Pengajian Tarjih tentang Fikih Difabel 

0
640

Penulis: Delia 

Newsdifabel.com — Dikutip dari situs wikipedia, fikih adalah salah satu bidang ilmu dalam syariat Islam yang secara khusus membahas persoalan hukum yang mengatur berbagai aspek kehidupan manusia, baik kehidupan pribadi, bermasyarakat maupun kehidupan manusia dengan Allah Swt.

Dalam perkembangannya ilmu fikih khususnya fikih difabel akan terus dikaji oleh pakar-pakar ilmu fikih baik di Indonesia maupun di dunia. Kali ini untuk menyampaikan informasi seputar fikih difabel tersebut diadakanlah pengajian tarjih muhammadiyah dengan narasumber Ustaz H. Ali Yusuf yang merupakan anggota divisi fatwa dan pengembangan tuntunan majelis tarjih dan tajdid PP Muhammadiyah.

Fikih difabel yang merupakan hasil dari Musyawarah Nasional Tarjih ke-31 ini berisi tentang penamaan atau sebutan serta nilai-nilai dan prinsip-prinsip dasar untuk difabel.

Dikatakan dalam Al-Qur’.an, Surah Abasa, sebutan untuk difabel netra adalah “ahma“, untuk difabel tuli adalah “bukmun” atau “afkad” dan “a’som” atau “sumun” , sedangkan untuk difabel daksa disebut sebagai “a’raj“, “akta“, dan “syalam“. Sedangkan dalam istilah bahasa Arab difabel disebut juga sebagai “almuawwiqun” atau “zuldiaqoh“.

Dikatakan bahwa penetapan sebutan untuk orang-orang dengan kekurangan fisik ini sebagai difabel. Menjelaskan bahwa hasil dari musyawarah nasional yang terbaru ini memiliki kerangka dasar dalam fikih difabel, di antaranya yaitu memiliki nilai-nilai tauhid, keadilan, dan kemaslahatan.

Pertama, dari nilai tauhid bahwasanya setiap makhluk hidup adalah ciptaan Allah Swt. sehingga jika seorang yang beriman kepada Allah Swt. maka dia sudah selayaknya menghargai setiap orang yang ada di dunia baik yang terlahir sempurna maupun yang memiliki kekurangan, perbedaan, dan kelebihannya masing-masing.

Sedangkan dari nilai-nilai keadilan adalah setiap orang yang lahir ke dunia adalah sama, di mata Allah Swt. yang membedakan hanyalah amal ibadah seseorang, sehingga di hadapan Allah Swt. tidak ada perbedaan atau setiap makhluk hidup memiliki kesetaraan, untuk itu wajib melaksanakan tugas dan kewajibannya seperti beribadah sesuai dengan kapasitas kemampuan masing-masing tanpa terkecuali itu adalah seorang difabel.

Sedangkan maksud dari nilai-nilai kemaslahatan ialah rahmat Allah Swt. itu luas sehingga setiap manusia pasti akan mendapatkan rahmatnya. Dalam pemenuhan hak-hak tersebut, seorang difabel tidak boleh minder dalam keseharian baik bekerja dan mencari nafkah karena Allah Swt. sudah pasti akan memberikan rahmatnya tapi tentu saja dengan jalan ikhtiar terlebih dahulu.

Ustaz Ali Yusuf menyampaikan kajian melalui aplikasi Zoom dan YouTube Channel.

Prinsip-Prinsip Dasar Fikih Difabel

Pertama ada prinsip kemuliaan, dimana manusia merupakan makhluk yang sangat mulia dari makhluk lain sehingga sangat dilarang untuk melukai atau menghilangkan seorang manusia yang difabel, meskipun seorang manusia itu adalah difabel, tetap saja statusnya lebih mulia dari makhluk Allah Swt. lainnya.

Kedua adalah prinsip inklusifisme yang berarti kesetaraan dan tidak membeda-bedakan. Semua manusia di hadapan Allah Swt. sama dan tidak boleh membeda-bedakan baik ras, suku, agama apalagi dari kedifabelannya. Tujuan penciptaan perbedaan tersebut dimaksudkan untuk keharmonisan dan keberagaman bukan untuk memisahkan atau membeda-bedakan.

Ketiga adalah prinsip pedoman praktis yang meliputi hak asasi manusia, hak hidup bermartabat, dan pengembangan riset dan teknologi. Fikih difabel ini juga membahas tentang ibadah, dimana dalam ibadah, difabel masih terkendala dengan aksesibilitas tempat-tempat ibadah, selain itu dalam kesempurnaan ibadah dibutuhkan pemahaman ilmu atau pendidikan dalam mencapai kesempurnaan ibadah.

Dalam menuntut ilmu atau tholabul ilmi ini biasanya didapatkan melalui sekolah-sekolah, perguruan tinggi atau pesantren. Sama halnya seperti tempat ibadah, masih banyak tempat menuntut ilmu yang belum aksesibel terhadap difabel ketika ingin memperdalam ilmu agama yang jadi tanggung jawab besar bagi penyelenggara tholabul ilmi itu sendiri.

Fikih difabel yang terakhir adalah menyangkut persoalan pelayanan dan solusi yang meliputi difabel sebagai subjek hukum, difabel sebagai saksi hukum, hak hidup tumbuh kembang, hak sipil, dan hak perlindungan.

Untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita terhadap Allah Swt. maka sangat penting untuk kita mengetahui dan menyebarkan informasi fikih difabel ini kepada khalayak umum dengan tujuan keharmonisan, kesetaraan, dan kelancaran dalam hidup bermasyarakat dan beragama.