Pengabdian Pelatih Cabor Atletik Difabel

0
245

Oleh: Agus Maja

[Bandung, 30 September 2020] Pada tahun 1948, Ludwig Guttmann menyelenggarakan kompetisi olahraga dengan melibatkan veteran Perang Dunia II yang mengalami cidera fisik paska perang. Disusul Belanda, Roma, Swedia, yang bergabung dalam Olimpiade hingga kemudian dikenal dengan Paralympic Movement.

Rentang waktu sejarah panjang keberadaan Paralympic Movement terus mengalami perkembangan dan perluasan partisipasi, termasuk kini di Indonesia juga memiliki atlet-atlet difabel berbakat.

Banyak prestasi yang diukir oleh para difabel dalam bidang olahraga, mereka bersaing sesuai klasifikasi serta tingkat hambatannya. Di balik prestasi yang dicapai maka hal itu tak lepas dari peran dan bimbingan seorang pelatih.

Adalah M. Suradin salah satu pelatih atletik difabel di NPCI Kota Bandung yang mengawali karir kepelatihannya sejak tahun 2008 hingga saat ini. Pernah menjadi koordinator seleksi atletik NPCI Kota Bandung tahun 2017.

“Saya mencari tantangan baru karena itu adalah salah satu bentuk syukur sebab masih dikaruniai fisik yang lengkap”, tutur Suradin. Ia juga mengungkapkan “Pada saat awal melatih, saya harus banyak mempelajari tentang difabel, saya harus beradaptasi dengan mereka, saya harus mengetahui cara hidup seorang difabel, dan hal ini saya lakukan selama satu tahun dengan tujuan agar bisa menerapkan strategi dan metode yang tepat intuk melatih difabel dalam cabor (cabang olah raga—ed) atletik”.

Selain itu Suradin juga mengatakan, “Hasil dari tantangan dan bekerja semata-mata karena ibadah. Pada Peparda tahun 2010, alhamdulillah hasilnya memuaskan, dan NPCI Kota Bandung menjadi juara umum serta cabor atletiknya pun mendapatkan predikat juara umum”.

Baca: Jangan Lelah Mengabdi demi Meraih Mimpi

Latar belakang pendidikan Suradin adalah Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan (FPOK), masuk kuliah di tahun 1997. Pada awalnya ia melatih anak-anak usia dini, remaja, dan junior dengan cabor atletik. Menjadi pelatih atlet difabel tentu sangat berbeda dan ia pun hingga saat ini banyak klasifikisai atletik yang ia bina di antaranya sprin, lempar lembing, lari. Atlet yang dilatihnya ialah difabel tuli (hambatan bicara dan pendengaran), difabel netra, difabel grahita, dan difabel daksa. Total atlet keseluruhan yang ia bina mencapai 130 atlet.

Selain itu ada satu atlet yang dibinanya meraih prestasi international, hingga mengikuti kejuaraan Asian Para Games serta Olympide. Atletnya bernama Halim, seorang difabel netra. Saat ini Halim sudah pensiun sebagai atlet karena usia, dan menjadi staf Kemenpora RI.

Selain tantangan membina atlet difabel, Suradin juga menyoroti hambatan serta kendala yang dialami hingga saat ini. “Kami kekurangan SDM untuk mendampingi atlet difabel netra yang totaly blind, fasilitas yang belum ramah difabel serta masih menggunakan lapangan latihan bersama atlet umum (non difabel). Terkadang jadwal kami bentrok dengan mereka sehingga kami yang mengalah, dan tentu itu mempunyai dampak kepada atlet saya, kepanasan dan menunggu terlalu lama.”, kata Suradin.

“Kami ingin mempunyai jadwal yang tidak bentrok, serta latihan tidak terus di siang hari.” keluh Suradin. Oleh karena itu, Suradin berharap pemerintah memperhatikan dan memperbaiki fasilitas bagi difabel, baik aksesibilitas olahraga maupun sarana umum yang ramah bagi difabel. Sebab masih banyak penyalahgunaan fasilitas umum oleh masyarakat untuk kepentingan pribadi seperti berjualan di trotoar, dan sebagainya. Dalam waktu dekat Suradin akan menghadapi Peparda. Semoga pemerintah dan NPCI Kota Bandung bisa tetap selaras serta terus mendukung upaya peningkatan prestasi NPCI Kota Bandung.