Peluang Barista bagi Difabel Netra

0
423

Oleh: Sri Hartanti

[Bandung, 15 Maret 2019] Profesi barista kini mulai dirambah para difabel. Secara umum, seni meracik kopi ala kafe ini lebih didominasi oleh difabel tuli. Akan tetapi, sekarang profesi barista akan mulai dapat ditekuni para difabel netra. Mereka akan mendapatkan pelatihan langsung dari ahlinya selama empat bulan, dan memiliki peluang besar untuk penempatan kerja secara profesional sebagai barista.

Rabu siang (13/3/2019) penandatanganan kerja sama program pelatihan barista untuk difabel netra Indonesia – Korea melalui Kementrian Sosial RI dengan Siloam Center, dilakukan di salah satu ruangan komplek Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Sensorik Netra (BRSPDSN) Wyata Guna Jalan Pajajaran Bandung.

Pada kesempatan tersebut, Dong IC Choi selaku Sekertaris Jendral Siloam Center for the Blind, Korea menyampaikan, kerja sama tersebut merupakan kali pertama di Indonesia setelah sukses menggelar kerja sama serupa di negara lain. Selain memberikan pelatihan barista kepada enam difabel low vision, pihaknya juga memfasilitasi semua alat kerja pendukung serta menyediakan langsung barista asal Korea yang akan mendidik mereka.

Sudarsono, Kepala Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Sensorik Netra (BRSPDSN) Wyata Guna juga memaparkan, pelatihan barista yang akan diselenggarakan di ranah kerjanya ini memang baru dapat diakses oleh para low vision. Kendati demikian, pelatihan barista untuk yang memiliki hambatan pengelihatan merupakan hal baru di lingkungannya.

Semoga hasil dari pelatihannya dapat memberikan dampak positif dan menambah kemampuan keterampilan para difabel netra khususnya low vision. Harapannya, dengan memiliki profesi barista akan membantu peluang kerja yang lebih luas lagi untuk mereka,” ungkap Sudarsono.

Senada dengan yang diungkapkan pihak Korea, para barista ini nantinya akan mendapatkan peluang kerja di kedai kopi maupun kafe yang ada di Bandung. Untuk angkatan perdananya, calon barista yang akan mendapatkan pelatihan selama empat bulan baru sebanyak enam orang, satu di antaranya laki-laki, lima lainnya perempuan.

Untuk jadwal waktu pelaksanaan pelatihannya masih diolah oleh tim Wyata Guna,” pungkas Sudarsono.