Pengalaman Difabel Netra Ketika Mengandung Anak Pertama

0
559

Penulis: Zaenal

Newsdifabel.com — Memiliki buah hati merupakan harapan setiap orang yang sudah menikah, tidak terkecuali juga terjadi dan dirasakan oleh seorang difabel. Bagi seorang difabel netra, sering terjadi dengan hadirnya seorang anak sangat ditunggu-tunggu karena ketika anak tumbuh besar diharapkan sang buah hati bisa menjadi mata untuk kedua orang tuanya.

Perasaan senang bercampur sedih dan khawatir kepada pasangan difabel netra, Wigia Desi Amalia dan Arif Zainal Abidin yang mendapatkan momongan di kala pandemi. Selain itu Wigia yang juga seorang terapis pijat shiatsu sedikit cemas karena harus mengonsumsi obat pelancar menstruasi yang disebabkan menstruasi setiap bulannya tidak lancar. Karena keinginan memiliki buah hati membuat keluarga kecil ini sering berkonsultasi ke dokter.

Sebagai seorang difabel netra, Wigia bercerita tidak ada hal yang terlalu berbeda dalam menjaga kandunganya tetap aman. Sama seperti perempuan pada umumnya, istirahat yang cukup dan konsumsi makanan bergizi adalah hal utama untuk membuat anak yang dikandung tumbuh sehat. Mungkin yang perlu diperhatikan hanyalah bagaimana berjalan dan beraktivitas di tempat yang licin ketika hujan. Bagi mereka yang melihat bisa berjalan dengan pelan dan sambil melirik ke bawah menghindari lubang atau daerah yang licin sehingga dapat mengurangi risiko terjatuh atau terpeleset. Berbeda dengan difabel netra yang harus mengandalkan tongkat saat berjalan dan harus lebih perlahan berjalan di permukaan licin atau pada saat beraktivitas di kamar mandi.

Sebagai seorang terapis pijat, ketika Wigia mencium aroma tak sedap membuat penciuman Wigia yang makin sensitif menjadi mual. Hal tersebut tentu saja akibat dari efek mengandung. Meskipun sekarang usia kandungan Wigia mencapai 4 bulan tidak membuatnya terganggu dalam bekerja. Hanya saja mungkin Wigia lebih cepat merasa pegal-pegal di daerah kaki dan pinggangnya.

Orang tua Wigia merasa khawatir dengan anaknya, khas kekhawatiran orang tua karena itu adalah cucu pertamanya. Wigia dan Arif tinggal dan bekerja di Kota Bandung sedangkan orang tua mereka berada di Purwakarta dan Ciamis. Hal ini membuat orang tuanya sering menelepon dan sesekali berkunjung memberikan perhatian. Kata Wigia, orang tua memang masih belum bisa lepas dari yang namanya mitos, terutama mitos terhadap makanan ataupun perilaku bagi ibu hamil. Tapi itu kembali kepada mereka yang mau percaya ataupun tidak, yang penting baginya, bayi bisa lahir selamat dan sehat.

Karena ini adalah anak pertama dan merupakan hal yang baru bagi Wigia, membuatnya memutuskan untuk melakukan persalinan di rumah orang tuanya di Purwakarta. Wigia ingin belajar kepada ibunya bagaimana mengurus bayi. Dari memandikannya, memakaikan popok, membersihkan anaknya ketika buang air, dan lain-lain. Mau tidak mau Wigia harus keluar dari pekerjaannya sementara waktu untuk mengurusi anak sampai tumbuh besar dan bisa dibawa bepergian.

Tidak hanya karena pandemi, melepaskan pekerjaan membuat Wigia menjadi dilema. Ada beberapa kasus yang terjadi, ketika seorang difabel netra harus menyerahkan anak kepada orang tuanya untuk dirawat dan dibesarkan. Hal demikian tidak lepas dari faktor ekonomi yang membuat ayah dan ibu sang anak harus bekerja. Berbeda dengan orang pada umumnya, ada yang bisa bekerja sambil mengurusi anaknya.

Seperti seorang ibu pada umumnya, Wigia berharap bisa lancar dalam persalinan, ibu dan bayinya selamat. Selain ingin menjadi orang tua yang baik dengan segala keterbatasannya, rezekinya juga bisa dilancarkan mengingat kebutuhan kebutuhan bayi yang cukup banyak.