Pengalaman saat Seminar

0
369

Oleh: Bayu

[Bandung, 26 Oktober 2018] Dia adalah seorang mahasiswa tunanetra, yang rajin pergi ke kampus untuk ketemu teman, lalu ngopi, dan merokok. Semangatnya pergi ke kampus tak usah diragukan karena di kampuslah dia bisa banyak ketemu orang-orang sekampusnya. Termasuk sekedar untuk mejeng. Maklum, dia kebetulan seorang jomblo. Jika ada seminar di kampus dia selalu ikut, bayar tiket seminar, masuk ruangan, duduk mendengarkan pemateri, pasang wajah serius, lalu tidur. Lho, kok tidur? Ya gimana enggak tidur, materi yang dibagikan kepada peserta seminar, termasuk dia yang tunanetra sejak zaman orde baru, berbentuk print out yang tak bisa diakses oleh tunanetra. Ya kalau repot untuk diterjemahkan dalam tulisan braile, setidaknya ada dalam bentuk soft file agar bisa dibaca di laptop atau dikirim lewat handphone.

Materi yang disampaikan oleh pemateri pun menjadi seperti dongeng sebelum tidur. Ditambah lagi dengan menyampaikan materinya menggunakan power point yang entah apa isinya, ada videonya juga, dan entah apa gambarnya.

Di saat itulah muncul rasa yang tak diinginkan, rasa yang tak diharapkan, ingin menolak tapi tak mampu. Kemudian rasa itu memaksa, dan memaksa hati yang tadinya enggan ingin menolak, lambat-laun terpaksa menerima dan akhirnya menikmati kenikmatan alamiah. Rasa itu adalah rasa kantuk yang teramat sangat. Tidur, lalu bermimpi ketemu Pak jokowi dan Yura Yunita. Entah apa hubungannya mereka berdua, kok tiba-tiba hinggap di mimpi.

Ya, karena tak banyak yang dapat diakses, hanya bermodalkan pendengaran, lalu mengaktifkan imajinasi, dan rasa kantuk itu hadir karena lelah berimajinasi. Mungkin jika orang lain yang bukan tunanetra belum tentu mengantuk karena dapat menikmati sajian materi yang ada di print out, power point, dan tentu melihat penjelasan pemateri dengan menggunakan video.

Sedikit aku beri tahu, dia adalah mahasiswa tunanetra yang tak pernah marah kecuali digigit anjing. Dia juga yang selalu mampu bangkit ketika terjatuh ke dalam got. Kali ini, dia mencoba membandingkan antara ikut seminar di kampusnya dengan pengalamannya saat menonton bioskop bersama sahabat-sahabat dari komunitas Bioskop Berbisik beberapa waktu yang lalu. Komunitas Bioskop Berbisik adalah komunitas penggemar film yang membantu teman-teman tunanetra menikmati film-film di bioskop. Lalu, seperti apa teknisnya? Teknisnya adalah adanya prinsip tutor teman sebaya seperti dalam pembelajaran pendidikan inklusif, maksudnya adalah, ketika menonton di bioskop, setiap tunanetra  yang menonton, didampingi oleh satu orang pendamping yang bukan tunanetra. Pendampingan dilakukan untuk menerjemahkan adegan-adagan dalam film yang ditonton. Sebagai contoh; ketika ada adegan yang bersifat visual (tanpa suara percakapan) maka oleh pendamping dijelaskan secara verbal tentang adegan yang berlangsung, sehingga informasi mengenai film yang sedang dinikmati oleh tunanetra dapat diketahui tidak hanya yang didengar sendiri oleh tunanetra tersebut melainkan juga adegan visual yang dijelaskan oleh para pendamping mereka masing-masing saat sedang menonton film tersebut di bioskop.

Kembali ke situasi seminar tadi. Paling-tidak, seminar yang dilaksanakan bisa seperti kegiatan menonton di komunitas Bioskop Berbisik sehingga peserta tunanetra bisa lebih banyak menyerap informasi saat seminar karena adanya pendamping khusus yang membantu menjelaskan. Kesulitan lain adalah, ketika pemateri menampilkan power point.

Terkadang masih banyak orang berfikir, aksesibilitas adalah bagaimana menyediakan infrakstruktur saja, padahal beriringan dengan itu, suprastruktur juga penting untuk dibangun, dikembangkan hingga sampai pada batas maksimalnya. Kapasitas manusianya; ilmu pengetahuan dan kesadaran yang ilmiah. Dua hal itu juga mengalami kendala aksesibilitas karena, berkaitan dengan infrastruktur akses berilmu-pengetahuan yang tidak serius diwujudkan. Bisa dicek, sudah berapa banyak buku yang aksesibel? Ada berapa kampus yang proses belajar-mengajarnya ramah difabel?

Untuk mengerti dan mengimplementasikan layanan yang aksesibel, dapat dilakukan mulai dari hal yang sederhana. Jika serius, pasti tercapai mimpinya. 

`