Peringatan Hari Berkabung Disabilitas

0
824

Penulis: Barr

Newsdifabel.com – Pada tahun 2012, Elizabeth Hodgins menembak dan membunuh putranya, George yang berusia 22 tahun di Sunnyvale, California. Dia kemudian mengarahkan pistol ke dirinya sendiri. Meskipun dia membunuh anaknya sendiri, pemberitaan lokal menggambarkan Elizabeth Hodgins sebagai “ibu yang berbakti dan penyayang“. George, di sisi lain, disebut “low functioning and high maintenance”.

George seorang autis, dan artikel-artikel media lokal memuat narasi bahwa kedifabelan George membuatnya bertanggungjawab atas kematiannya sendiri. Sementara, di sebuah media online, San Jose Mercury News, seorang ibu yang mengenal keluarga Elizabeth Hodgins mengatakan bahwa dirinya tidak bisa memahami apa yang menyebabkan Elizabeth melakukan itu.

Zoe Gross, direktur advokasi di Autistic Self Advocacy Network turut berkomentar bahwa kejadian itu sangat memilukan, pembunuhan dan bunuh diri yang dilakukan tidak ada hubungannya dengan kondisi kedifabelan. Sebuah pembunuhan adalah pembunuhan.

Gross melihat pola bagaimana media meliput pembunuhan George dan pembunuhan serupa lainnya. “Sepertinya mereka mengerjakan skrip yang sama.… Kami cukup jelas bahwa apapun yang terjadi dalam hidup seseorang, pembunuhan tetap tidak dapat diterima.”

Sebagai tanggapan, Gross mendirikan Disability Day of Mourning (Hari Berkabung Disabilitas) pada 1 Maret dan dirayakan setiap tahunnya, mereka berkumpul  demi mengenang dan berduka untuk difabel yang dibunuh oleh pengasuhnya.

Disability Day of Mourning telah menjadi gerakan internasional. Karena pandemi, semua aktivitas akan dilakukan secara virtual, kecuali di Sydney, Australia, dimana Covid-19 tidak begitu meluas. Agenda virtual biasanya dimulai dengan menyebut semua nama korban difabel yang meninggal dalam katalog berjudul Record of the Dead.

Memang belum jelas berapa banyak kasus pembunuhan bermotif kedifabelan dalam setiap tahun. Sementara FBI mencatat, memang ada pembunuhan anak-anak oleh orangtuanya di Amerika Serikat namun mereka tidak mencatat motifnya.

Sebaliknya, Autistic Self Advocacy Network melacak berita tentang pengasuh yang membunuh anak asuhnya. Karena sifat laporan berita yang tertunda dan tidak lengkap, pembunuhan kadang-kadang ditambahkan ke basis data bertahun-tahun setelah kejadian itu terjadi. Mereka menemukan data bahwa pandemi ini meningkatkan kekerasan dalam rumah tangga, dan difabel dalam sebuah keluarga lebih cenderung menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga, termasuk pelecehan seksual.

Sampai saat ini yang paling bisa dilakukan adalah memantau, mengontrol, dan memberikan edukasi berkala ke setiap rumah tangga yang memiliki anak difabel, terutama yang menggunakan jasa pengasuh anak.