Penyanyi Kamar Mandi

0
390

Penulis: Neneng 

Hah! gue kesiangan lagi nih. Sudah dua pagi ini jadwal bangun subuh gue terlewat. kemarin begadang demi tugas kuliah, eh sekarang kok lupa nge-charge HP. Jadi alarm tak ada gunanya deh. Seminggu sebelum dua hari lalu, gue punya agenda bangun subuh dan mandi jam empat pagi. Tapi itu bukan karena gue rajin atau ngejar salat subuh yang takut terlewat, melainkan hanya untuk mendengar suara perempuan yang terdengar sedang mandi sambil bernyanyi. Maklum, man, gue kan tinggal di perumahan yang tipenya imut-imut gitu, jadi gak anehlah kalau posisi rumah-rumahnya berpunggungan, letak kamar mandi pun saling menempel. Kenapa gak sekalian aja tuh developer bikin sedikit fentilasi ya? Huhuhu, itu si khayalan gue doang.

Balik ke si penyanyi kamar mandi tadi, asli gue jatuh cinta pada pendengaran pertama. Suaranya lembut, manis, dan lagu-lagu yang dia nyanyiin gue suka semua. Lagu yang dia bawain tidak kekinian, tapi karena gue juga seleranya jadul, ya berasa nyambung lah. Bahkan pernah juga kami sahut-sahutan karena lagu yang dibawain sama-sama tahu. Sepertinya jangan dibiarkan terlalu lama, gue harus segera tau siapa si penyanyi kamar mandi itu, dan sepertinya gue akan dapat jawaban kalau gue berani nanya sama ortu, secara mereka aktivis komplek, bahkan ayah menjabat sebagai RT.

Pagi ini gak biasanya gue ikut sarapan bareng keluarga. Sengaja, selain dah lama gak ngumpul bareng mereka, gue juga punya misi cari tahu si penyanyi kamar mandi. Di meja makan, sudah berkumpul ayah, ibu, dan si manis Maya, adikku satu-satunya. Mereka tampak heran melihat gue ikut duduk dan mengambil sarapan, tapi gue pura-pura aja gak tahu keheranan mereka.

“Wah, tumben nih, gantengnya ibu ikut sarapan. Biasanya kalau gak keburu-buru pergi kuliah, ya masih dalam mimpi,” ujar ibu menggoda.

“Gak kok, Bu, sekarang kakak rajin. Maya aja udah beberapa kali mergoki kakak abis mandi subuh,” Maya menimpali.

“Nah, gitu dong. Tetapkan ya, kebiasaan baik jangan dirubah lagi,” ayah ikut nimbrung. Sementara gue hanya sennyum-senyum sok manis.

“Bu, kalau rumah yang di blok C, yang persis berpunggungan dengan rumah kita itu rumah siapa ya?” gue mencoba membuka pembicaraan.

“Oh, itu rumah pak Andi. Mereka tetangga baru, seminggu yang lalu pindahnya. Kenapa gitu?”

“Ga apa-apa. Cuma pingin tau aja. Sudah punya anak atau belum mereka, Bu?” gue mulai mengarahkan pertanyaan ke maksud yang sebenarnya. Tapi sepertinya ibu dan ayah tidak curiga, bahkan ibu dengan antusias menjelaskan kalau ibu belum tau dan belum kenal dengan tetangga barunya itu. Ayah pun ikut menimpali kalau dia pun sama, karena waktu tetangga baru itu mengadakan syukuran pindahan, ayah ada acara lain, sehingga tak bisa datang. Namun pak Andi pun demikian, belum sempat melapor pada RT padahal setiap warga baru diwajibkan melapor dan menyerahkan bukti tanda kependudukan seperti KTP dan KK.

Otak brilian gue pun langsung menangkap sinyal kuat. Ide atau lebih tepatnya modus muncul dalam pikiran gue. “Tenang aja, kalau ayah sibuk biar nanti pulang dari kampus kakak mampir ke rumah Pak Andi, kakak ambilin KK dan KTP-nya. Takutnya mereka juga sibuk kayak ayah sama ibu.” Tentu saja mereka senang sekali mendengarnya, bukan karena gue yang berbaik hati membantu mengambilkan dokumen Pak Andi, tetapi mereka senang melihat perubahan gue yang drastis, menjadi baik dan pedulian.

Setelah sarapan selesai, gue pun langsung cabut OTW kampus. Gak ada kelas sih, hanya ingin sedikit nongkrong-nongkrong di kantin sambil pamer sama kedua solmet gue, Firman dan Aris, kalau gue akan segera ngedapetin si penyanyi kamar mandi yang sempat gue ceritakan pada mereka. Seperti biasa, Firman dan Aris akan mencibir setelah mendengar cerita gue yang satu ini. Mereka menganggap gue berlebihan, menyukai orang hanya karena suaranya, dan sama sekali gak tau siapa dia.

Bahkan Aris terang-terangan bilang, “Ngayal lu ketinggian’, Bro. Gimana kalau pas ketemu, itu cewek dah emak emak atau wajahnya tak sesuai harapan?”

