Pengalaman Rizwan Hermawan Sebagai Juru Bahasa Isyarat

0
633

Penulis: Zaenal

Newsdifabel.com — Dalam kajian antropologis terungkap bahwa pada awalnya, bahasa terbentuk dari satuan-satuan bunyi yang sama untuk mengidentifikasi benda, arah, musim, dan lain-lain. Dari situ, muncul bahasa yang beragam di tiap wilayah. Namun, seiring perkembangan masyarakat, berkembang pula model bahasa yang tak cukup dengan identifikasi bunyi. Dunia memandang perlu bahasa isyarat untuk masyarakat difabel rungu.

Setiap kali ada kegiatan yang menghubungkan antara difabel Tuli dengan masyarakat umum, baik secara luring, seperti seminar, sekolah maupun secara daring seperti menonton TV atau berselancar di dunia maya yang menampilkan video audio visual, membutuhkan seorang juru bahasa isyarat atau teks sebagai pengganti dari informasi suara yang dikeluarkan.

Penggunaan isyarat yang biasa digunakan di Indonesia ada dua model, yaitu Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo) dan Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI).

Profesi sebagai juru bahasa isyarat merupakan pekerjaan yang sangat mulia, karena dengan cara ini seseorang bisa berbagi dengar dengan teman Tuli. Setiap orang yang mempunyai hati dermawan bisa turut membantu teman Tuli menjadi seorang penerjemah atau interpreter.

Salah satunya adalah Rizwan Hermawan (27) asal Kota Bandung yang turut ambil peran dalam memainkan gerakan tangan dan wajah untuk membantu teman Tuli dalam menyerap rangkaian informasi yang dibutuhkan. Ketertarikan Rizwan terhadap dunia difabel dimulai ketika acara Hari Anti Korupsi Internasional tahun 2015 yang diselenggarakan di Bandung.

“Saya waktu itu menjadi salah satu pendamping di acara tersebut, ketika ada divisi sahabat difabel, saya sangat tertarik karena waktu itu belum tau apa itu difabel atau disabilitas, ketika saya masuk menjadi relawan, saya diberi arahan tentang ragam atau jenis disabilitas dan saya pun memilih untuk masuk divisi ragam disabilitas Tuli. Itu karena bahasa isyarat menurut saya menyenangkan. Setelah itu saya diarahkan untuk mengikuti kelas bahasa isyarat rutin di di sebuah organisasi disabilitas Tuli yang bernama Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin) yang dulu sekretariatnya di Cicendo. Mulai dari situlah saya terus memperdalam bahasa isyarat sampai menjadi profesi yang saya geluti sekarang.” ungkap Rizwan.

Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui, pepatah yang cocok untuk Rizwan yang memiliki hobi dan menghasilkan imbalan dan juga pahala kebaikan. Setelah menguasai bahasa isyarat, Rizwan tergabung dalam lembaga Pusat Layanan Juru Bahasa Isyarat Indonesia dan aktif menerjemahkan sejak 5 Mei 2016.

Dalam mempelajari sebuah bahasa, tidak seperti membalikan telapak tangan, tentu saja ada tahap dan tingkat pembelajaran. Dalam bahasa isyarat, di setiap daerah memiliki tingkatan yang berbeda-beda. “Pas saya belajar isyarat itu ada 10 tingkatan, dulu saya baru sampai di tingkat 7 tapi sudah ditarik menjadi relawan juru bahasa isyarat. Karena seringnya menerjemahkan bahasa isyarat dan terbiasa melakukannya maka saya disarankan untuk tidak melanjutkan pelatihan karena materinya sudah dianggap dikuasai.” tutur Rizwan.

Tidak bisa dibayangkan ketika seorang penerjemah bahasa isyarat bekerja. Mungkin seorang penerjemah bahasa asing hanya fokus pada pendengaran, mengolah informasi, dan menerjemahkan melalui mulut. Sangat berbeda dengan bahasa isyarat, seorang penerjemah harus benar-benar fokus memainkan bahasa tubuhnya agar mudah dimengerti oleh teman Tuli yang melihatnya. Beberapa kesulitan yang pernah dialami Rizwan apabila acara yang dihadiri harus mendadak dan tidak diberikan materi presentasi terlebih dahulu. Belum lagi materi yang diberikan terasa awam sehingga sulit untuk dikonsepkan ke dalam bahasa isyarat. Kesulitan yang lain ketika harus menerjemahkan sebuah informasi audio yang dipaparkan oleh teman dengar dengan tempo yang cepat, karena terkadang banyak pembicara yang tidak memperhatikan adanya seorang penerjemah bahasa isyarat yang kelimpungan menerjemahkan bahasanya yang sangat cepat ke dalam bahasa isyarat.

Penggunaan bahasa isyarat merupakan perwujudan dari sikap anti diskriminasi karena membantu mendemokratiskan ilmu pengetahuan dan informasi untuk difabel Tuli. Maka dalam tiap acara wajib menggunakan bahasa isyarat.

Khusus dengan teman Tuli, teman dengar harus paham dan mengenal bahasa isyarat. Pada umumnya konsep mengenal bahasa terletak pada bagaimana kita sering menggunakan bahasa tersebut. Semakin sering digunakan maka akan semakin lancar melakukannya. Sekarang di Jawa Barat sudah ada Pusat Bahasa Isyarat Indonesia (Pusbisindo). Jika ingin belajar bahasa isyarat, Pusbisindo memiliki akun Instagram di @pusbisindo, atau bisa menghubungi Refina di 081289550196.

Diharapkan dari wadah tersebut bisa melahirkan penerjemah bahasa isyarat yang baru ataupun hanya sekadar membuka peluang pertemanan antara difabel dan nondifabel.

“Jumlah juru bahasa isyarat di Jawa Barat masih terbilang minim, ada beberapa yang bisa berbahasa isyarat, namun tidak mendalami peran sebagai juru bahasa isyarat.” sambung Rizwan.