Perempuan Tunanetra Belanja ke Pasar Tradisional

0
864
Suasana Pasar Tradisional (Foto: www.rmoljabar.com)

Oleh: Latipah

[Bandung, 20 Oktober 2018] Berbelanja di pasar tradisional merupakan hal
yang biasa dilakukan oleh kebanyakan perempuan. Hal ini akan sedikit tidak
biasa jika dilakukan oleh seorang tunanetra. Fati, seorang perempuan tunanetra
yang berdomisili di daerah Cimahi bercerita tentang dirinya yang suka pergi ke
pasar tradisional untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Fati biasa
berbelanja di pasar tradisional terdekat. Pasar Atas, adalah pasar tradisional
yang sering Fati kunjungi saat ini, karena dia tinggal di wilayah Cimahi. Dahulu,
ketika Fati duduk di bangku kuliah, dia sering berbelanja di Pasar Gerlong,
karena kampusnya berada di sekitar daerah Ledeng, Bandung.

Dua hal yang harus dilakukan oleh seorang
tunanetra yang baru pertama berbelanja sendiri di pasar tradisional menurut
Fati adalah, mau berkeliling jalan-jalan di sekitar pasar, dan yang kedua,
harus berani bertanya kepada orang-orang yang ada di sekitar, baik yang sedang
berbelanja ataupun kepada para pedagang. Hal ini dikarenakan  seorang tunanetra tidak tahu dimana lapak dari
barang yang hendak dibelinya. Jika pergi ke pasar yang sama untuk yang
keduakalinya, seorang tunanetra tidak akan terlalu bingung dengan posisi para
pedagang karena lapak para pedagang tersebut akan berada di tempat yang sama.

Fati biasanya membuat catatan apa-apa saja
yang akan dibelinya. Menurut Fati, hal ini akan lebih memudahkan seorang
tunanetra seperti dirinya untuk berbelanja di pasar tradisional. Mengapa
begitu? Karena, sejak dari awal, kita akan mengetahui lapak-lapak apa saja yang
akan dikunjungi. Misal, kita akan berbelanja ikan, sayur-mayur, minyak goreng,
kerupuk, dan lainnya. Maka, kita akan bertanya kepada orang terdekat, dimana lapak
para pedagang ikan-ikanan. Baru setelah itu, kita bertanya kembali dimana letak
lapak sayur-mayur, dan seterusnya. Respon para pedagang dan para pembeli kepada
Fati sebagai seorang tunanetra yang berani untuk turun berbelanja sendiri pun beragam.
Ada yang telah faham bahwa dirinya memang seorang tunanetra yang benar-benar
akan berbelanja di pasar tersebut, ada juga yang mengira bahwa dirinya pergi ke
pasar hanya untuk mencari belas kasihan dengan cara meminta-minta. Fati tidak
marah kepada mereka yang mengira bahwa dirinya pergi ke pasar hanya untuk
meminta-minta, Fati justru merasa bahwa ini adalah tugasnya untuk menghapus
anggapan orang kebanyakan. Sebisa mungkin Fati menolak pemberian orang tersebut
dan berkata bahwa dirinya pergi ke pasar bukan untuk meminta-minta, tetapi
memang akan berbelanja. Ada orang yang kemudian percaya, dan ada juga orang
yang bersikeras memaksanya untuk menerima pemberian tersebut. Ada juga para
pedagang yang membantunya meyakinkan orang lain bahwa memang benar Fati pergi
ke pasar untuk berbelanja. Tantangan mental yang benar-benar harus dihadapi
oleh benteng kepercayaan-diri yang kokoh.

Untuk masalah memilih barang yang akan
dibeli, Fati lebih banyak pasrah saja dengan barang yang dipilihkan oleh
pedagangnya, karena akan sedikit sulit jika dirinya memilih barang sendiri.
Ketika ditanya adakah pedagang yang curang? Fati menjawab bahwa, di dunia ini
orang yang baik lebih banyak daripada orang yang tidak baik. Seringnya, para
pedagang akan memilihkan barang yang bagus, meskipun ada juga pedagang yang
memberi barang yang kurang bagus. Misal, ketika berbelanja ikan, pedagang
memberi ikan yang sudah tidak segar. Jika hal ini terjadi, Fati biasanya tidak
akan datang membeli lagi di lapak yang sama. Dirinya akan mencari lapak lain di
pasar yang sama. “Yang jual ikan, kan, banyak, nggak cuma satu. Intinya, kita harus hafal dan mengenali letak
lapak para pedagang, agar, jika kita menemukan pedagang yang tidak jujur, kita
tidak akan kembali ke lapak pedagang tersebut. Kita bisa mencari lagi pedagang
yang lain. Seorang tunanetra harus kreatif dalam hal apapun, termasuk ketika berbelanja.”
pesan Fati kepada para pembaca.