Tapi gue gak peduli dengan mereka yang menganggap gue halu. Gue yakin kalau kali ini feeling gue benar dan gue-lah yang akan lebih dulu menanggalkan status jomblo dari mereka berdua.

Akhirnya, gue memutuskan gak lama-lama di kampus. Selain ngumpul dengan Firman dan Aris kurang menyenangkan, gue juga semakin gak tahan dengan rasa penasaran ingin segera mengetahui siapa si pemilik suara bagus yang sukses membuat gue jatuh cinta itu. Setelah pamit pada mereka berdua, gue pun langsung melajukan sepeda motor, keluar dari pelataran kampus.Tidak sampai satu jam, gue tiba di komplek perumahan gue. Tetap pada tujuan semula, gue langsung menuju alamat rumah Pak Andi.

Sampailah gue di depan sebuah rumah yang halamannya penuh dengan tanaman bunga. Seorang wanita sebaya ibu tampak sedang asik menyirami tanaman. Gue langsung turun dari motor, lalu dengan penuh hormat mengucapkan salam pada ibu itu. Salam gue dibalas dengan ramah. Gue pun dipersilakan masuk. Kami berbincang basa-basi, saling memperkenalkan diri. Ibu itu senang sekali setelah mendengar penjelasan gue yang mewakili ayah selaku ketua RT untuk mengucapkan selamat bergabung jadi warga di tempat ini.

Tibalah pada tujuan gue yang paling penting. Gue mulai menanyakan apakah Bu Andi memiliki anak atau tidak. Tentu saja dengan bahasa yang sangat santun yang gue pelajari dari ibu, dan betapa senangnya hati gue, ketika si ibu mengatakan kalau dia punya seorang putri yang sedang kuliah semester lima bahkan sekampus dengan gue. Belum selesai sampai di situ, gue makin seneng saat tau kalau anak bu Andi juga satu jurusan dengan gue. Gue kenal gak ya? Berarti dia adik angkatan. Tapi siapa? Ah, seiring waktu pasti gue akan tau.

”Maaf, namanya siapa ya, Bu? Mungkin saya kenal, saya juga kuliah di sana, satu jurusan pula.”

“Namanya Diana, nak, coba aja cari. Kalau kenal kan enak ya. Kalau kebetulan jadwal kuliahnya sama bisa berangkat sama-sama.”

Aaaah, berangkat sama-sama? Membayangkannya aja dah seneng banget, guys, gimana kalau benar-benar nyata, coba.

“Maaf, Diana pinter nyanyi ya, Bu?” gue melanjutkan penyelidikan.

“Ah, tidak sama sekali, nak, dia anaknya tomboy, senangnya yang berhubungan dengan bela diri gitu.” Asli gue kaget, tapi segera gue sembunyikan.

“Lalu siapa ya, Bu, yang subuh-subuh suka nyanyi di kamar mandi? Suaranya bagus banget.”

“Oooh, itu, dia Bi Sumi, pekerja rumah tangga di sini. Duh, maaf ya, nak, kalau Bi Sumi suaranya berisik dan mengganggu keluargamu,” tutur Bu Andi. Suaranya begitu lembut, tapi terdengar menggelegar seperti petir di siang bolong.

“Nantilah kalau dia datang, ibu akan mengingatkan agar dia jangan terlalu keras kalau nyanyi di kamar mandi. Sekarang sih kebetulan Bi Suminya sedang pulang kampung, katanya cucunya sakit,” lanjut Bu Andi menjelaskan, sekaligus membuat gue semakin lemes.

“Ah, gak apa-apa, Bu, gak mengganggu kok. Kalau begitu saya pamit pulang dulu ya, Bu,”

Gue langsung berdiri dan menyalami bu Andi, udah gak ingin lagi gue berlama-lama di rumah ini.

Bertepatan dengan itu, seorang gadis muncul dari balik pintu. Wajahnya bener-bener gak asing buat gue. Dia Lis, gadis tomboy plus judesnya gak ketulungan. Lis juga yang sebulan lalu bikin Firman kelepek-kelepek sekaligus langsung patah hati karena Lis menolaknya tanpa basa basi.

“Lis, lu?”

“Iya, gue Lisdiana. Kok lu bisa ada di rumah gue?”

Bu Andi langsung menjelaskan siapa gue dan kenapa gue ada di sini. Setelah mengucap salam, gue langsung menerbangkan sepeda motor menuju rumah, tanpa menengok lagi ke belakang.

Sesampainya di rumah, gue langsung masuk kamar, menjatuhkan diri di tempat tidur. Rasa kesal plus malu bercampur menjadi satu. Belum lagi, gue mesti memikirkan bagaimana gue menjelaskan cerita ini pada Firman dan Aris. Pasti gue akan dibuli mereka habis-habisan.

Ah, ternyata gelar jomblo masih belum bisa lepas dari kami bertiga. Ambyar!