Perempuan Difabel Rentan Mengalami Pelecehan Seksual

0
512

Penulis: Rosa Trimurti

Newsdifabel.com — Seorang perempuan meminta tolong untuk diantarkan ke suatu tujuan, dia menawarkan lengannya agar dituntun, dan seorang laki-laki memegangnya sambil meraba-raba tubuhnya.

Angharad Paget-Jones (27), memiliki gangguan penglihatan yang parah dan mengatakan beberapa laki-laki telah memanfaatkannya dengan kedok membantu.

Sejak 2018, perempuan difabel hampir dua kali lebih mungkin mengalami kekerasan seksual dibandingkan perempuan non-difabel. Paget-Jones mengatakan pendidikan yang lebih baik diperlukan untuk menghentikan hal ini terjadi.

Paget-Jones, dari Port Talbot, mengatakan dia telah diganggu di depan umum beberapa kali saat keluar dengan Tudor, anjing penuntunnya, yang membuatnya ketakutan.

Dia teringat satu kejadian ketika Paget-Jones berjalan dan mendengar sekelompok anak laki-laki berbicara dengan yang lain, “Kau bisa menangkapnya, dia tidak bisa melihat.” Mendengar itu, Paget-Jones memutar arah jalannya.

“Perempuan difabel tidak dihargai. Kami hanya dipandang sebagai kelompok rentan. Masyarakatlah yang membuat kami rentan,” kata Paget-Jones.

Dia menginginkan pendidikan yang lebih baik tentang bagaimana para difabel dihargai dan direspon serius ketika dirinya melaporkan masalah pelecehan seksual ke petugas polisi.

“Saya melaporkan sebuah insiden kepada seorang petugas keamanan di sebuah stasiun kereta api terkenal di London dan dia hanya mengatakan kepada saya bahwa pakaian saya seharusnya tidak terlalu minim.”

Pola pikir masyarakat seperti ini ada di semua tempat, tapi itu sebuah pemikiran yang sangat kasar dan salah. Sebab persoalannya bukan pada cara perempuan berpakaian tetapi ada pada cara berpikirnya pelaku pelecehan seksual. Yang harus dipermasalahkan adalah cara berpikirnya sebab, dalam banyak kasus, korban pelecehan seksual sudah menggunakan pakaian yang tertutup.

Untuk meningkatkan kesadaran, Paget-Jones menggunakan tagar #dontgrabjustask di media sosial, untuk mendorong sebuah gerakan kesadaran agar menghentikan pelecehan seksual pada perempuan, khususnya perempuan difabel.

Amy-Claire Davies (26) dari Swansea, mengatakan dia memiliki pengalaman serupa. Dia adalah pasien perawatan paliatif dan mengalami kejang akibat epilepsi bersama dengan nyeri kronis yang parah.

“Saya berada sebuah klub malam dengan beberapa teman di kursi roda, seorang pria terus datang dan mencoba berinteraksi dengan saya. Saya dengan sangat jelas menyuruhnya pergi saja,” katanya.

“Dia menunggu sampai teman-temanku pindah. Dia tahu aku tidak bisa pergi kemana-mana. Dia datang dan memasukkan tangannya ke bajuku.”

Amy-Claire juga mengatakan dia pernah mendapati dirinya mengalami cat calling dan diganggu secara verbal di jalan ketika dia bersama seorang pengasuh perempuan, tetapi tidak ketika dia bersama seorang pengasuh laki-laki, dan menjadi difabel dapat mendorong laki-laki untuk bertindak tidak pantas.

“Ketika kau memiliki alat bantu mobilitas atau sesuatu yang dapat dilihat orang yang membuatmu terlihat difabel, saya pikir ada beberapa orang yang akan melihatmu lebih rentan dan akan memanfaatkannya,” katanya.

Dia menambahkan bahwa laki-laki memiliki “pengalaman yang sangat berbeda” saat berada di depan umum meskipun mereka juga difabel.

“Kami perlu mendengarkan suara perempuan di seluruh Wales untuk mengatasi masalah ini.” Pada tiga tahun terakhir, perempuan difabel hampir dua kali lebih mungkin mengalami kekerasan seksual sebanyak 5,7 persen dibanding perempuan non-difabel dengan angka 3 persen.

Charlotte Archibald, dari Welsh Women’s Aid, mengatakan penelitian oleh badan amal tersebut menunjukkan mereka yang difabel memiliki peluang lebih tinggi menjadi sasaran pelecehan seksual.

Setelah mendengar pengalaman Paget-Jones dan Amy-Claire, Archibald berkata: “Saya pikir itu mengerikan mendengar pengalaman para perempuan ini. Pengalaman pelecehan seksual sangat berbeda bagi perempuan difabel.

Mereka, perempuan difabel tidak memiliki mekanisme untuk melepaskan diri dari situasi yang mungkin dialami perempuan lain. Pengalaman-pengalaman perempuan di Wales adalah sebuah kenyataan dan harus direspon serius agar beban perempuan difabel dalam menjalani hidupnya tidak ditimpa oleh kejahatan ganda: diskriminasi dan kekerasan seksual. Terdiskriminasi sebagai difabel sekaligus terdiskriminasi sebagai perempuan.