rendra sambil memesan kopi dan teh manis, tapi malam itu semuanya berbeda ketika suara seseorang terus saja memerhatikanku, entah bagaiaman ceritanya akhirnya kami saling bertukar ID instegram. Setelah jam 10 malam, sudah saatnya pulang, kembali lagi aku memesan angkutan online. Saat di perjalanan iseng-iseng aku membuka instagramku untuk mengusir kejenuhan karena kemacetan.

Aku terkejut ketika sebuah pesan tertera pada pemberitahuan di instagram, aku membukanya. “Hey, kamu sudah pulang, ya? Hati-hati di jalan, ya, ini sudah malam. Kalau sudah sampai di rumah, kabari aku, ya.” Kubaca dengan alis berkerut, pertanda tak mengerti apa maksud di balik sapaan perhatian tersebut. Sesampainya di indekos, kembali kubuka pesan di telepon genggamku. Ada pesan berisi perkenalan diri.

Semenjak itu, kami selalu berbalas pesan melalui whatsapp. Aku bercerita tentang diriku dan memberitahu bahwa aku seorang disabilitas. Mendengar penjelasanku, dia justru ingin lebih dalam mengenal dunia disabilitas.

Sampai di titik ini, aku masih percaya bahwa ada orang-orang yang memiliki daya empati terhadap disabilitas, yang, semoga, selalu bersemayam di hati mereka. Sebab itu modal dasar manusia agar menjauhkan mereka dari pandangan diskriminasi.

Siapalah aku ini yang hanya sekedar manusia biasa, tapi berawal dari sini, aku ingin semua manusia yang menganggap dirinya biasa ataupun luar biasa bisa saling berbaur dan saling memahami keduanya. Aku yakin di luaran sana, aku masih harus memberitahu bahwa penyandang disabilitas seperti aku atau yang lain tetap bisa memperkenalkan diri dengan baik di mata dunia.